Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Oh Ternyata....


__ADS_3

Alex menatap ke arah wajah Zicko penuh waspada, dia tahu jika anak buahnya itu ingin sekali tersenyum tetapi takut dengannya.


"Cih! jika aku sebuah lelucon, tersenyum juga tidak masalah Zicko! aku tidak akan marah. Mana ada bos mafia memakai piyama waktu mengeksekusi musuh!" Alex menunduk dan tersenyum geli, ia merasa dirinya kocak.


Zicko tidak ingin membahas lagi perkara tentang piyama karena pada intinya, Alex akan tetap bos mafia meskipun memakai baju apapun.


"Bos yang terbaik!" Zicko tanpa sadar tersenyum dan memalingkan wajahnya.


Alex menepuk pundak Zicko, seraya berkata," Senyummu manis juga, segera lamar Jihan, dia tidak mau menunggu terlalu lama." Sang mafia berjalan menjauhi Zicko yang mungkin sedang bergelut dengan perasaannya sendiri.


"Jihan, bahkan aku lupa jika usiaku sudah lebih dari cukup untuk menikah. Ehm! baiklah, ucapan bos Alex akan ku pertimbangankan," tukas Zicko yang langsung mengekor langkah Alex.


Sang mafia masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu untuk mengganti bajunya, setelah urusan piyama usai, Alex berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang peradilan.


KLEK!


Sang mafia melihat dua penguntit yang telah babak belur di hajar Franklin, cahaya lampu temaram membuat keduanya terlihat semakin menyedihkan.


Mereka duduk di kursi dengan posisi saling membelakangi, kedua tangan dan kakinya terikat tali.


Alex semakin dekat dengan dua pria malang itu.


"Masih ingin bermain rupanya," ucap Alex sambari mengangkat dagu salah satu penguntit, wajah pria itu terlihat samar-samar tepat di bawah cahaya lampu, di sana terpampang nyata darah yang mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya.


"Ckckck, pasti ini sakit sekali," sambung sang mafia sembari menepuk pipi sang penguntit.


"Alex Fernando brengsek! apa tujuanmu membunuh anggota kami! ha?" Sang penguntit bahkan mulai memprovokasi sang mafia.

__ADS_1


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya sang mafia yang belum memahami ucapan pria bodoh di depannya.


"Kami telah bersedia bergabung bersamamu, tapi kau bunuh anggota kami, bahkan kau juga membakar hidup-hidup gadis dari kalangan kami." Sang penguntit memberikan clue yang lebih jelas, kini Franklin yang mencoba menjabarkan keterangan dari si penguntit.


Memory sang mafia terbuka, dia mulai terbang ke masa lalu saat dirinya bertemu dengan sebuah geng bernama Fire Blue.


Flashback : on


Tiga tahun yang lalu, markas utama Death Angel.


Hari Senin, pukul 04.00 waktu setempat.


Pagi itu gerimis, waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Terdengar suara mobil berhenti di depan markas.


"Ampun bos, ampuni aku!" Suara seorang gadis nyaring terdengar meminta pengampunnan kepada sang mafia. Tetapi bos Death Angel itu tidak bergeming.


"Gadis yang tidak tahu diri, menuduhku berbuat asusila kepadamu! padahal aku sudah menganggapmu seperti saudara perempuanku sendiri," ucap sang mafia penuh amarah.


Alex dengan yakin menembak kepala pria yang telah tega membunuh bayi yang baru lahir di karenakan dendam pribadi. Padahal Alex hanya meminta untuk membawa bayi itu kepadanya, karena ibu dari bayi itu adalah seorang isteri dari sekutu yang berkhianat. Dia hanya ingin menyelamatkan bayi itu.


Sedangkan sang gadis telah melakukan kesalahan dengan menggoda dirinya, dia bahkan dengan lancang masuk ke dalam kamar sang mafia. Dia menuduh sang mafia tengah menidurinya. Karena si gadis terlalu amatir, Alex mampu meringkus dan segera di basmi di saksikan oleh para anak buahnya, CCTV juga menayangkan video yang menunjukkan si gadis ingin memperkosa dirinya.


Eksekusi keduanya di lakukan di sebuah tempat khusus yang di gunakan untuk membakar dan membunuh para pengkhianat.


'Hukuman untuk orang yang berikrar setia, namun tak menepatinya,' batin sang mafia.


Flashback : off

__ADS_1


"Oh...ternyata kau adalah bagian dari orang-orang Fire Blue? bagus! kita bertemu lagi. Setelah ini, aku ingin tahu apa yang akan bosmu lakukan saat kalian tiada? rumor apa kira-kira yang akan dia sebar tentangku," ucap sang mafia menantang para musuh secara nyata.


"Cuh!" Salah satu penguntit meludah ke arah Alex, sang mafia hanya tersenyum.


"Ck, dua pria bodoh yang terbakar api dendam tanpa tahu seluk beluk permasalahannya." Alex mengusap wajah yang terkena ludah musuh menggunakan lengannya.


"Kau brengsek Alex Fernando! ini semua karenamu! aku ingin membunuhmu! kami berdua akan memastikan kau ke neraka, baji*ngan!!!" Dua orang penguntit yang keras kepala, bahkan berusaha melepaskan diri dari tali yang melilit tangan dan kakinya, suara ke empat kaki kursi terdengar bertumbukkan dengan lantai.


"Silahkan jika kau mampu! melepaskan diri dari lilitan tali saja tidak becus! bagaimana mau di sebut musuh yang berbahaya?" Alex masih tenang dalam menghadapi dua musuhnya.


Sang mafia belum ingin membunuh keduanya karena akan membuat sebuah rencana untuk meringkus semua anggota serta bos Fire Blue.


"Suntik mereka berdua dengan obat penenang Frank! aku sudah muak melihat kawan dari para pengkhianat masih bermulut besar!" perintah sang mafia.


Frank mengambil alat suntik dan satu botol kecil berisi cairan obat penenang. Perlahan Frank memasukkan jarum ke dalam botol kecil tersebut, perlahan alat suntik itu telah terisi cairan obat yang akan membuat kedua penguntit bungkam untuk beberapa waktu.


"Sialan kau Lex! bunuh saja aku! mengapa harus..." Belum sempat sang penguntit melanjutkan ucapannya, Frank telah menyuntikkan cairan obat penenang di lengan masing-masing musuh.


"Beres bos!" lapor sang anak buah.


"Terbaik kau Franklin! setelah ini, kau pancing para musuh datang ke markas. Nanti kita siap-siap bernegosiasi, bos Fire Blue memiliki banyak hal yang menguntungkan kita. Salah satunya, pulau permata di perairan kota timur." Sang mafia mencoba memanfaatkan situasi ini, pulau permata harus berada di tangan yang tepat. Dia merasa jika Guru Fu Renzo adalah orang yang seharusnya menjaga pulau yang menjadi incaran perompak dan para bajak laut. Tetapi karena pengaruh Blue Fire, pulau itu aman terkendali.


Setelah usai dengan urusan di markas utama, sang mafia menyerahkan beberapa tugas penting kepada Franklin.


"Kau sanggup kan?" tanya sang mafia.


"Sanggup! ada Zicko, Erland dan Jiho. Mereka akan membantuku menyelesaikan segalanya." jawab Franklin meyakinkan kepada sang mafia bahwa para anggota Death Angel mampu bersatu melaksanakan tugas dari sang bos dengan baik.

__ADS_1


"Terimakasih untuk kalian yang masih setia bersamaku di Death Angel. Tetaplah seperti ini," pinta sang mafia sembari menepuk pundak Franklin.


"Siap bos! kami sudah bersumpah setia! kami akan melakukan segala hal yang terbaik untuk Death Angel." Sang anak buah mampu menunjukkan kredibilitasnya.


__ADS_2