Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Kita menyatu


__ADS_3

“Baby, kau jangan marah ya? aku kan tidak sengaja melakukannya. Semua karena kebetulan saja aku terluka, ada banyak musuh di depanku, aku harus melindungi diriku. Makanya aku terluka,” jelas sang mafia yang tidak akan mampu membuat Laras luluh.


“Bermimpilah yang manis setelah ini, aku akan menemanimu tidur.”


Laras bangkit dari posisi duduknya dengan membawa kotak obat kemudian meminta Alex yang telah selesai mendapatkan pengobatan darinya untuk istirahat di atas ranjang.


Alex menurut ucapan sang istri.


Kini tubuh kekar sang mafia berada di atas ranjang dengan dada bidang yang terlihat menawan meskipun banyak luka.


Laras meletakkan kotak obat pada tempatnya semula dan naik ke atas ranjang, tangan mungilnya kemudian memeluk tubuh kekar itu.


Terdengar suara isak tangis sesenggukan.


“Kau menangis?” tanya Alex yang hanya bisa diam saat sang istri memeluknya.


“Kau kira aku sedang tertawa?” jawab Laras ketus.


“Aku tidak suka kau terluka, kau tahu itu kan?”


Laras mendongak ke arah wajah sang suami yang pandangan matanya mulai sayu itu. Dia tidak mampu menahan diri lagi.


Dia menarik dagu sang istri kemudian mengecup bibir ranum itu mesra. Kiss kali ini lebih kepada penghayatan yang abadi, keduanya merasakan rindu yang menggebu saat keduanya bertukar saliva dengan lidah yang saling melilit.


Begitu intim dan menyenangkan hati Alex. Gadis cantik yang semula hanya dalam khayalannya, kini sudah menjadi miliknya seutuhnya.


Tidak ada yang boleh memilki Laras, Justin yang notabene adalah kakak kandungnya, tidak mendapatkan ampun darinya. Dia akan menghibisi siapapun yang ingin merebut Laras dari tangannya.


....


Pertautan bibir yang hebat itu terlepas.


Netra keduanya saling menatap.


“Baby, kau sedang mengandung anak ke enam ku, jangan terlalu banyak kegiatan, apa perlu aku menemanimu seperti saat kau mengandung baby A?” pinta sang mafia dengan wajah sok imutnya.


“Tidak perlu, aku sudah berpengalaman dalam mengurus anak. Apalagi ada ayah dan ibu di rumah. Semuanya akan baik-baik saja,” jawab Laras dengan nada suara yang lembut.


“Baby, kau memang mudah belajar ya? mengurus lima baby tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat ku lihat anak-anak semakin aktif, aku merasa melihat masa kecilku di sana.” Alex mengakui jika masa kecilnya dengan masa kecil anak-anaknya hampir sama. Keduanya memiliki kemiripan dari segi tingkah laku, keusilan serta kepo.

__ADS_1


Tapi Alex sangat senang diantara kelima anaknya tidak ada yang ingin menjadi mafia sepertinya meskipun Alexis sangat ingin menjadi tokoh X di film kartun yang pernah ia tonton bersama sang ayah. Tokoh X menggambarkan seorang penjahat, tapi ia selalu membela yang lemah dan menolong orang lain yang membutuhkan.


Saat itu Alexis sangat menggumi tokoh X tersebut.


Tapi Alex langsung meminta Alexis menonton kartun yang lain tentang astronot.


Syukurlah, sejak saat itu, Alexis tidak mengatakan lagi ingin menjadi tokoh X.


“Kau dan mereka memang mirip denganmu, terutama Alexis,” ucap Laras sembari menahan tawa.


“Dia memang paling mirip denganku, baby peluk aku yang erat. Rasanya dingin di sini,” ucap Alex manja.


Laras kemudian meraih selimut tebal, kemudian menutup tubuh sang mafia dengan itu.


“Kau bisa mengambilkan aku kaos, tetapi mengapa tidak kau lakukan?” tanya Alex penasaran.


“Aku ingin menjadi kain yang menyelimuti tubuhmu, semacam pelindungmu,” jawab Laras dengan senyum malu-malunya.


“Kau romantis juga baby, apa kau tidak ada rencana untuk memuaskan hasrat suamimu yang sudah di ubun-ubun ini?”


Sang mafia mulai meminta pertanggung jawaban atas ciuman panas yang Laras berikan untuknya.


“Haha, tunggu kau sembuh dulu, lenganmu nanti kram lagi, tidak jadi nikmat lah,” protes Laras yang melihat pengalaman sebelumnya.


Sebenarnya dia juga ingin melampiaskan hasrat yang terpendam, tetapi dia kasihan saat sang suami dengan luka tembak dan tubuh lebam melakukan ritual olah raga harian yang jarang keduanya lakukan setelah lahir kelima baby kembarnya.


“Please baby! tolonglah aku! Aku merasa kering kerontang jika tidak mendapatkannya hari ini juga,” ucap Alex merayu.


Alex sangat gemas hingga dia kembali melahap bibir ranum itu dengan tangan masuk ke dalam kaos Laras.


Dia menyibakkan kaos sang istri sampai setinggi dada. Tanpa basa basi, dia langsung melahap dua gundukan indah yang mampu membuatnya candu.


Laras memejamkan matanya saat sang mafia memainkan pucuk ranum pegunungan itu.


Memilin hingga memijatnya secara teratur hingga mengakibatkan suara indah itu menggema ke seluruh ruangan tanpa ada yang mampu mendengarnya selain mereka berdua karena ruangan itu kedap suara.


Alex sengaja mendesign kamar utama dengan kedap suara karena tempat itu memang diperuntukkan untuknya menjamah sang istri.


“Lex, cukup.” Laras sangat menikmati sensasi pijatan manja ala-ala sang suami di dadanya yang besar dan menonjol itu.

__ADS_1


Kali ini dia tidak akan menolak lagi untuk melakukan penyatuan karena Laras benar-benar menikmati sentuhan sang mafia di dadanya.


Dia menjambak rambut Alex dan membenamkan wajahnya di area buah kenyal miliknya.


Mulutnya boleh menolak, tetapi tubuhnya menerima saja kala mulut nakal Alex mengulum pucuk itu sesekali dengan lidahnya yang memutar di area sensitif itu.


Tak terasa forepla*y yang biasa keduanya lakukan telah usai, kini dia mulai menyibak lembah yang lebih dalam.


Alex melepaskan helai kain yang masih menempel di tubuh keduanya kemudian kembali mengecup bibir itu dengan penuh gairah.


Sang mafia menempatkan tubuh sang istri di bawah kungkungannya agar dengan mudah ia menyatukan kenikmatan yang hakiki.


“Are you ready baby?” tanya sang mafia sesaat


ingin melakukan penyatuan dengannya.


“Ready!”


Seketika itu juga, rudal bos mafia telah masuk perangkap yang memabukkan. Gerakan naik turun yang berirama namun tak ekstrim sebelumnya.


Sang istri sudah mengeluarkan banyak peluh namun tidak ada tanda-tanda yang muncul mengenai dirinya yang harus segera menuntaskan hasratnya.


Hingga dia mulai mempercepat tempo gerakannya.


Sepersekian detik kemudian Alex roboh di samping tubuh polos sang istri, keduanya melepaskan hasrat itu secara bersama-sama.


Keduanya memutuskan untuk berbaring sejenak setelah sebelumnya melakukan penyatuan yang lama tak mereka lakukan.


“Lex, apa lukamu baik-baik saja? kau bermain seolah kau sehat saja!” Laras merasa pinggangnya begitu pegal.


Dia mengeluh kepada Alex kemudian ia berkata,” Lanjut di kamar mandi ya baby? belum puas aku. Tiga kali lagi ya?”


Alex Fernando memang tidak ada matinya di dunia mafia maupun kenikmatan surgawi.


Dia selalu menjadi yang terdepan.


“Kau ingn aku kelelahan dan tidur setelah ini ya?” jawab Laras.


Dia selalu mengatakan hal itu sampai sang suami mengampuninya dan tidak mengajaknya bertempur kembali.

__ADS_1


....


__ADS_2