Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 122


__ADS_3

Di kota utara, tempat kejadian pembunuhan terjadi...


Richi menunggu sang kepala polisi yang akan segera datang, dia meminta timnya untuk mencari bukti yang lain tentang pelaku pembunuhan itu.


"Richi, aku tidak menemukan bukti yang lain," ucap salah satu anggota Death Angel.


"Tak apa kawan, pisau lipat saja sudah cukup," jawab Richi.


Sepuluh menit kemudian, datang dua buah mobil yang menuju ke tempat kejadian perkara yang berada di depan sebuah rumah kosong. Richi menghampiri mobil itu dan menemui sang pengemudi.


"Tuan, mengapa kau baru saja datang? pegal rasanya menunggu kedatanganmu," gerutu Richi.


"Tadi macet, aku harus putar balik," jawab tuan Hans.


"Kau kan polisi, jalan adalah wilayah kekuasaanmu, mengapa tidak langsung saja?" tanya Richi.


"Aku polisi yang bermartabat, tidak seperti mafia seperti kau! tidak tahu aturan!" jawab tuan Hans kesal.


"Haha, jangan terlalu sensitif! calm down!" ucap Richi.


"Iya, kau bantu aku menyelidiki kasus ini, kau kan sudah tidak sabar ingin tahu siapa pelakunya," ledek tuan Hans.


"Turun dari mobilmu, beri perintah tim forensik untuk memeriksa mayat yang mengenaskan itu," pinta Richi.


"Iya, kau ini berisik sekali!" ucap tuan Hans yang bosan mendengar Richi yang banyak bicara.


Tuan Hans turun dari mobilnya dan meminta tim forensik untuk memeriksa kondisi mayat pemuda malang itu.


"Ini perbuatan orang biadab, tidak pernah ada pembunuhan sesadis ini, hampir semua bagian vital pemuda ini robek, pelakunya seperti orang yang terkena gangguan jiwa," terka salah satu tim forensik.


"Tuan Hans, tugasmu kini sangat berat, apakah kau akan meremehkan ku yang mafia ini? mereka kebal hukum tuan kepala polisi, hukuman untuk mereka adalah kematian yang pedih, kau mampu melakukannya?" ledek Richi.


"Iya, aku tahu, kau menang kali ini, aku ikut caramu saja, apalah arti seorang penegak hukum yang tak berdaya sepertiku ini, hanya butiran debu bagi kalian para pelaku dunia hitam," jawab tuan Hans merendah.

__ADS_1


Richi menahan tawanya, dia memang mafia, tapi masih memiliki etika, tidak mungkin terbahak-bahak di depan mayat pemuda yang tewas secara tragis.


Tim forensik membawa mayat itu ke dalam mobil ambulans dan segera membawa ke Rumah Sakit untuk di lakukan autopsi. Sedangkan tuan Hans dan para anggotanya melakukan olah tempat kejadian perkara, di sana juga ada tuan Roger yang memaksa ikut karena dia penasaran dengan korban yang selalu saja tewas mengenaskan.


Barang bukti berupa pisau lipat itu di masukkan ke dalam plastik bening dan di amankan oleh tuan Roger. Tuan Hans mencoba menyusuri sepanjang jalan yang ada noda darahnya. Dia terkejut saat melihat dua ekor anj*ng, ikut menjadi korban. Dua anjing itu di masukkan kedalam drum bekas yang telah berkarat.


"Pelakunya takut ketahuan mungkin, hewanpun tak luput dari kebrutalan mereka," jelas tuan Hans.


Richi juga ikut menyusuri jejak sepatu yang di tinggalkan pelaku. Ada huruf tersembunyi di tanah yang telah terinjak itu.


'Ini seperti sebuah kata, tapi hurufnya terbalik,' batin Richi.


Richi mencoba merangkai tulisan itu menjadi satu kata, "Ini seperti W.O.D, tapi bagian belakangnya telah terhapus, di jejak depannya ada lagi, tapi hanya bisa terbaca A.H.S, kalau kita rangkai akan menjadi, shadow!" tukas Richi tersentak.


Richi berkoordinasi dengan timnya, dia sudah tidak sabar bertemu dengan si gila, mantan kekasih Jeni, Helian. Ya, dia adalah bos geng Shadow yang sangat terobsesi dengan darah dan membunuh, kemampuan tidak di ragukan lagi, karena bos Alex sedang tidak di tempat Richi akan melakukan penutupan jalur udara, darat, dan air untuk meringkus geng meresahkan itu.


"Tuan Hans, lebih baik kau dan tim kepolisian segera kembali ke kantor, musuh kita terlalu berbahaya," ucap Richi memperingatkan.


"Ini sudah tidak ada hubungannya dengan tindakan hukum dan kriminal, aku menduga, saat mereka kembali, hanya wilayah yang mereka inginkan, cara licik ini adalah misi tersembunyi yang coba mereka lakukan karena belum siap berperang dengan bos Alex," jelas Richi.


"Tapi, aku kan juga ingin ikut andil mengungkap misteri ini, bolehlah untuk mengetahui wajah sang pelaku," ucap tuan Hans sedikit memaksa.


"Ini tugasku tuan Hans! dia adalah lawan bos Alex, hanya bosku yang mampu membuatnya kabur, tetapi karena bos masih mengurus nona Laras, biar aku yang melakukannya, kau dan tim-mu segera pergi dari tempat ini, nanti malam aku dan tim ku serta anggota Death Angel pilihanku akan menghadang mereka di seluruh penjuru kota utara," tega Richi.


Dengan terpaksa, anggota kepolisian itu segera pergi meninggalkan tempat kejadian perkara. Richi segera menelpon Willy yang bertugas menjaga markas utama.


"Bagaimana keadaan nona Jeni? apa dia menjadi gadis penurut?" tanya Richi.


"Tenang saja, dia aman bersamaku," jelas Willy.


"Helian, comeback! dia ingin mencuri start Will, masih kurang juga hujaman pisau di tubuhnya itu, dia memang kuat, si haus darah," jelas Richi.


"Siapa yang tidak kenal Helian, dia pria nekat dan psikopat, aku malas bertemu dengannya, wajahnya itu sangat menyebalkan!" tukas Willy.

__ADS_1


"Haha, kau pernah kena tembakan di lenganmu waktu itu, masih membekas saja," ledek Richi.


"Hey! jangan kau ungkit hal itu, aku adalah barisan terdepan berani mati untuk bos Alex, hanya tembakkan di lengan, tidak terlalu masalah," ucap Willy.


"Ya aku tahu, kau jaga nona Jeni, dia akan memberikan kita banyak informasi tentang Helian," jelas Richi.


"Jaga dirimu baik-baik di sana. Bos kita masih sibuk dengan keluarganya, kita harus memahaminya," pinta Willy.


"Iya aku paham," jawab Richi yang langsung mematikan ponselnya.


Richi dan tim-nya pergi dari tempat kejadian perkara, dan segera menuju perbatasan kota utara.


...* * *...


Tuan Hans telah sampai di depan kantor polisi, dia memarkirkan mobil dinasnya, beberapa menit kemudian, keluarlah tuan Roger, tuan Hans dan para anggota tim dari mobil tersebut. Tuan Hans dan sang wakil masih betah berada di luar, keduanya menyenderkan badan di pintu mobil dinas sang kepala polisi dan berbicara tentang beberapa hal, sedangkan anggota timnya sudah masuk ke dalam kantor polisi karena harus bekerja kembali.


"Harusnya sejak dulu kita bekerjasama dengan para mafia kelas kakap macam Richi dan Alex, tugas kita akan terbantu," jelas tuan Roger.


"Memang hidup kita hanya bergumul dengan mereka, tidak ada salahnya jika kita meminta bantuan Richi, karena sang bos sedang sibuk, aku tidak masalah jika seluruh kota di kuasai oleh Death Angel, mereka tahu batasan dalam bertarung, tidak membabi buta seperti geng yang lain," ucap tuan Hans.


"Jadi kau sudah setuju anakmu menikah dengan Alex?" tanya tuan Roger.


"Setuju saja," jawab tuan Hans santai.


"Syukurlah jika kau merestui mereka, aku tidak sabar untuk melihat para cucu yang akan segera hadir," goda tuan Roger.


"Cih, kau ini kan juga baru saja memiliki cucu, apa masih kurang?" tanya tuan Hans.


"Cucuku dari kalangan manusia biasa, cucumu dari kalangan mafia, sejak di dalam kandungan pasti sudah bisa berkelahi," ledek tuan Roger.


"Kita lanjutkan di dalam saja Roger, tidak penting membahas Alex, aku masih ada banyak berkas kasus pembobolan bank, penjarahan, penculikan yang belum selesai aku kerjakan," jelas tuan Hans.


Tuan Hans dan wakilnya masuk ke dalam kantor polisi. Keduanya kembali bekerja seperti semula, meski masih ada rasa was-was dan penasaran tentang sosok pelaku pembunuhan yang sangat brutal dan sadis itu.

__ADS_1


__ADS_2