
Alex merasa bahagia saat mendengar kabar dari baik dari Laras yang mengatakan jika baby A berjenis kelamin laki-laki. Akan ada lima jagoan saat dia kembali. Tapi Alex masih tetap berharap jika kelak bisa menemani sang isteri melahirkan.
"Syukurlah! apa yang aku harapkan ternyata menjadi kenyataan. Laras, terimakasih," ucap Alex, matanya berkaca-kaca. Namun, cairan bening itu enggan segera menetes. Ia tetap tertahan di sudut matanya.
"Ini adalah berkah suamiku, berkah dari Tuhan untuk kita," Suara Laras bergetar, sang isteri tak mampu menahan Lagi rasa bahagianya.
"Hiks...hiks...hiks...," Terdengar suara tangis sang isteri. Alex segera memberikan dukungannya," Sayang, berhentilah menangis, kau lebih sexy saat tersenyum. Kau jelek saat menangis, tenanglah! anggap saja aku di sampingmu dan peluklah aku," ucap sang mafia mencoba menenangkan Laras.
"Hmm...baik sayang, aku sedang memeluk kemejamu, karena di sana ada aroma tubuhmu. Seketika aku merasa ada kau di sisiku. Ini sudah lebih dari cukup, selesaikan misi itu, baru kau boleh kembali. Kau mengerti sayang?" pinta sang isteri. Ucapan sang isteri begitu menyayat hati. Dia tidak menyangka jika Laras hanya bisa memeluk kemeja miliknya dan menikmati aroma tubuhnya. Sungguh hal yang menyedihkan untuk di dengar.
"Sayang, jaga anak kita. Maaf, membuatmu menjadi sangat menyedihkan!" jelas sang mafia.
"Iya, kau fokus pada misi itu, aku banyak teman di sini. Mereka yang akan membantuku melakukan apapun, sudah ya Lex? aku ingin senam kehamilan dulu," ucap Laras yang ingin mengakhiri perbincangannya.
"Bagus itu, lakukan dengan baik. Jangan terlalu lelah," saran sang mafia.
"Hmm, baik. Love you Lex," ucap Laras mengucapkan salam perpisahan.
"Love you too sayang," jawab Alex menjawab salam penuh cinta tersebut.
Setelah selesai menelepon sang isteri, Alex terlihat senyum-senyum sendiri sembari menatap pemandangan di luar jendela.
"Bos mafia kita sedang bahagia sepertinya tuan Ramos," ledek Richi.
"Tentu saja, lihat itu! kau nampak tidak Richi, aura budak cinta di matanya! wow aku terpana!" jawab tuan Ramos yang pandai melebih-lebihkan setiap ucapan.
"Wah dia pura-pura tidak dengar tuan Ramos, jiwanya sedang berada di Paradise Land, memeluk hangat tubuh isterinya," goda Richi.
"Dia memang payah Richi, biarkan saja! budak cinta mana bisa berpikir jernih dengan logikanya," Tuan Ramos sangat senang memprovokasi Alex agar marah padanya.
Namun bukan Alex jika tak mampu membalas mereka berdua.
__ADS_1
"Tuan Ramos, kau begitu berisik. Padahal aku ingin sekali menghadiahkan lima gadis muda yang cantik untuk menemanimu," ucap sang mafia, sikapnya sungguh tenang dan berwibawa.
"Haha! tuan Ramos, kau dengar itu kan?" Richi merasa bahagia saat sang mafia menghukum tuan Ramos karena banyak bicara.
"Richi, kau akan dapat giliran juga, tunggu saja," tukas Alex yang menoleh ke arah sang sahabat yang mulai merasa cemas dengan ucapan sang mafia.
Seketika suara riuh ejekan untuk Alex sirna, tuan Ramos dan Richi langsung mati kutu.
"Hahaha...aku berhasil membuat kalian mendapatkan balasannya. Lain kali pikir dulu sebelum berbicara," tegas sang mafia yang masih membuat Richi dan tuan Ramos terdiam.
"Tapi Lex, gadis-gadis itu masih berlakukah?" ucap tuan Ramos yang tergoda dengan perkataan sang mafia.
"Apa isi kepalamu hanya mereka tuan? ya nanti aku pikirkan lagi...haha," Alex tertawa puas.
"Lex, cabut hukumanku!" pinta Richi memelas.
"Kau fokuslah menyetir, kau hanya akan libur mendengar suara isterimu selama dua hari, ponselmu akan ku sita, cepat berikan padaku Richi," Alex kembali menahan tawa, dia ahli dalam mengerjai orang.
"Aku hanya bercanda, teleponlah isterimu sepuas yang kau mau. Dan untuk tuan Ramos, kau akan mendapatkan gadis-gadis itu malam ini," Alex mengakhiri waktu bercandanya, kini saatnya dia fokus dengan tujuan utamanya.
Wajah keduanya berbinar, apalagi tuan Ramos. Pria menyebalkan itu mendekati sang mafia dan memeluknya dari belakang. "Hey! apa yang kau lakukan kakek tua?" Alex segara melepaskan pelukan itu, namun tuan Ramos masih ingin memeluk sang mafia.
"Haha, hentikan tuan Ramos, jika kau ingin berterima kasih kepada bos, cukup diam dan jangan banyak tingkah," ledek Richi.
"Kau dengar kan? lepaskan aku kakek tua," Alex merasa kesal karena tuan Ramos selalu mengganggap dirinya masih bocah.
"Saat melihatmu, yang aku ingat hanya saat kau berusia empat tahun, masih kecil sudah memiliki badan yang kuat, kau sangat sombong dan angkuh. Bibit pemimpin geng sudah nampak waktu itu," jelas tuan Ramos yang segera melepaskan pelukannya. Ia kembali duduk di jok belakang.
"Lex, menurutku, desa bunga itu sudah dekat. Tapi aku lupa arahnya, kita harus belok kanan atau kiri?" tanya Richi sembari menoleh ke arah sang mafia.
"Kanan Richi, aku pernah ke sana sebelumnya bersama tuan Zhev," ucap tuan Ramos.
__ADS_1
"Kau berguna juga kakek tua," puji sang mafia.
Tuan Ramos membusungkan dadanya, dia sangat sombong saat di puji oleh sang mafia.
Saat mobil tuan Zhev belok ke kanan, mereka di hadang oleh sekumpulan orang berbaju hitam. Mereka kira-kira berjumlah dua puluh orang.
"Mereka siapa?" tanya Richi penasaran.
"Bandit, mereka selalu menghalangi setiap mobil yang akan masuk ke dalam desa bunga," jelas sang mafia.
"Bagaimana kau tahu Lex?" Richi heran dengan pengetahuan yang sangat up-to-date dari sang mafia.
"Tuan Fudo yang memberitahu waktu itu, kau harus berhati-hati. Mereka cukup lihai bertarung," jelas sang mafia.
Beberapa menit kemudian, beberapa dari anggota geng yang menghadang, menghampiri mobil tuan Zhev. Dengan kasar mereka mengetuk pintu mobil itu dan meminta pengendara untuk segera turun.
Ketiga orang yang ada di dalam mobil mulai turun satu persatu. Para bandit langsung memborgol tangan mereka.
Alex memberikan kode agar Richi dan Ramos tetap diam. Karena sang mafia merasa para bandit akan membawa mereka bertiga ke desa bunga.
"Kalian para manusia bodoh! Semoga tuan muda Jiho akan mengampuni kau, kau dan kau karena telah lancang datang ke markas kami!" Tunjuk sang bandit ke arah wajah Alex, Richi dan tuan Ramos.
"Bos! bukannya ini mobil ayah tuan muda?" tanya salah satu bandit.
"Tuan muda bilang siapapun yang datang, harus segera di tangkap dan di penjara, sekalipun itu ayah tuan muda," jelas bos para bandit.
Richi dan tuan Ramos masih belum melakukan perlawanan. Mereka menunggu aba-aba dari sang mafia.
"Kalian dari geng mana? badan boleh kekar tapi tak mampu melakukan perlawanan," ucap sang bos bandit yang belum mengetahui sedang berurusan dengan siapa mereka.
'Tertawalah sepuasmu, sebelum mulutmu itu aku penuhi dengan timah panasku,' batin sang mafia.
__ADS_1