Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 121


__ADS_3

Di perbatasan kota selatan...


Angela menunggu kabar dari Richi yang selama berminggu-minggu ini tak menghubunginya sama sekali, dia kesal karena sang kekasih mematikan ponselnya.


Saat harapannya hampir pupus, ponsel yang ada di genggaman tangannya berdering, secara refleks dia menjawab telepon itu.


"Kakak, kau lama sekali, mengapa kau tidak menghubungi? tidak memberikan kabar? he? apa maksud semua ini?" tanya Angela emosi.


"Hey, apa kau bisa diam gadis berisik?" tanya sang penelpon, suaranya berbeda, sepertinya pernah ia dengar.


"Kepala polisi Hans? apa yang kau lakukan pada kekasihku? awas saja kalau macam-macam padanya, kantor polisimu akan aku obrak-abrik," ancam Angela.


"Hahaha, sial! gadis ini memang tidak bisa di remehkan, Richi meminta tolong padaku untuk menghubungimu karena beberapa minggu ini dia bekerja sama denganku untuk menyelidiki pembunuhan misterius yang sering terjadi di kota utara, dia kadang lupa mencharge ponselnya, aku yang selalu membantu mengurus telepon genggamnya. Dia sudah berada di kantor polisi selama delapan minggu lebih," ucap tuan Hans.


"Pantas saja, aku terlalu khawatir padanya, tak masalah jika ada tugas darimu, apa kau sudah meminta izin bos Alex?" tanya Angela.


"Sudah, Alex sedang sibuk dengan kehamilan isterinya, semuanya ia serahkan padaku dan Richi, lama-lama aku bisa gila karena bekerja sama dengan para mafia yang seharusnya ku penjarakan! haha, kesialan atau keberuntungan? aku tidak tahu," jawab tuan Hans.


"Kau pikir ulang perkataanmu itu, bos mafia saja sudah jadi menantumu, bekerja sama dengan kami adalah hal yang mutlak harus kau lakukan, jika bos ku bertindak, kau tidak akan bisa berkutik," tukas Angela.


"Iya, aku tahu popularitas sang mafia di kota ini lebih unggul daripada seorang polisi sepertiku," jawab tuan Hans.


Kedua orang itu masih berdebat di sambungan telepon, tiba-tiba saja ponsel tuan Hans bergetar, dia menatap layar ponselnya, ada nama anak brengsek tertera di panggilan telepon itu.


"Tuan Hans! ada pembunuhan lagi di kota utara, aku dan tim ku menemukan barang bukti berupa pisau lipat yang tidak sengaja pelaku tinggalkan di tempat kejadian perkara, aku menduga jika dia terkejut saat ada salah satu anggota tim ku yang memergokinya, orang itu sangat lincah seperti legenda ninja di masa lalu yang pernah tuan Fudo ceritakan pada kami," jelas si anak brengsek.


"Segera akan ku kirim anggotaku ke sana, tim forensik juga akan ikut, kau tunggu sebentar lagi, jangan sentuh barang bukti itu Richi," ucap tuan Hans.


"Iya aku juga tahu, kau pikir aku ini anak kemarin sore?" jawab si anak brengsek yang ternyata adalah Richi.


"Hahaha, baiklah bukan anak kemarin sore, kau memang hebat!" ucap tuan Hans.

__ADS_1


Richi menutup panggilannya, tuan Hans kembali meneruskan pembicaraan dengan Angela.


"Kau dan kekasihmu sama-sama berisik," keluh tuan Hans.


"Jika kami berisik itu wajar, saat bos Alex yang berisik itu tidak wajar, kau tahu kan sifat menantumu itu seperti apa, dia akan berisik saat mengerjaimu tuan Hans, Hahaha," jawab Angela puas.


"Sial! aku sudah diam, tapi kau bahas mafia itu, aku kalah start jika dengannya. Oh iya gadis berisik, aku dan tim ku ingin ke kota utara, ada hal penting yang harus aku selesaikan, aku tutup penggilanku, kau baik-baik di perbatasan, Angela. Lapor padaku jika ada hal yang mencurigakan," pinta tuan Hans.


"Siap pak tua menyebalkan!" jawab Angela.


Tuan Hans beranjak dari ruang kerjanya, dia menyiapkan dua pistol yang di sembunyikan dalam rompinya. Setelah itu, dia dan timnya segera menuju tempat kejadian perkara.


...* * *...


Di sebuah padang luas di kota utara...


Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di hadapan para anggotanya. Dia menatap tajam mata setiap anggota.


"Sudah bos, tetapi salah satu anggota meninggalkan jejak," jawab salah satu anggota.


"Panggil dia kemari," perintah sang pemimpin.


Seorang pria berpakaian serba hitam dan berkaca datang dengan wajah tertunduk, dia merasa bersalah atas apa yang telah di perbuatnya, dia meminta pengampunan sang pemimpin.


"Maafkan aku bos! ada anggota Death Angel yang tak sengaja memergoki aksiku, aku terkejut dan meninggalkan pisau tersebut karena panik," jelas sang anggota.


"Jangan menunduk, tegakkan kepalamu," pinta sang pemimpin.


Sang pemimpin telah menodongkan pistol di kepala sang anggota.


"Jika kau telah ketahuan, jangan kembali padaku! pergi saja ke neraka!"

__ADS_1


DOR...


DOR...


Dua timah panas meringsek masuk ke dalam kepala sang anggota, dia roboh seketika. Sang pemimpin meminta salah satu anggota untuk membakar pria malang itu, dan segera buang ke jurang.


Setelah usai dengan satu anggota yang gagal menjalankan misi, sang pemimpin memperingatkan kepada semua anggota agar lebih berhati-hati dalam bertindak jika masih ingin hidup.


"Bos? apa kita harus melenyapkan semua pemuda di kota utara dengan segera?" tanya salah satu anggota.


"Perlahan saja, kita lakukan lebih lamban dari sebelumnya karena anggota bodoh itu telah meninggalkan jejak, bisa ketahuan Alex nanti, aku tidak ingin berurusan dengannya, akan semakin sulit untuk kita menguasai kota utara jika bos Death Angel itu tahu misi tersembunyi yang sedang kita lakukan," jawab sang pemimpin.


"Cepat atau lambat kita akan ketahuan bos," celetuk salah satu anggota.


"Sebelum ketahuan, tetua sudah sampai di kota ini dan meneror Alex kembali, ulur waktu agar anggota Death Angel tidak curiga terhadap geng kita," perintah sang pemimpin.


"Siap bos!" jawab para anggota geng serentak.


Sang pemimpin membagi para anggota menjadi dua tim, yang satu beraksi saat siang hari, yang satu lagi di malam hari. Untuk hari ini teror usai, para anggota mendapat tugas menandai para pria penting di kota utara yang akan menjadi sasaran selanjutnya. Mereka sudah hafal nama dan alamat para korban, selanjutnya eksekusi.


"Untuk kali ini, lakukan dengan benar, jangan sampai ada kesalahan, kalian mengerti?" tukas sang pemimpin.


"Mengerti bos!" jawab para anggota serentak.


Sang pemimpin meminta anggotanya untuk membubarkan diri dan kembali ke markas utama dan mempersiapkan diri untuk pelenyapan nanti malam.


Sedangkan sang pemimpin sendiri masih berada di luar, dia menatap jauh ke depan, dia mengingat akan gadis pujaannya yang hilang dari genggamannya karena ulah Liu Earl.


'Jeni sayang, mengapa kau takut padaku dan lebih memilih Mike, apa yang kurang dariku? setelah kau pergi, aku merasa sepi, untuk saat ini, aku memang belum bisa muncul ke permukaan karena tetua yang memintanya, tapi saat waktu itu tiba, aku akan segera merebut Jeni dari tangan Mike dan membalas dendam pada geng Liu Earl!' batin sang pemimpin.


Saat dirinya merasa sedih ketika mengingat sang gadis, tiba-tiba saja terdengar tawa dari mulutnya. Dia merasa sedih dan bahagia dalam waktu yang bersamaan, sang pemimpin mengambil pisau lipat yang berada di saku jasnya, sebuah pisau yang menjadi identitas gengnya dalam melenyapkan para pemuda di kota utara. Dia menggoreskan pisau itu di lengan kanannya dengan membentuk huruf J.E.N.I, dan meminum darah yang keluar dari lengannya itu.

__ADS_1


"Jeni, kau hanya boleh jadi milikku," ucap sang pemimpin yang psikopat itu.


__ADS_2