
Panggilan telepon itu di akhiri dengan nasehat bijak bos mafia.
"Cinta sejati dan kesetiaan berjalan beriringan, jangan membuat segalanya rumit. Percaya dan jalani, hidup kita tak semudah seperti orang-orang di luar sana. Kapanpun dan dimanapun, musuh akan selalu mengintai, meneror bahkan siap untuk menghabisi kita. Kau camkan itu sahabatku," jelas sang mafia penuh kewibawaan.
"Iya Lex, maaf. Aku hanya ingin menjadikan gadis yang aku cintai satu-satunya di hidupku. Seperti dirimu yang rela tidak bertarung hanya untuk menjaga anak dan isterimu. Kau dulu juga tak ingin cinta hadir dalam hidupmu tapi justru cinta sendiri selalu menjadi candu bagimu. Begitulah aku, Angela bagai magnet yang akan membuatku selalu menarikku pada titik yang sama untuk dekat dengannya, menjaganya, membahagiakannya," Richi sungguh ingin menunjukkan keseriusannya agar sang mafia mengetahui jika dirinya inginkan Angela ada di hidupnya selamanya.
"Ya, di masa lalu memang aku seperti itu. Laras adalah cinta semu yang tak pernah bisa ku gapai, apalagi dia puteri tuan Hans. Hal tidak masuk akal di dalam dunia kita, menjalin hubungan keluarga dengan penegak hukum, aneh rasanya. Aku bos penjahat, ayah isteriku pembasmi penjahat. Kadang hidup selucu itu mempermainkan nasib masing-masing insan. Sial! mengapa aku jadi ceramah? sudahlah, kau segera habisi kedua orang itu, mereka kerikil kecil yang akan menjadi batu sandungan jika tidak segera di singkirkan!" Alex merubah dirinya menjadi sosok dewasa untuk memberikan petuah kepada sang sahabat agar tidak egois, meskipun dia juga masih sering cemburu, tetapi ia menyarankan agar wajar dalam bersikap. Jangan membuat hubungan antar anggota geng merenggang hanya karena seorang gadis.
Richi menutup panggilan telepon itu. Dia meminta Angela memanggil Franklin. Tapi gadis itu hanya diam saja. Dia khawatir jika Frank berada di antara keduanya, urusan akan semakin rumit. Tetapi Richi menjelaskan hanya ingin berbicara dengan Frank. Dengan terpaksa, Angela menuruti apa yang di perintahkan oleh sang kekasih.
Angela berjalan perlahan menghampiri Frank yang masih berada di antara rekan yang terluka. Dia sedang serius mengobati para rekan. Suara Angela bak angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.
"Kak, kak Richi ingin bicara padamu," pinta Angela canggung.
"Oh, baiklah! aku selesaikan ini dulu, tunggu lima menit," ucap Franklin yang segera menyelesaikan tugasnya.
Lima menit berlalu, akhirnya Frank bangkit dan mengekor langkah Angela menghampiri Richi yang berdiri di depan mobilnya.
"Hey kawan, ada apa?" tanya Frank sangat ramah dan bersahabat.
"Maafkan aku," ucap Richi. Dia memeluk tubuh rekaannya itu dan berdamai dengannya.
"Tak perlu berlebihan. Semoga hubungan kalian lancar sampai pernikahan. Tapi ingat Richi, kau harus benar-benar membahagiakannya. Dia hanya tinggal sebatang kara, tidak ada tempat berlindung selain Death Angel dan dirimu," jawab Frank begitu memahami situasi yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Iya Frank, sekali lagi maaf!" pinta Richi sembari melepaskan pelukannya.
Angela merasa lega dengan sikap Richi yang kembali menjadi dewasa. Perdamaianpun terjadi diantara keduanya, selanjutnya eksekusi mati pembuat onar dan sang pengkhianat.
Ketiga orang anggota Death Angel itu masuk ke dalam markas dan langsung menuju ruang peradilan. Di dalam ruangan, sudah ada dua anggota yang menjaga tuan Shin dan Key. Richi meminta dua anggotanya tersebut untuk pergi karena mereka bertiga akan segera membuat akhir hidup keduanya mengenaskan.
"Tuan Shin dan Key," ucap Angela yang melipat tangannya di dada sembari menatap wajah orang paling menyebalkan dan sok kuat di depannya.
"Gadis berengsek! lepaskan aku! kau seumuran dengan putriku makanya aku masih berbaik hati membuatmu hidup, tetapi kau melewati batasanmu Angela," jawab tuan Shin kesal.
"Key? apa ada yang ingin kau sampaikan sebelum kematian itu datang?" tanya Frank. Dia sudah siap untuk melenyapkan rekannya yang cukup dekat dengannya itu.
"Kak, kau selalu ada di pihakku saat bos marah. Tetapi kini kau membuatku tersiksa, kau juga akan menjadi musuhku," jelas Key emosi.
"Bocah tengik," Lepas menjambak, dia langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada Key, namun pria itu masih tetap ingin menghancurkan sang mafia. Tiada jera untuk Key, sama persis seperti sang sahabat, Justin Steven.
Selepas babak belur, Key masih terobsesi untuk membuat sang mafia hilang dari muka bumi ini. Richi dan Angela yang melihat keangkuhan dari Key, kembali menelepon bos Alex.
"Bos! Key sudah kami siksa, dia masih membangkang!" Lapor Angela kepada sang mafia melalui sambungan telepon.
"Hujani dengan peluru tanpa ampun! masukan mayatnya ke dalam kandang singa! dia pantas mendapatkan akhir yang menyedihkan," perintah sang mafia.
"Baik bos!" ucap Angela.
__ADS_1
Richi, Franklin dan Angela yang masih menempelkan ponsel di telinganya, berdiri berjejer. Di tangan masing-masing telah memegang pistol yang siap untuk mengirim Key ke neraka.
"Segala upaya telah aku lakukan untukmu agar menyadari semua kesalahanmu, namun kau tidak menghiraukanku, cukup Key! kau memang tak pantas hidup!" ucap Franklin yang langsung melepaskan timah panas pertama yang mengarah ke dada Key yang duduk bersimpuh.
Richi dan Angela juga ikut andil dalam merobohkan pengkhianat itu.
DOR...
DOR...
Dua timah panas kembali meringsek masuk ke dalam perut Key. Membuat tuan Shin banjir keringat dingin karena nampak di depannya hukuman untuk pengkhianat.
DOR..
DOR..
DOR...
Tiga peluru mengarah tepat di kepala Key, membuat pria itu benar-benar telah tewas mengenaskan dengan banyak luka tembak di sekujur tubuhnya. Darah segar mengalir di lantai ruang peradilan.
Franklin mengendong mayat bersimbah darah itu di pundaknya dan mengantarkannya di peristirahatan yang terakhir yaitu KANDANG SINGA. Franklin dan Key adalah sahabat sejak awal bergabung di Death Angel, dia pernah berjanji pada Key, jika suatu saat nanti Key tewas lebih dulu saat pertempuran, dia akan memberikan akhir yang baik untuk Key, sebuah makam di puncak bukit, tempat kedua orang tua Franklin di semayamkan. Tetapi karena Key sudah melenceng dari tujuan awal bergabung dengan sang mafia, jadi tempat terbaik untuknya adalah di kandang singa. Dia akan menjadi santapan para hewan kesayangan bos mafia.
Ia melemparkan mayat itu ke arah para singa jantan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang sahabat tercabik-cabik gigi tajam sang raja hutan. Mereka memakan dengan lahap daging manusia tidak tahu diri itu.
__ADS_1
"Selamat tinggal adik, ini tempat peristirahatanmu yang terakhir, nikmatilah!" Frank kemudian berlalu dari kandang singa itu dan segera membersihkan diri karena di tubuh dan pakaiannya terdapat banyak darah, baunya sangat anyir.