
Saat si bocah bersama Richi beranjak dari tempat duduknya, seseorang datang kemudian menarik baju si bocah tengik.
"Kau mau kemana?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Willy.
"Ada apa?" jawab Han Bin sembari melirik kearah B
Willy.
"Kau itu songong sekali, bagaimana bisa dengan cepat dekat dengan Richi? kau pasti memiliki rencana yang jahat!" terka Willy. Sejak awal kedatangan Han Bin, dia memang tidak menyukainya.
Apalagi, Richi teringat selalu membela bocah tengik itu. Dia hanya khawatir, Richi akan terpengaruh dengan ucapan bocah kecil itu, karena type Richi, dia suka bocah yang bersemangat tinggi dan memiliki tekad yang kuat.
Richi meminta Willy, untuk melepaskan Han Bin. Akan tetapi, Willy masih keukeuh dengan apa yang ia yakini.
"Wil, dia adalah urusanku dan Alex! kau tidak perlu mengurusinya, kau tahu kan? Alex akan memutuskannya dengan sangat adil," ucap Richi.
"Tapi, aku tidak suka dengan bocah ini. Seharusnya, kau tidak perlu membantunya. Kecuali, dia bisa menyelamatkan Yovan dari MK." Willy memiliki rencana brilian, dia tidak ingin kehadiran orang asing di dalam markas utama membuat kinerja para anggota menurun hanya karena terlalu fokus dengan bocah tengik yang sewaktu-waktu bisa meledak karena jiwa petarungnya yang cukup mumpuni.
Mendengar kata MK, dia langsung merespon dengan cepat.
"Jika kau ingin aku menghabisi MK, aku bisa melakukannya, tetapi aku minta geng kalian harus bersedia menjadi sekutuku!" ungkap Han Bin yang mulai berterus terang dengan tujuan awalnya datang menemui sang mafia.
"Kau seorang pemimpin geng? geng apa maksudmu? geng anak piyik? wkwkk mana ada pemimpin geng kurus kering sepertimu," jawab Willy meremehkan Han Bin yang memang bertubuh kurus dan kering.
Dia orang kaya yang tidak suka hidup bergelimangan harta, dia keluar dari rumah karena tidak terlalu menyukai kehidupan glamor kedua orang tuanya. Han Bin mendapatkan cinta sejatinya saat menjadi gelandangan, dia adalah gadis itu.
"Aku sudah hidup di jalan selama 5 tahun lebih, aku hanya makan cari bekas orang-orang membuang makanannya di tempat sampah, kadang orang-orang itu tidak bersyukur. Makanan enak dan lezat itu dibuang begitu saja karena tidak sesuai dengan pesanan, orang kaya kadang menyebalkan," ucap Han Bin yang menurut pendapatnya tidak terlalu menyukai orang kaya.
"Hahaha ... kalian para orang miskin mana tahu rasa bersyukur? jika ingin bersyukur kau harus menjadi pria yang baik, jangan melawan bos kami pulang saja ke Macau!" ejek Willy.
"Aku akan tetap melawan Alex, bisa diganggu gugat!" Si bocah sangatlah keras kepala.
Richi menarik lengan Richi, kemudian mengajaknya menjauh dari Han Bin.
"Will, kau tidak perlu mencemaskannya, kan aku sudah bilang, dia itu urusan kami. Aku dan Alex akan mengurus dia sampai Han Bin benar-benar menjadi orang yang tidak terlalu mengancam geng kita," bisik Richi.
__ADS_1
Awalnya, Willy kesal, tapi lama-kelamaan dia bisa menerima rencana dari Richi.
"Oke, tidak masalah. Aku akan menuruti ucapanmu, kau jaga dia dengan baik jangan sampai melakukan suatu hal yang tidak berguna seperti saat berada di kamar mandi," pinta Willy.
Willy segera menjauhi kedua orang itu dan kembali bersama teman-temannya menjaga markas utama Death Angel.
Richi merasa tenang saat ia berhasil membujuk Willy.
Ia membalikkan tubuhnya, di sana masih setia menunggunya, si Han Bin, bocah tengik yang menyebalkan.
....
"Paman Willy, apakah dia membenciku?" tanya Han Bin. Dia merasa jika Willy tidak terlalu menyukainya.
"Bukan seperti itu, dia hanya lelah. Oh ya, kau akan mandi sekarang atau 2 hari lagi?" tanya Richi menggoda si bocah.
"Satu bulan," jawab Han Bin menahan tawanya.
"Wkkwwk, kau ini. Jorok sekali."
"Ada apa Lex?" tanya Richi di sambungan telepon.
"Aku tidak bisa kembali secepatnya, aku masih di taman hiburan bersama keluargaku. Kau harus menjaga bocah itu jangan sampai kabur, aku tidak ingin markas kita diketahui oleh khalayak ramai," jawab Alex.
Saat si Richi sedang berbicara dengan Alex, Han Bin membuat kode kepada Richi untuk mengizinkannya berbicara dengan Alex.
Awalnya, Richi menggelengkan kepalanya, tetapi saat Ia berpikir, tidak ada salahnya untuk memberikannya izin.
"Lex, bocah yang ingin melawanmu, dia mau bicara denganmu," ucap Richi.
"Oke, silahkan!" jawab Alex mengizinkan.
Beberapa detik kemudian...
"Kau Alex Fernando yang hebat itu?" tukas Han Bin sangat antusias.
__ADS_1
"Bukan, aku bukan orang yang hebat. Aku hanya seorang bos mafia yang keluarga kecil di New York, aku dengan semut saja takut, apa lagi dengan darah, aku phobia." Alex sangat merendah, padahal sekali tebas dia bisa melakukan banyak hal kepada musuh-musuhnya. Bukan hanya darah, potongan kepala pun bisa ia bungkus dan ia lempar dihadapan para musuhnya.
Richi menahan tawanya saat mendengar pernyataan dari Alex.
"Cih, kau terlalu merendah, tidak percaya jika kau takut darah? di Macau dirimu sangat dibanggakan oleh para bos besar, sampai MK pun mengkhawatirkan posisinya jika kau kembali ke sana," jelas Han Bin, dia merasa sang mafia tidak berbicara serius.
"Haha, MK itu siapa? aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu u pria binatang yang yang menyebut dirinya penguasa di Macau," sindir Alex terhadap MK yang sombongnya selangit.
"Memang geng di Macau menyebut MK dengan nama binatang, aku masih yakin jika kau pria hebat! tolong kau lawan aku," pinta Han Bin.
"Boleh saja, tetapi aku tidak janji hari ini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan, serta Quality Time bersama keluarga," ucap sang mafia.
"Daddy? aku mau permen itu." Terdengar suara rengekan di sambungan telepon, membuat Han Bin terenyuh.
"Lex, kau lebih baik temani keluargamu. Aku paham, keluarga adalah nomor satu."
Si Han Bin, menyerahkan telepon tersebut kepada Richi. Dia tidak enak hati jika mengganggu sang mafia yang sedang berlibur.
"Lex? ini aku," ucap Richi.
"Aku akan menghubungimu lagi nanti, kan aku ingin beli permen." Sang mafia sedang menyanggupi permintaan anaknya.
"Siap! nanti aku akan menelepon kau lagi, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu." Richi akan memberikan kabar terbaru tentang MK dan pekerjaannya yang telah selesai di Macau.
"Oke."
Panggilan itu pun terputus.
Dia menatap Han bin yang tengah tersenyum senyum sendiri.
"Kau kenapa?" tanya Richi heran.
"Bosmu, dia bukan bos mafia, tetapi bos yang sayang keluarganya, aku bisa mendengar dari suaranya yang terdengar tegas, namun lemah lembut, aku tidak percaya jika dia phobia darah!" ungkap Han Bin.
"Wkkwk, nanti kau buktikan saja sendiri saat bertarung dengan."
__ADS_1
....