
"Daddy?" Lexis memanggil nama sang ayah dengan penuh kasih dan sayang.
"Iya sayang? ada apa?" Daddy mafia merespon dengan lebih lembut.
"Kita tinggal di sini saja ya? aku bosan di rumah." Pendapat Lexis yang cukup ekstrim. Dia bahkan ingin tinggal di Taman Hiburan dengan puluhan hewan yang rata-rata binatang buas.
"Waduh! daddy harus memikirkannya matang-matang dulu sayang, karena di sini banyak sekali hewan buas." Sang daddy kembali bernegosiasi dengan salah satu putera tercintanya.
"Tapi dad? eh...apa kita membuat Taman Hiburan sendiri saja? sepertinya seru deh!" Lagi-lagi si Lexis, Alex tak habis pikir dengan si jenius satu ini. Tetapi dia sebisa mungkin tetap memberikan yang terbaik kepada kelima anaknya.
"Ehm...daddy akan membuat Taman Hiburan jika Lexis, menjadi anak yang baik dan manis." Kesepakatan yang sempurna dari seorang bos mafia.
"Oke deal! aku setuju!! daddy! lihat itu! semuanya terlihat indah!" pekik si Lexis dengan penuh semangat saat para karyawan memberi makan seekor gajah.
Alex menemani Lexis melihat gajah, setelahnya menyusul sang isteri yang sedang berada di pusat oleh-oleh dan souvernir.
Mereka berdua masuk melalui pintu kaca yang unik, pintu itu terbuka saat Lexis membuat pula love di permukaan kaca tersebut.
"Daddy! ini keren! aku mau turun! kita ulangi lagi," pekik Lexis sangat antusias, sang daddy menurunkan tubuh mungil dari pundaknya dan kembali mengulang apa yang Lexis sukai.
Lima kali Lexis masuk dan keluar pintu kaca yang canggih itu, sang daddy perlu memikirkan membuat Taman Hiburan saat si kecil benar-benar penggemar hal yang luar biasa.
Di pusat oleh-oleh dan souvernir, tidak ada orang selain Alex, Laras, ke lima anaknya dan tiga karyawan, serta seorang kasir. Mereka senang saat keluarga Alex datang ke Taman Hiburan ini, karena gaji mereka menjadi bertambah 3x lipat.
"Lexis bosan dad! ayo masuk saja mencari baju yang keren, ada gambar hewan buasnya." Dasar Lexis, soal binatang buas memang nomor satu.
Derap langkah anak dan ayah itu terdengar oleh para karyawan pusat oleh-oleh. Mereka menyambut dengan penuh kehangatan.
"Selamat datang di pusat oleh-oleh dan souvernir Taman Hiburan Tuan Carlo, silahkan anda boleh memilih banyak barang-barang dari tas, baju, boneka serta aksesoris yang berhubungan dengan Taman Hiburan ini, semoga kalian menyukainya ya?" Sambutan penuh senyum, membuat Alex puas. Tidak sia-sia dia membayar 300juta untuk menyewa Taman Hiburan tersebut.
__ADS_1
"Oke terimakasih," jawab sang mafia sembari menggandeng tangan Lexis.
Keduanya mencari mommy dan keempat saudaranya yang ternyata sedang berada di pojok baju dan terlihat ramai di sana.
"Kita kesana ya? itu mommy dan saudaraku di sana daddy! ayo daddy!" pekik Lexis sembari menarik-narik tangan Alex, tangan yang satu lagi Lexis gunakan untuk menunjuk ke arah semua anggota keluarga yang sedang memilih baju.
"Iya," tukas sang daddy.
Mereka berdua menghampiri semua anggota keluarga yang sedang berkumpul melingkari jajaran baju unik dan menarik.
"Lexis!!!" pekik ke empat jagoan Alex saat melihat Lexis berada di satu tempat dengan mereka.
"Kau lama sekali, darimana saja?" tanya Adelio merasa nyaman saat kakak ketiganya berada di dekatnya, kondisi tidak kondusif yang sempat terjadi, tidak mengurungkan niat mereka berdua untuk akur kembali.
"Kau belum beli baju kan? ini aku beri satu, kami sudah memakainya juga," ucap Aarav memberikan satu stel baju bergambar aneka satwa di Taman Hiburan itu.
"Mommy sama daddy dulu ya? aku mau menemani Lexis berganti baju," pinta Aarav meminta izin.
"Oke!" jawab sang mommy memberikan izin.
Kelima kembar lima masuk ke dalam ruang ganti.
"Hai? apa kabar?" Alex menggoda sang isteri tercinta.
"Hai juga, kabarku baik. Apa kau lelah?" tanya sang isteri yang perlahan mendekati sang suami.
"Lelah, tetapi saat melihatmu, semua lelah itu hilang. Apalagi senyum anak-anak kita, rasa pegal ini tiba-tiba tak terasa lagi." Sang mafia mengkode sang isteri untuk memijat pundaknya.
Laras yang memahami keadaan sang suami, segera meminta sang suami duduk di sofa yang tersedia di sana.
__ADS_1
Kini mereka berdua duduk berdampingan. Alex membelakangi tubuh sang isteri, kemudian tangan penuh cinta Laras mulai memijat pundak, tengkuk serta kepala daddy mafia.
Memijat suami seperti di rumah sendiri, Laras melakukannya tanpa canggung. Selama sang suami bertingkah normal, dia akan tetap memijatnya.
"Nanti bonus ya? 2 ronde?" Permintaan aneh, membuat Laras menghentikan aksinya.
"Mulai lagi kan? kau lihat? kita menjadi tontonan para karyawan." Laras memandang para karyawan dengan wajah merona, dia berharap kata-kata sang suami hanya dia yang mendengarnya.
"Biarkan saja! tempat ini milikku selama satu hari ini. Anggap saja rumah sendiri." Sang mafia selalu menang banyak. Dia tidak akan membiarkan dirinya mendapatkan kerugian.
Laras tidak merespon ucapan sang suami. Dia lebih fokus memijat kepala daddy mafia.
"Anak-anak lama sekali ganti baju, kita harus makan siang setelah ini." Alex sudah mempersiapkan segalanya, tanpa terkecuali.
"Di ruang ganti ada banyak permainan, mereka pasti betah berlama-lama di sana." Laras teringat saat pertama kali dia dan kembar lima-nya masuk ke dalam ruang ganti. Semua permainan ada di sana. Ruang ganti dengan desain unik, cocok untuk anak-anak.
"Tuan Carlo memang luar biasa. Dia membuat tema unik. Sayang? aku ingin membuat Taman Bermain sendiri, bagaimana menurutmu?" Daddy mafia berunding dengan sang isteri sebelum membangun sebuah Taman Hiburan yang di minta oleh Lexis.
"Hm, bolehlah. Buat saja, biar anak kita memiliki kegiatan lain, kadang mereka mengeluh bosan jika di rumah saja." Laras beralasan jika akhir-akhir ini kelima anaknya sangat gemar belajar tentang berbagai satwa yang ada di sekitarnya, mungkin dengan ide Alex ini, mampu menyalurkan hobi mereka mengamati satwa beragam yang tak hanya ada di New York, tetapi di kota lainnya.
"Seminggu lagi aku akan merencanakannya, aku sedang sibuk. Ada pengacau lagi sayang, kau harus tetap di rumah. Keluar rumah harus bilang kepadaku, Asley Xie tak akan mungkin diam saja saat kita hidup bahagia. Apalagi dia ada perasaan kepadamu." Dari ucapan sang mafia tersirat kecemburuan yang mendalam.
"Aku tetap mencintaimu, tak akan berpaling. Kau tak perlu meragukanku," jawab Laras dengan senyum bahagianya.
"Terimakasih sayang, huft! ingin rasanya memakan bibirmu yang manis itu, keadaan ini sungguh menyiksa," bisik sang mafia menginginkan jawaban lebih dari sang isteri, semisal kiss.
Laras mengetahui apa keinginan sang suami, namun dia tidak akan menuruti apa yang ada di pikiran Alex, karena akan sangat memalukan saat kiss di lihat para karyawan pusat oleh-oleh.
"Nanti ya?" jawab Laras dengan berbisik juga membuat Alex semakin bersemangat.
__ADS_1