Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Surat panggilan!


__ADS_3

Ketidakhadiran Tuan Hans di acara peresmian membuat publik heran, rumor yang mengatakan jika Tuan Hans bersekongkol dengan Alex sepertinya benar adanya, itu versi media masa.


Pada kenyataannya, Tuan Hans dan Alex Fernando tidak terlibat kasus yang sedang ramai diperbincangkan.


"Kau sudah membantu ayah menjatuhkan nama baik Hans, dia dan menantu mafianya harus segera enyah dari New York serta dunia ini, aku tidak sudi untuk bertemu dan menatap wajahnya setiap hari di kantor ini." Sang ayah sangat dendam kesumat dengan Tuan Hans karena dia memiliki pengalaman kurang mengenakan dengan mertua Alex Fernando itu.


Dahulu, saat keduanya masih menjalani pendidikan, ada satu peristiwa yang membuat ayah Raf membenci Tuan Hans.


Pagi itu, semua orang menatap tajam ke arah ayah Raf dengan raut wajah penuh amarah. Seorang pria yang memimpin upacara rutin menyampaikan satu hal tentang keberanian Tuan Hans meringkus pelaku tabrak lari yang terjadi dua hari yang lalu.


Usut punya usut, sang pelaku adalah ayah Raf, Tuan Dama. Tuan Dama kabur dari pendidikan kemudian Tuan Hans di tugaskan mencari pria itu. Setelah seharian mencari, Tuan Hans tidak menemukan keberadaan Tuan Dama, hingga suara mobil menabrak seorang pejalan kaki membuatnya terkejut.


Tuan Hans mendekati mobil yang baru saja mengalami kecelakaan tersebut.


Tidak di sangka, pemilik mobil adalah Tuan Dama, pria yang sedang ia cari. Tuan Hans langsung membawa pria yang tak berdaya ke tempat pendidikan.


Setelah itu, Tuan Hans mendapatkan pujian atas tindakan terpujinya, sedangkan Tuan Dama mendapatkan kepahitan karena terpaksa harus di pecat dari pendidikan.


Tuan Dama dendam kesumat, hingga dia mencari tempat pendidikan yang bisa ia sogok dengan sejumlah uang.


Akhirnya Tuan Dama bisa melejit sampai sekarang karena ada pihak kepolisian yang sangat berpengaruh berdiri di belakangnya.


* * *


Tuan Hans merasa gelisah saat sebuah surat panggilan dari pihak kepolisian terbaca lewat email nya, dia tidak melakukan apapun tetapi harus masuk ke dalam jeruji besi.


"Sial! Dama ingin memenjarakanku!"


Suara umpatan terdengar jelas dari balik kamar kamar tamu, Nyonya Fira yang baru saja masuk ke dalam kamar keheranan.


"Ada apa suamiku?"


"Kepala kepolisian ingin memasukkan aku ke bui, karena kasus persekongkolan dengan bos mafia!"

__ADS_1


"Astaga! kepala polisi itu Raf kan? teman Laras?"


"Jangan sebut nama itu, aku malas mendengarnya!"


Tuan Hans sangat marah, Raf memutuskan semuanya sepihak tanpa ada penyelidikan, apalagi surat penangkapan hanya di kirim lewat email.


"Dia telah menghinaku atas nama anggota kepolisian! harusnya aku menjadi kepala polisi tetapi tiba-tiba ada perubahan keputusan oleh sebab aku terlibat kasus yang tidak pernah aku lakukan."


"Tenang suamiku, Alex akan menanganinya."


"Tidak, aku tidak akan melibatkan menantuku dalam hal ini."


"Kenapa?"


"Mereka akan beranggapan kami bekerjasama, keadaannya akan semakin rumit."


"Lalu?"


"Biarkan aku datang kesana memenuhi panggilan kepala polisi sialan itu!"


"Percayalah kepadaku, semua akan baik-baik saja."


Nyonya Fira tidak percaya akan ucapan sang suami, seorang kepala polisi sekelas Tuan Hans harus masuk bui karena kebencian Raf padanya merupakan suatu hal yang aneh. Wanita ingin mengadukan hal ini kepada Alex, lagi-lagi Tuan Hans tak memperbolehkannya.


"Stop Fira, aku yang menghadapinya. Biarkan Alex yang membalas apa yang telah Raf lakukan padaku, saat itu terjadi, pasti Alex sudah mendapatkan bukti untuk menjerat keluarga brengsek itu!"


Tuan Hans mengatakannya dengan penuh amarah, namun dia harus tetap tenang agar tidak mengatakan hal yang salah saat bertemu Raf kelak.


Nyonya Fira terdiam, pagi buta sudah banyak sekali permasalahan, mulai dari trauma masa lalu Laras hingga surat panggilan dari pihak kepolisian, lewat email lagi. Lengkap sudah semuanya.


Tuan Hans dan Nyonya Fira memang duduk berdampingan, tetapi tak saling bicara lagi karena keduanya telah tenggelam dengan pikiran masing-masing.


Tok...tok...tok...

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran kedua orang tua Laras itu.


"Maaf, apa aku mengganggu?" tanya Laras sembari mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.


"Oh, tidak sayang, ada apa? apa kau membutuhkan sesuatu?" jawab Nyonya Fira sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Ehm, tidak. Aku seperti mendengar ada keributan di kamar tamu, jadi aku kemari. Kalian tidak sedang bertengkar 'kan?" tanya Laras. Dia menatap mata kedua orang tuanya, keduanya seperti menyembunyikan sesuatu, tetapi, sebagai anak, dia tidak ingin ikut campur, dia khawatir jika akan memperkeruh keadaan.


"Tidak ada, kami hanya sedang mengobrol!" Nyonya Fira memberikan alasan yang sekiranya tidak membuat Laras curiga.


Laras tidak serta merta mengintrogasi keduanya karena dia sudah menduga hanya akan mendapatkan keterangan yang ambigu. Laras berinisiatif untuk menceritakan hal ini kepada sang suami.


"Oh baiklah."


"Ya."


Laras tak sempat masuk kedalam kamar tamu karena suasana horor sedang menyelimuti Tuan Hans, dia memilih untuk menutup rapat pintu kamar tersebut.


"Ayah terlihat sangat gelisah, pasti ada sesuatu yang terjadi, tetapi ayah gengsi untuk bercerita."


Saat Laras bergelut dengan kata hatinya, ia melihat sang suami baru saja masuk ke dalam rumah, Laras mencegat langkahnya.


"Lex, aku ingin bicara denganmu."


"Tentang apa?"


"Ayahku."


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2