Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Quality Time ll


__ADS_3

Setelah beberapa menit berjalan menyusuri taman bunga, akhirnya keluarga mafia itu sampai di tempat yang digunakan untuk atraksi gajah. Di sana terdapat jajaran kursi yang terbuat dari kayu, posisinya mengitari kawanan gajah yang sudah siap menghibur.


Alex sekeluarga duduk di kursi tersebut. Di sana Tidak ada orang lain selain keluarganya dan orang-orang yang yang akan memperlihatkan aksi bersama seekor gajah.


"Coba lihat itu sayang? gajahnya lucu kan?" Alex menunjuk ke arah kawanan gajah yang sudah mulai menunjukkan atraksi bersama pawangnya. Mereka menari saat mendengarkan musik, bermain sepak bola, dan atraksi lain yang membuat keluarga Alex terpukau.


Kembar 5 sangat antusias dengan pertunjukan yang dilakukan oleh gajah. Laras merasa senang saat melihat anak-anaknya tersenyum bahagia. Apalagi di sampingnya ada suami tercintanya. Menambah semarak kebahagiaan yang ada.


"Mommy, itu gajahnya lucu," ucap Adya, dia bertepuk tangan saat mengetahui sang gajah berhasil melakukan atraksi yang luar biasa.


"Iya mom! itu cantik sekali, ada gajah membawa bunga, gajah mengalungkan bunga itu di leher paman pawang," sambung Aarav menimpali.


Mereka kembali bertepuk tangan, tanpa terduga, salah satu gajah menghampiri Lexis. Si gajah melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, kali ini giliran Lexis yang mendapatkan bunga dari seekor gajah yang membuat pria kecil itu takjub.


Lexis mengucapkan terima kasih kepada hewan berbelalai panjang itu. Sang gajah seperti memahami apa yang diucapkan oleh Lexis, gajah tersebut melakukan gerakan seperti mengangguk. Si tengil kembali menepuk tangannya untuk memberi semangat kepada gajah yang sudah memberikannya bunga yang indah.


Atraksi yang berlangsung selama 2 jam itu tak terasa sudah usai, pawang dan kawanan gajah memberikan ucapan selamat tinggal kepada keluarga Alex dengan menyemburkan bunga ke arah mereka.


Setelah itu, para pelaku atraksi membawa masuk kawanan gajah ke dalam sebuah kandang khusus digunakan untuk melatih para gajah.


"Luar biasa dad! kita kemana lagi?" celetuk Adelio yang belum ingin beranjak dari Taman Hiburan itu.


"Kita naik biang lala, apa kalian berani?" tanya sang mafia, dia ingin mengajak kelima baby kecilnya naik biang lala yang memiliki ketinggian lebih dari 70 meter itu. Dia ingin tahu seberapa besar nyali si kecil.


"Berani!!!" jawab si kembar lima serentak.


Sang mafia sudah menduga sebelumnya, dia dan kelima anak kembarnya itu memiliki sifat yang sama. Menyukai sebuah tantangan, Tetapi ada salah satu hal yang membuat nya ragu, Laras takut ketinggian. Dia pernah naik bianglala di suatu Taman Hiburan sebelumny, kemudian bianglala itu tiba-tiba macet. Alhasil, keranjang bianglala itu harus berhenti tepat di tengah-tengahnya.

__ADS_1


Saat itu anak-anak masih kecil, ada kakek Hans dan nenek Fira yang menjaga mereka. Alex hanya menantang Laras, ia memaksa wanita yang sudah jadi isterinya itu untuk naik bianglala yang sudah membuatnya trauma. Bukannya semakin membaik, Laras justru semakin takut dengan ketinggian.


Alex menatap wajah Laras yang penuh keringat dingin, sang isteri berusaha mengusap peluh itu dengan tisu kering yang ada di tasnya. Dia ingin menyembunyikan rasa takutnya agar tidak diketahui oleh anak-anaknya. Jika ketahuan si kembar 5, dia pasti akan mendapatkan masalah.


"Mommy di bawah saja ya? perut mommy sakit." Laras mengarang cerita sedemikian rupa agar lima jagoannya dan Alex mengurungkan niat untuk mengajaknya menaiki bianglala.


"Aku akan menjaga mommy di bawah, kalian naiklah!" ucap Aarav si kakak pertama yang sangat pengertian.


Laras merasa lega, jurus mengarang ceritanya berhasil.


"Baiklah! kau jaga mommy, aku dan yang lain akan naik ke atas." Alex mengusap rambut Aarav lembut dan mencium kening sang isteri mesra.


Laras dan Aarav mengangguk.



Alex dan anak-anaknya segera menaiki bianglala itu.


Perlahan tapi pasti, kelima anak sang mafia telah masuk ke dalam keranjang bianglala yang akan membawa mereka kepada pengalaman yang luar biasa.


Keranjang bianglala sudah mulai bergerak ke atas, mereka berteriak bersama-sama mengatakan," Let's! go!"


Begitu kompaknya keluarga sang mafia.


"Daddy? itu rumah kita kah? kecil sekali?" tanya Arsen yang menunjuk ke arah rumah-rumah yang terlihat kecil dari atas bianglala.


"Bukan, itu tempat lain sayang." Alex memberikan penjelasan jika apa yang Arsen lihat adalah rumah di wilayah lain yang ada di New York, namun terlihat dari atas bianglala karena ketinggiannya yang lebih dari 70 meter membuat mereka mampu melihat pemandangan yang ada di sekitar Taman Hiburan itu.

__ADS_1


Ke empat anaknya mendeskripsikan banyak hal yang mereka lihat dari atas ketinggian tersebut. Entah itu pohon, bangunan-bangunan tinggi, rumah-rumah yang terlihat kecil dan hal seru lainnya.


"Daddy, kalau mommy ikut pasti seru ya?" ucap Lexis yang ingin sang mommy ikut bersamanya.


"No baby, mommy kelelahan, Mungkin kesempatan yang lain mommy mau naik bianglala bersama kalian," jawab sang mafia tidak akan mengatakan jika sang istri trauma naik bianglala.


"Oke, setelah ini selesai, apa kita akan pulang?" tanya Adelio yang terlihat enggan kembali ke rumah setelah seharian ini berada di Taman Hiburan Tuan Carlo.


"Belum, nanti beberapa jam lagi kita akan melihat pertunjukan firework di atas bukit yang indah, setelah itu kita akan pulang." Sang mafia menjelaskan agenda terakhir sebelum mereka kembali ke rumah, namun ekspresi keempat anaknya sungguh menggemaskan.


Mereka mengatakan dengan tegas tidak ingin pulang, keempat kembar jeniusnya masih betah berada di Taman Hiburan.


Alex memberikan pengertian kepada mereka, bahwa semua hal yang dimulai pasti akan berakhir pada waktunya. Tidak terkecuali urusan Taman Hiburan ini. Sang daddy mengatakan jika mereka sudah memulai bermain dari pagi sampai sore hari, bahkan akan sampai malam hari. Tetapi semua itu akan berakhir, Taman Hiburan juga akan ditutup, semua karyawan serta para hewan juga membutuhkan istirahat. Tidak melulu bermain, semuanya ada waktunya masing-masing.


Awalnya mereka terlihat marah, tetapi saat Alex menjelaskan dengan penuh perhatian dan pengertian, akhirnya ke-4 anak kembarnya itu bisa dikendalikan dan mempercayai apa yang daddynya katakan.


Dua puluh menit cukup untuk mereka berlima menikmati pemandangan di atas ketinggian lebih dari 70 meter, akhirnya keranjang bianglala itu berada di titik awal saat mereka naik.


"Yey! indah sekali pemandangan di atas!" ucap Lexis sangat antusias.


"Iya, aku juga bisa melihat banyak hal, harusnya mommy ikut," jelas Adelio yang menyayangkan saat mommy memilih untuk tetap di bawah saja bersama Aarav.


Setelah Alex dan ke-4 anaknya turun dari keranjang bianglala, Laras menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat karena berhasil menaiki bianglala tanpa macet.


"Wow! luar biasa! kalian memang anak-anak mommy yang hebat dan berani!" puji Laras sembari menatap wajah sang suami yang sudah merasa kelelahan.


"Lain kali giliran mommy ya?" tanya Arsen yang ingin sang mommy juga menikmati pemandangan indah yang mereka lihat.

__ADS_1


Sang mommy melirik ke arah sang mafia yang meyakinkan Laras jika dia mampu melawan rasa trauma itu.


"Oke!" Laras bahkan setuju dengan apa yang anak-anaknya katakan, meskipun entah kapan dia akan melakukannya.


__ADS_2