
Sang mafia menutup panggilannya, ia meminta Laras untuk tidak mengkhawatirkan gengnya yang tengah mengalami permasalahan pelik, musuh dalam selimut. Dia menenangkan sang isteri yang mulai berpikir terlalu jauh, dia berjanji akan segera menyelesaikan permasalahannya. Alex segera menidurkan sang isteri sebelum menghubungi Angela. Hanya butuh dua puluh menit untuk membuat Laras terpejam. Saat sang mafia ingin beranjak dari tempat tidurnya, ia di cegah oleh sang isteri. Tangannya mencengkeram lengan Alex, dia benar-benar tidak mau di tinggal oleh sang mafia.
Terpaksa bos Alex harus menemani Laras terlebih dahulu, namun pikiran dan hatinya merasa gundah oleh sebab pengkhianatan yang telah di lakukan oleh salah satu anak buahnya yang telah ia ketahui identitasnya. Track record saat menjadi anggotanya 'pun sangat buruk. Dia sering ceroboh, terkesan mengabaikan perintah darinya. Tapi cara yang maha kuasa menunjukkan jalan untuk kematian yang pedih bagi pengkhianat selalu saja ada. Kali ini terjadi pada Key, nama itu melekat jelas di ingatan Alex. Key adalah pria kurang ajar yang telah melanggar sumpah setia terhadap bos Alex. Dia juga yang membocorkan kepada para musuh rahasia penting yang harus benar-benar di jaga. Hingga pemberontakkan yang paling nyata adalah, bergabungnya Justin dengan Xiauling di geng Toxic. Key ikut andil dalam perekrutan. Bos Alex memilki belas kasihan terhadapnya waktu itu, tapi saat ini kesabarannya mulai habis menghadapi tingkahnya yang arogan, tindakannya sungguh keterlaluan. Dalam mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, dia sampai membunuh sesama anggota Death Angel.
Laras terlihat sudah terlelap, akhirnya dia bisa kabur dari sang isteri. Dia merapikan rambut yang menutupi wajah Laras, segera ia menutupi separuh tubuh itu dengan selimut. Alex beranjak dari ranjang, dia perlahan keluar dari kamar utama. Ia mempercepat langkah dan naik ke lantai atas bangunan, sang mafia segera mencari nomor ponsel Angela di daftar kontak ponselnya, setelah ketemu ia menghubungi nomor tersebut.
"Angela, kau urus Key. Cari dia sampai dapat! kurung dia di markas utama! siksa dia sampai menyadari kesalahannya!" pinta sang mafia, wajah tampan sangat serius, Terlihat jelas dia sangat marah.
"Baik bos! apa kau akan ikut andil memberinya pelajaran!" tanya Angela.
"Tidak, aku hanya akan memberikan perintah, kalian yang mengeksekusinya," jelas Alex.
"Baik bos!" ucap Angela.
"Kabari aku jika si pengkhianat sudah tertangkap!" titah sang bos.
"Siap! laksanakan!" jawab Angela.
Alex menutup panggilan ponselnya dan berdiri sembari melipat kedua tangannya. Pandangannya lurus ke depan, angin malam behembus. Rasa dingin di kulit tubuhnya tidak di rasakannya. Yang ada dalam ingatannya adalah, sebuah pengkhianatan yang sangat menyakiti hatinya.
...* * *...
Di markas Davis Lee...
"Sial! mengapa mereka mudah sekali tertangkap? untuk apa 200 anggota itu! mereka tidak berguna sama sekali," Key terlihat sangat kesal dengan kinerja para anggotanya.
"Kesalahanmu adalah tidak mengetahui sedang berurusan dengan siapa, asal kau tahu saja! Laras itu anak dari kepala polisi Hans dan Alex adalah suami Laras! kau paham sampai sini?" tanya Davis.
__ADS_1
"Apa?" Key melotot, dia menarik kerah kemeja Davis.
"Mengapa kau hanya diam? tak satupun kata kau ucapkan tentang fakta ini," Bogem mentah melayang tepat di wajah Davis. Namun pria itu hanya tersenyum menanggapi kebodohan Key.
"Kau bilang tahu segalanya," Davis bangkit, ia mengusap wajahnya.
"Tapi kau sekarang di pihakku! aku juga telah membayar satu triliun dan nyawa kawanku agar bisa berkuasa! harusnya kau bantu aku!" Key mencekik leher Davis hingga pria itu tak mampu bernafas.
Davis mencoba lepas dari Key, tapi dia juga tak mampu melakukannya. Perlahan suara Davis hilang, tubuhnya mulai lemas.
"Kau mati saja bersama uang itu!" Key menendang tubuh Davis yang tewas karena kehabisan nafas.
Key berjalan tak tentu arah, dia ingin meminta tolong kepada siapa lagi, saat dia menunduk. Tak sengaja ia bertemu dengan seorang pria paruh baya yang sedang berjalan dengan beberapa anak buah.
"Maaf, aku tidak sengaja," Key berjalan tanpa melihat siapa yang ia tabrak.
Key tidak menggubris perkataan pria tua itu. Dua anak buahnya mencengkeram kedua lengan Key. Anak buah Alex itu melakukan perlawanan, tetapi kedua anak buah pria paruh baya itu bisa merobohkannya.
"Bawa pria tidak berguna itu ke markas!" titah pria paruh baya.
"Apa kau mengenalnya tuan?" tanya salah satu anak buah.
"Lakukan saja semua perintahku!" jawab bos tersebut.
Kedua anak buah pria itu memasukkan Key ke dalam mobil dan membawanya pergi. Sedangkan pria paruh baya itu tersenyum mengetahui jika Key telah berada di dalam genggamannya.
"Lex, perang segera di mulai!" Pria paruh baya tersebut masuk ke dalam mobilnya, menyusul satu mobil yang lebih dulu pergi.
__ADS_1
Di dalam mobil...
"Bos! untuk apa kita membawa pria lemah itu ke dalam markas kita?" tanya anak buahnya.
"Coba kau lihat foto ini," Bos menyerahkan selembar foto kepada anak buahnya.
"Siapa pria ini? apakah pria lemah itu?" Menunjuk wajah yang terpampang di foto.
"Iya, dia anak buah bos Alex, dia pria pembangkang, aku ingin sedikit memolesnya agar terlihat seperti bos besar!" ucap pria paruh baya.
"Kau masih dendam kepada Alex?" tanya anak buahnya.
"Tentu saja! dia telah membuat anak gadisku bunuh diri, dia cari mati! aku telah lama ingin menghabisinya tapi dia terlalu kuat, yang maha kuasa ternyata baik. Memberikan jalan untukku membalas dendam," tukas sang bos.
"Nona Jasmin terlalu mencintai bos mafia itu, sampai-sampai nyawa menjadi taruhannya," timpal sang anak buah.
"Jika waktu itu Alex mau menikahi anak gadisku, Jasmin tidak akan mati mengenaskan! ini semua karena bos mafia sombong dan arogan itu!" jawab sang pria paruh baya.
"Tenanglah bos, kita sudah selangkah lebih maju. Ada pria itu yang bisa membuat kita menang melawan Alex Fernando," ucap sang anak buah.
Sang pria paruh baya tergiang akan kata-kata terakhir anak gadisnya bernama Jasmin.
Jika bukan Alex yang memiliki raga dan jiwaku, orang lain juga tidak boleh memilikinya. Tidak ada pria sebaik Alex di dunia ini. Dia memang cuek, tetapi hatinya sangat baik. Dia menolongku dari tragedi malam itu, dan mengantarku pulang ke rumah. Tapi setelah tahu dia tidak mencintaiku, hatiku sakit dan tersayat. Kau lebih memilih kekasihmu daripada aku, padahal kita lebih dulu bertemu. Lex, semoga kau menyadari jika hanya aku yang mampu mencintaimu hidup dan mati.
Bayang-bayang pesan terakhir dari Jasmin membuat pria paruh baya itu geram. Dia berjanji akan menuntut balas kepada sang mafia yang membuat anak gadisnya merana hingga meregang nyawa.
"Lex, kita akan segera bertemu," tukas sang pria paruh baya.
__ADS_1