Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 185


__ADS_3

Alex melepaskan kacamata hitam serta jaketnya agar lebih leluasa merengkuh sang isteri. Setelah itu, dengan sigap Alex membuka kancing kemeja sang isteri. Dia membiarkan helai kain itu menempel di sana, sang mafia menatap dua aset milik sang isteri yang sudah lama tidak ia sentuh terpampang nyata di depannya, ia menelan salivanya, sang mafia tak mampu menahan rasa penasaran untuk segera bermain di sana.


"Ini semakin berisi sayang," bisik sang mafia saat meraih dua aset sensitif sang isteri.


Laras mencoba menahan diri agar tidak mengeluarkan suara indah dari mulutnya, namun saat sentuhan itu semakin dalam, hingga melibatkan mulut dan bibir sang suami, membuat ibu hamil itu meloloskan suara indah yang membuat sang suami semakin bergairah.


"Kau semakin sensitif sayang," ucap sang mafia yang semakin bersemangat membuat sang isteri merasa nyaman.


"Sayang!" pekik Laras saat sang suami meninggalkan tanda kepemilikan di setiap aset miliknya.


Terasa nyaman namun juga ada sensasi perih karena Alex juga menggigitnya. Meskipun di lakukan berdasar cinta dan kasih sayang, tapi yang namanya gigitan binatang buas tetep saja membuat nyeri.


"Kenapa?" tanya sang mafia saat melihat sang isteri memejamkan matanya seperti menahan rasa sakit.


"Kau mengigitku," jawab Laras lirih.


"Astaga, maaf sayang! aku terlalu rindu padamu, rasanya gemas saat melihat milikmu yang semakin seksi dan berisi," Alex menghentikan aksinya, dia mendekap tubuh sang isteri dengan dua aset menempel di wajahnya.


"Kau mau melanjutkannya?" tanya sang mafia masih dengan posisi melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang isteri, dan sang isteri yang melingkarkan tangannya di leher Alex.


"Aku adalah isterimu, aku rela melakukan segalanya untukmu, tubuhku adalah milikmu seutuhnya, lakukan lebih lembut lagi," pinta sang isteri sembari membelai rambut sang mafia.


Setelah mendapatkan izin, Alex kemudian melepaskan helai kain sang isteri dengan sempurna. Ia melahap habis bibir Laras, segera tangannya bergerilya. Deru nafas keduanya tertahan.


Entah sejak kapan keduanya telah berpacu dalam satu hembusan nafas tanpa berhenti saling bercumbu.


Penyatuan yang sempurna, detak jantung berlomba, helai kain berserakan menjadi saksi betapa luar biasanya aksi sang mafia.


Begitu paripurna setiap sentuhan itu hingga pada detik terakhir, segalanya telah tercurah.


Sang istri memeluk tubuh kekar Alex, mereka saling bertatapan.


"Terimakasih sayang, hadiah terindah darimu," Sang mafia menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Laras.


"Aku lelah," ucap Laras.


Alex merebahkan tubuh sang isteri yang seketika langsung tertidur.


"Sial! apa aku memang binatang?" Sang mafia geleng-geleng kepala dengan kekuatannya, padahal dia belum memberikan energi penuh, tetapi sudah membuat sang isteri terlena.

__ADS_1


Untuk selanjutnya, dia memilih untuk segera membersihkan diri.


Ia mandi di bawah guyuran air shower yang segar, sentuhan dan senyuman sang isteri masih terasa manis di bibirnya.


Sepuluh menit kemudian, sang mafia keluar dari kamar mandi, ia meraih helai bajunya yang berserakan di lantai dan mengenakannya kembali.


Dia menutup tubuh sang isteri dengan selimut. Sang mafia melangkahkan kakinya keluar kamar. Di lihatnya banyak orang sedang memandang ke arahnya.


"Apa yang kalian lihat?" tanya sang mafia. Dia berjalan mendekati mereka.


"Apa?" tanya sang mafia kepada Angela.


"Kau apakan isterimu bos?" tanya Angela.


"Memangnya aku melakukan apa?" Sang mafia kebingungan dengan pertanyaan Angela.


"Isterimu tadi seperti berteriak," Angela menahan tawa.


"Hm," Alex berdehem, ia memikirkan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan.


"Dok, kita harus bicara," pinta sang mafia.


Di dalam ruang pribadi dokter...


"Lex, jaga isterimu, Hari Perkiraan Lahir, bisa maju ataupun mundur. Jangan sampai dia stres," jelas sang dokter.


"Aku harus melakukan apa?" tanya sang mafia.


"Ajak dia bicara hal-hal menyenangkan mengenai momen bahagia yang pernah kalian alami, jaga moodnya, jadilah suami siaga. Aku siap 24jam di sini bersama perawat, jika isterimu merasakan mulas yang teratur, lapor padaku," jawab sang dokter.


"Oke dok. Aku ingin bicara sesuatu padamu, tapi ini rahasia," pinta sang mafia.


"Apa? katakan saja," jawab sang dokter.


"Aku baru saja menengok baby A ku, isteriku tiba-tiba merasakan lelah dan tertidur pulas, apa dia baik-baik saja?" bisik sang mafia.


"Dia hanya lelah mungkin Lex, kau hati-hati kan saat melakukannya?" Sang dokter begitu detail menanyakannya.


"Haha, tentu saja," Alex memutar ulang memori kebersamaan dengan sang isteri. Dia merasa tidak melakukan hal yang salah.

__ADS_1


"Syukurlah jika tidak, persiapkan mentalmu, kau akan jadi daddy dengan 5 baby sekaligus. Ini bukan masalah kecil Lex, banyak hal yang harus kau pelajari, saat isterimu melahirkan, tetap di sisinya. Ini membuat mental seorang ibu hamil bisa lebih stabil," jelas sang dokter.


"Baik dok, dengan dukungan darimu, aku akan menjadi suami siaga, kira-kira sudah kah? hanya itu saja?" tanya sang mafia memastikan.


"Iya, sementara itu, saja. Oh ya, tadi isterimu berteriak, kau terlalu kuat sepertinya," ucap sang dokter menahan tawa.


Sang mafia salah tingkah, dia langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Dok, terimakasih atas informasinya, aku merasa harus segera pergi," tukas sang mafia yang kabur begitu saja.


"Dasar, mafia itu," gumam sang dokter.


Setelah keluar dari ruangan sang dokter, ia melihat banyak orang sedang berkumpul di ruang tamu.


Di sana ia melihat ada sang isteri yang tengah tertawa bersama semua anggota keluarga.


Alex mendekati mereka, ia menatap wajah sang isteri yang sudah cerah kembali dengan mengenakan baju yang berbeda.


"Kau sudah mandi?" tanya sang mafia yang menggeser semua orang agar dia bisa duduk di samping Laras.


"Hey? jangan kira kau mafia, ibu mertuamu akan mengalah ya?" jawab nyonya Fira yang tak mau berpindah tempat duduk.


"Nyonya Fira, sudahlah. Kita main game saja di kamar," ajak Angela.


Untung saja nyonya Fira mau menuruti ucapan Angela, jadi Alex dan Laras bisa duduk bersama.


"Aku tidak ingin menjadi obat nyamuk, sayang aku ikut main game," tukas Richi beranjak dari tempat duduknya, begitu juga para perawat yang lebih memilih kabur daripada kena semprot bos mafia.


"Jadi sepi lagi kan," gerutu sang isteri.


"Kan ada aku dan lima baby A," jawab sang mafia. Ia mencium perut sang isteri.


"Tapi mengapa kau usir mereka?" Sang isteri kesal karena ulah tengil sang mafia membuat semua orang kabur.


"Mereka masih ada di sana, sedang mengintip," Alex menunjuk ke arah kamar tamu, ada banyak pasang mata yang ternyata masih setia menunggu momen indah pasangan romantis itu.


Laras menahan tawanya saat sang suami mendekati pintu kamar tamu yang tiba-tiba tertutup.


"Tutup telinga kalian, jika mendengar suara aneh, pura-pura saja tuli," pekik sang mafia.

__ADS_1


__ADS_2