Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Penyusup!


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah berhasil menaiki bianglala yang memiliki tinggi lebih dari 70 meter itu, sang mafia dan keluarga berjalan menuju bukit. Mereka menunggu sampai malam tiba sembari beristirahat karena di sana tersedia sebuah tempat peristirahatan yang cukup mewah yang telah Tuan Carlo design sedemikian rupa agar para pengunjung merasa nyaman saat melihat pertunjukan kembang api.


Perjalanan menuju bukit itu cukup menghabiskan tenaga, letaknya yang lebih tinggi dari tempat lain yang ada di Taman Hiburan Tuan Carlo, membuat Alex dan keluarga lebih berhati-hati agar tidak terjatuh.


Namun semua perjuangannya, terbayar sudah saat mereka bertujuh sampai di atas bukit.


"Ini indah sayang!" ucap sang isteri takjub melihat pemandangan kota New York di atas ketinggian waktu senja hari.


"Untung saat naik bukit tidak merasa takut, jadi kita bisa bersama melihat pertunjukan kembang api." Sang mafia menatap wajah sang isteri yang tersenyum manis ke arahnya.


"Iya, aku tidak takut. Ini juga hanya beberapa meter tingginya, berbeda dengan bianglala itu," bisik Laras.


Keduanya melupakan segala hal tentang trauma, yang mereka ingin adalah menyaksikan pertunjukan kembang api di atas bukit.


Alex dan keluarganya duduk bersama di sebuah kursi yang terbuat dari kayu, di sana juga tersedia beberapa buah jagung manis, ada juga perlengkapan seperti pesta barbeque.


"Ada pesta barbeque juga di tempat ini, Tuan Carlo sudah memikirkan banyak hal," ucap sang mafia yang lagi-lagi kagum dengan susunan acara yang Tuan Carlo rencanakan.


Sembari menunggu pukul delapan malam, mereka bercengkrama dengan anggota keluarga masing-masing.


"Dulu, daddy pernah ke tempat seperti ini?" tanya Arsen penasaran.

__ADS_1


"Belum pernah, ini pertama kalinya. Tidak tahu kalau mommy kalian," jawab sang mafia sembari melirik ke arah sang isteri.


"Mommy pernah, waktu itu mommy masih kecil, kakek Hans mengajak mommy pergi ke sebuah tempat yang indah sekali di atas bukit, tepatnya di desa kakek buyut. Di tempat itu banyak sekali kelinci karena kakek buyut sengaja memelihara kelinci di desa. Mommy sudah lama tidak pergi ke sana karena kakek buyut sudah tiada, lagi pula daddy kalian juga sibuk." Laras bercerita tentang pengalaman masa kecilnya bermain di sebuah bukit indah.


Alex mengingat apa yang Laras ucapkan, waktu itu sang istri merayu ingin pergi ke desa tempat kakek buyut menghabiskan masa tuanya. Tetapi waktu itu, Alex sedang mengerjakan banyak hal, alhasil ia tidak mampu memenuhi permintaan sang isteri.


"Wah, Aku juga ingin pergi ke rumah kakek buyut yang ada di desa, ayo daddy! kita pergi ke sana! meskipun kakek buyut sudah tiada, pemandangannya kan masih ada? ayo kita ke sana kapan?" Lagi-lagi si tengil Lexis, menunjukkan eksistensinya sebagai kakak ke-3 yang pandai mengeluarkan jurus mautnya, merengek sampai kedua orang tuanya memenuhi keinginan sang kakak ketiga.


"Lain kali saja, saat waktunya sudah tepat, kalian akan pergi ke sana tapi harus bersabar ya?" Sang mafia kembali bernegosiasi dengan kelima babynya yang cukup membuat sang mafia kelelahan, apalagi Lexis si tengil yang memiliki jurus rayuan maut.


"Iya, lain kali saja ya sayang?" Sang isteri membantu Alex meyakinkan kelima anaknya agar tidak terlalu memaksa daddynya karena masih ada waktu lain. Laras berharap kelima anaknya mengerti apa yang ia sampaikan.


Sudah sekitar satu jam lebih keluarga sang mafia itu bercengkrama, anak-anak sudah merasa bosan. Tetapi tiba-tiba saja datang Tuan Carlo, dia membawa banyak sekali mainan.


"Hayo! siapa yang ingin bermain? Paman Carlo memiliki banyak sekali permainan yang kalian sukai, kalian sudah siap untuk bermain?" Tuan Carlo membuat mood kelima baby mafia menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Mereka mengambil satu mainan yang Tuan Carlo bawa, seperti lego, mobil-mobilan, robot dan masih banyak lagi.


Alex dan Laras merasa terbantu dengan kehadiran Tuan Carlo, tanpa dia semuanya akan menjadi kacau.


"Terimakasih Tuan Carlo, kau datang disaat yang tepat. Mereka sudah merasa bosan menunggu." Sang mafia tersenyum ke arah Tuan Carlo yang sangat senang bisa membantu sang mafia mengasuh kelima baby-nya.

__ADS_1


"Tidak masalah Tuan, ini sudah tugasku memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengunjung. Apalagi kau adalah tamu istimewa kami, ada banyak mainan di tempatku, aku hanya menggunakannya untuk merayu anak-anakmu. Aku sudah mengawal mereka dari awal sampai tiba di bukit ini," jelas Tuan Carlo yang sudah mengantisipasi segala hal yang akan terjadi.


Saat kelima anaknya bermain, Tuan Carlo ingin berbicara kepada sang mafia. Ada hal yang ingin ia sampaikan, Laras sudah mengerti apa maksud dari Tuan Carlo, dia segera menyingkir dari mereka berdua. Laras memilih menemani 5 jagoannya bermain.


"Ada apa?" tanya sang mafia yang duduk di atas kursi yang terbuat dari gelondongan kayu utuh.


Sang pemilik Taman Hiburan, juga duduk di depan sang mafia.


Posisi duduk mereka, saling berhadapan.


"Ada seorang pria yang datang kemari, dia mengaku sebagai anggota keluargamu. Tetapi kami tidak mempercayainya begitu saja, saat petugas menanyakan identitasnya, orang itu kabur. Kami sudah melakukan pencarian terhadap orang yang mencurigakan itu, semoga kurang dari 24 jam pria itu bisa segera di tangkap." Tuan Carlo ternyata memberikan kabar buruk di saat kebahagiaan keluarganya baru saja dimulai, musuh sudah mengintai. Alex harus lebih waspada agar tidak kecolongan. Para musuh sang mafia adalah orang-orang yang kejam dan tidak mengenal rasa belas kasihan. Dia khawatir jika mereka sudah mengetahui keberadaannya yang kini sedang bersama anak dan istrinya, akan sangat mengancam keselamatan keluarga kecilnya.


"Setelah acara pesta kembang api, kita harus membicarakan hal ini lebih serius. Aku tidak ingin keluargaku dalam bahaya, aku dan anak-anakku adalah bagian dari kehidupanku. Para musuh akan mengejar mereka terlebih dahulu," jelas sang mafia yang berbicara dengan nada berbisik, membuat Laras ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Namun Laras yang berada jauh dari jangkauan sang suami, hanya mampu mengira-ngira apa yang sedang Tuan Carlo sampaikan kepada sang suami.


'Semoga saja bukan sesuatu yang buruk, aku dan Alex baru saja menikmati kebahagiaan ini, kesal rasanya jika harus menghadapi musuh-musuhnya yang selalu saja mengganggu. Laras, fokuslah! anak-anakmu di sampingmu, jangan membuat mereka ikut khawatir dengan apa yang kau pikirkan.' batin sang isteri yang sangat sedih jika sang mafia harus kembali bertarung.


Melihat mommynya melamun, Adelio menarik baju sang mommy.


"Jangan melamun mommy, kita bermain lagi ya? ayo mom!" ajak Adelio yang sangat antusias menata Lego yang ada di depannya.


"Oh oke, maaf sayang, mommy hanya kelelahan." Laras mencoba menyembunyikan segala rasa gundah dari kelima baby jeniusnya.

__ADS_1


__ADS_2