
Alex pamitan kepada sang istri, dia memeluk erat tubuh itu dan mencium keningnya dengan sangat mesra. Nyonya Fira, Guru Fu dan sang istri merasa sangat bahagia karena melihat kedua manusia itu terlihat saling menyayangi dan selalu akur.
Doa terbaik mereka untuk Laras dan Alex.
Dengan pamitnya sang mafia berarti dia harus segera menyusun rencana untuk menangkap ayah Raf.
Langkahnya yakin menuju pintu keluar, dia melarang semua orang untuk mengantarnya sampai di depan rumah Guru Fu, merasakan kehilangan yang teramat ketika harus meninggalkan sang istri sendirian di saat hamil.
Batinnya pasti akan sangat teriris di saat seperti ini harus pergi, ini bukan gayanya. Dia pria yang selalu ingin dekat dengan sang istri dikala Laras sedang hamil, seperti saat dulu, si Laras hamil baby A.
Alex berjalan menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Setelah ia sampai di jalan raya dan berdiri tepat di depan mobilnya, dia menghela nafas panjang.
"Tuhan, aku tidak memohon kekayaan ataupun kekuasaan. Aku hanya memohon kau selalu menjaga anak dan istriku, jagalah selalu keutuhan rumah tangga kami." Doa Alex dari lubuk hati yang paling dalam, dia teramat menyayangi keluarganya, setelah menikah dia bukan pria yang selalu mementingkan dirinya sendiri tetapi kepentingan keluarga adalah diatas segalanya.
Dia menaiki kuda besinya, tanpa ragu dia tancap gas menuju rumahnya.
Di sepanjang perjalanan, dia berkomunikasi dengan Willy lewat sambungan telepon.
"Will? Raf amankan? aku berharap dia belum mati," ucap Alex sembari fokus menyetir.
"Dia masih hidup bos, sedari tadi dia mengumpat dan berisik sekali. Dia mengatakan ingin membunuh dan membakar hidup-hidup," jawab Willy yang langsung disambut oleh suara tawa sang bos.
"Hahaha, mau apa lagi dia?! dengan mudahnya mengatakan hal tidak mungkin. Justru dia sendiri yang harus mati, aku akan membakarnya hidup-hidup." Suara Alex berubah semakin berat dan itu sangat menyeramkan, dia selalu tidak main-main dengan ucapannya. Dia membiarkan si pengecut itu hidup agar merasakan kepedihan, tersiksa, sebelum malaikat maut menjemput.
"Kau tenang saja bos, dia tidak bisa pergi kemana-mana. Jika 'pun mampu, dia akan segera tewas." Willy sudah mengambil ancang-ancang agar si Raf tidak melakukan tindakan yang berlebihan akan membuatnya melakukan sesuatu yang menyakitkan untuk si pengecut.
"Bagus! kau pantau terus orang itu. Aku akan pulang ke rumah sebentar, setelah itu kembali ke markas untuk menyiksa Raf," ucap bos Alex.
"Baik bos!" jawab Willy.
Alex mengakhiri panggilan teleponnya kemudian segera mempercepat laju kuda besinya agar segera sampai di rumah.
....
Beberapa menit kemudian...
Akhirnya mobil sang mafia telah terparkir sempurna di depan rumahnya. Dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Dia mencari kelima anaknya dan sang ayah mertua.
Langkah kakinya berhenti di depan ruang keluarga, dia menatap kelima anaknya sedang bermain robot robotan dan tebak-tebakan bersama Tuan Hans.
__ADS_1
Dia berdiri mematung sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Satu tatapan sinis dia dapatkan dari Alexis, dia marah kepada sang ayah yang tak kunjung kembali.
"Lihat Kak Aarav, daddy ada di belakang kita dan hanya diam saja," sindir Alexis dengan mulut yang cemberut.
Keempat baby A yang lain memberikan respon positif terhadap kedatangan sang ayah, mereka beranjak dari tempat duduknya kemudian memeluk sang ayah secara bersamaan.
Sedangkan Alexis masuk ke kamar dan mengunci dirinya.
"Daddy, kami sangat rindu kepada daddy. Mengapa lama sekali?" tanya Adya sembari mendongakkan kepalanya kearah sang daddy yang tersenyum kepadanya.
"Iya, maafkan daddy yang jahat ini, coba kalian bujuk Alexis, dia sepertinya marah dengan daddy." Alex dari bahwa dirinya memiliki banyak seseorang terhadap anak-anaknya, utama Alexis.
Dia menjanjikan banyak permainan kepada anaknya itu, tapi tak kunjung ia tepati.
"Baik daddy, kami akan membujuk Alexis agar tidak marah lagi." Si Aarav mengajak ketika adiknya untuk membujuk Alexis, sedangkan sang mafia jalan menuju Tuhan hadis yang sedang bermain ponsel.
"Ayah, aku harus berbicara denganmu. Ayo kita masuk ke dalam kamar, agar anak-anak tidak mendengar apa yang kita bicarakan," ajak sang mafia.
"Oke," jawab Tuan Hans mengekor langkah sang menantu.
....
Alex dan ayah mertua duduk di kursi yang tersedia di kamarnya, tidak segera membicarakan tentang Raf dan Tuan Dama.
"Yah, kau tidak jadi ke kantor polisi? apa mereka mengampunimu?" tanya Alex yang penasaran dengan sang ayah yang masih santai saja di rumah, dia harusnya sudah ada di penjara.
"Ada masalah di sana, Raf kau culikkan?" ucap Tuan Hans dengan wajah yang datar.
"Iya, aku tidak menculiknya tetapi ingin menyiksanya." Sang mafia selalu berterus terang. Membuat sang mertua mengembangkan senyum di bibirnya.
"Lex, dengarkan aku, Tuan Dama lebih mengerikan daripada Raf, dia pasti akan meminta bantuan MK dan saudaranya yang menyebalkan itu, kita harus segera menyusun rencana." Tuan Hans sudah memahami apa yang ada di kepala sang menantu, dia bersedia untuk membantu sang menantu menyusun taktik agar Tuan Dama dapat segera diringkus.
Cukup lama keduanya berdiskusi, akhirnya mereka mendapatkan kata sepakat. Satu rencana telah mereka siapkan, untuk selanjutnya realisasinya.
"Ayah, kau bawa anak-anak ke rumah Guru Fu. Setelah ini aku akan kembali ke markas dan membuat perhitungan kepada Raf." Sang mafia langsung beranjak dari tempat, saya ingin segera menuntaskan tugas yang selama ini ia harapkan, membuat Raf tersiksa.
"Kau pergilah Lex, tidak perlu berpamitan dengan anak-anakmu, mereka pasti akan mengerti. Aku ya akan memberikan pengertian kepada mereka," saran sang mertua.
"Oke, terima kasih ayah mertua atas segala kebaikanmu. Tunggulah kabar selanjutnya dariku." Sang mafia membuka pintu kamar utama dan segera keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Dia sangat ingin memeluk tubuh kelima anaknya tetapi waktunya belum tepat, tetapi dia harus menuntaskan tugasnya dan menjalankan rencana bersama Tuan Hans.
Tanpa basa-basi, dia segera menaiki mobil mewahnya dan melesat jauh menuju markas utamanya.
Semua anggota yang melihat sang mafia terkejut karena mobilnya seperti terbang, saking cepatnya sang mafia tancap gas.
"Bos, memang seperti itu. Jika dia pergi terburu-buru seperti malaikat maut yang terbang menuju para berengsek sialan seperti Raf!" Salah satu anggota yang menjaga rumah Alex sangat mengagumi sang bos.
Pria baik yang selalu mencintai keluarganya tanpa batas.
....
Di ujung sana, sang mafia sedang mendapatkan panggilan telepon dari orang misterius.
"Lex, lama tidak berjumpa!" ucap si penelepon.
"Siapa kau dasar pengecut!" jawab Alex kesal.
"Aku adalah pria yang kau cari," tukas si penelepon dengan suara angkuhnya yang menyebalkan.
"Tuan Dama? kau?"
"Iya ini aku, ahaha!"
"Aku ternyata kabur seperti pecundang!"
"Kau salah Lex, aku tidak kabur tetapi memilih untuk memperkuat diri, tunggu pembalasanku setelah ini, harus tahu jika aku bukanlah pria tua yang tidak memiliki apapun. Aku ada orang yang berkuasa di dunia mafia, jika kau ingin menghabisi anakku habisi saja, dia sudah tidak berguna bagi ku."
"Haha, pria tua yang sangat lemah. Kau akan menyesal telah meremehkanku, kau tidak perlu susah untuk melupakan anakmu, aku yang akan melenyapkan nya karena aku akan segera membakarnya hidup-hidup!"
"Kau!"
...
.
.
Mampir lapak temanku kak, jangan lupa like komen fav 😘.
__ADS_1