
"Akhirnya kau sadar juga, cobalah minum ramuan yang ku buat ini." Ucap seorang pria tua kepada Waylin yang tengah duduk bersender di sebuah tempat tidur sederhana yang terbuat dari bambu.
Setelah meminum ramuan dari sang pria tua, Dia menyuruh Waylin kembali berbaring. Lin mencoba bertanya tentang keberadaan sang bos. Pria tua itu mengatakan jika pria tampan yang berada dalam mobil bersama Waylin itu sedang mendapatkan perawatan khusus darinya. Pria tua itu sedang mencoba mengobati luka Justin. Waylin meminta sang pria tua untuk mengantarnya menemui sang bos, tetapi dia melarang Waylin karena akan mengganggu pengobatan Justin.
"Aku sangat berterima kasih kepadamu, Tuan. Kelak saat kami kembali ke kota, akan aku beri kau uang yang banyak." Ucap Lin.
"Panggil saja saya Guru Fu, murid-muridku biasa memanggilku dengan nama itu. Untuk masalah uang, kami tidak pernah menggunakan alat pembayaran itu setelah berada di tempat ini." Jawab pria tua itu.
"Baiklah guru Fu, terima kasih banyak atas kebaikan hati Guru yang membantu kami lolos dari maut. Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan guru?" Tanya Waylin.
"Sudah ketetapan dari yang maha kuasa jika sesama manusia harus saling membantu. Kami tidak membutuhkan balas jasamu, kau tinggallah disini untuk beberapa waktu karena temanmu itu masih harus mendapatkan pengobatan." Jawab Guru Fu.
"Bagaimana keadaan bos ku Guru?" Tanya Waylin cemas.
"Dia masih belum sadarkan diri. Tidak usah terlalu mengkhawatirkannya karena dua hari lagi dia pasti sudah siuman. Kau beristirahatlah." Jawab Guru Fu.
Guru Fu kemudian meninggalkan Lin sendirian dan pergi ke ruangan dimana Justin sedang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri.
"Putra dari Tuan Fernando ternyata masih hidup, ku kira dia sudah tewas karena keluarganya di bantai geng naga api." Ucap Guru Fu sambil memandang wajah Justin yang mirip dengan wajah bosnya dulu.
* * *
Alex kini di buat cemas dengan teror pesan singkat yang di terimanya. Dia merasa jika Tuan Xiauling sudah mulai bergerak untuk menyerang balik Death Angel. Dia kemudian meminta Richard masuk ke dalam ruangannya untuk membicarakan hal penting ini.
"Kau sudah tidak marah denganku ternyata, syukurlah." Ucap Richi.
__ADS_1
"Kau kira aku seorang gadis yang marah terlalu lama karena masalah yang sepele? aku memintamu kemari bukan membahas itu, tapi aku ingin mengatakan jika Tuan Xiauling sudah mulai menerorku." Jelas Alex.
"Darimana kau tahu jika Tuan Xiauling menerormu?" Tanya Richi.
Alex bercerita jika dia baru saja menerima pesan singkat berisi sebuah ancaman tentang rencana penghancuran Death Angel, dia memperlihatkan pesan singkat itu kepada Richard.
Apa kabar Tuan Alex Fernando, pasti kau sudah merasa menang karena telah melenyapkan kakakmu. Tapi ingat, Toxic belum tiada. Mereka akan dengan mudah menghancurkan Death Angel, bersiaplah!!!!
#T.X
Richard kemudian meminta Alex untuk mengizinkan dirinya bersama Angela menyelidiki siapa dalang dari pengirim pesan singkat tersebut. Tapi Alex tidak menyetujui permintaan sang sahabat di karenakan hubungan percintaan antara keduanya akan sedikit mengganggu Richi untuk fokus ke dalam tugas yang di berikan nanti. Apa lagi sekarang ada Laras di markas utamanya, dia butuh Angela untuk menjaga sang gadis pujaan. Alex kemudian meminta Willy dan Sam untuk pergi bersama Richi menyelidiki identitas sang peneror. Setelah mendapatkan perintah dari Alex, Richi bergegas menemui Willy dan Sam untuk segera membuat rencana penyelidikan.
Alex melangkahkan kedua kakinya menuju kamar yang berada di sebelah ruang kerjanya. Dia membuka pintu kamar tersebut dan melihat sang gadis pujaan tengah terlelap tidur. Bos mafia itu berbaring di samping Laras, dia memandang wajah sang gadis cantik. Wajah yang tidak akan pernah bosan untuk di pandangnya.
"Wajahmu sangat cantik, gadisku. Kapan kita akan membuat keluarga kecil yang bahagia? aku terlalu naif jika mengatakannya. Tapi aku ingin sekali mewujudkannya, takdir hidupku ini kalau bisa ku tukar dengan pria biasa, aku lebih memilih itu." Ucap Alex sambil membelai rambut Laras dengan lembut.
Di saat angan-angannya melayang begitu tinggi, terdengar suara getaran yang berasal dari telefon genggamnya. Seketika angan-angannya terhenti, kini logikanya kembali ke dunia nyata.
Karena khawatir Laras akan terbangun saat mendengarnya menerima panggilan telefon, dia bangkit dari ranjang dan menjauhi sang gadis.
"Hallo, siapa ini?" Tanya Alex.
"Alex Fernando yang malang. Kau harus bermusuhan dengan kakakmu sendiri sampai Ia tiada karena keegoisan dari Fudo yang tidak mengizinkan wilayah Death Angel terbelah." Jawab sang penelfon.
"Jangan seperti pengecut, katakan sebenarnya siapa kau?" Tanya Alex geram.
__ADS_1
"Besok temui aku di Bar terbesar di pusat kota, mari buat kesepakatan di sana." Jawab sang penelfon.
"Cih, aku tidak mau bertemu orang sok penting sepertimu. Pekerjaanku masih banyak, tidak ada waktu mengurus pengacau sepertimu."
Alex menutup panggilan dari orang tidak di kenal tadi dan melempar ponselnya di atas meja begitu saja. Dia tidak ingin membuat moodnya buruk karena ancaman tidak penting, dia lebih memilih menemani sang kekasih dan memeluknya erat.
"Tuan?" Tanya Laras.
"Iya, ada apa?" Jawab Alex.
"Bisakah kau selalu di sisiku dan memelukku setiap saat?" Tanya Laras.
"Tentu saja bisa, aku sangat mencintaimu gadis cantik. Itulah hal yang seharusnya aku lakukan. Memangnya ada apa?" Jawab Alex.
"Ibu dan Ayahku tidak setuju dengan hubungan kita. Apa kau mau berjuang bersamamu mendapatkan restu?" Tanya Laras.
"Tentu saja, restu itu landasan utama sebuah hubungan. Aku akan segera menyelesaikan urusanku, setelah itu kita berjuang bersama." Jawab Alex.
"Terima kasih Tuan Alex, kau telah memberikanku cinta yang baru dan menenangkan." Ucap Laras.
"Sama-sama sayangku. Kau tenang saja, aku akan menjaga cinta ini hanya untukmu. Meskipun kau selalu menganggapku sebagai orang jahat, sungguh kau adalah gadis pertama dan terakhir di dalam hidupku." Jawab Alex.
Saat Ia kembali memandang sang gadis cantik, ternyata sang gadis masih menutup matanya dan tidur dengan pulas. Dia baru menyadari jika sang gadis pujaan hanya mengigau saat bicara dengannya. Dia tersenyum saat mengetahui dirinya menjawab pertanyaan dari orang yang sedang tidur.
"Seumur hidupku, aku belum pernah mengetahui orang tidur bisa di ajak bicara." Gumam Alex.
__ADS_1
Saat hendak memejamkan mata, dia teringat akan kata-kata sang penelfon yang menyebalkan itu. Dia merasa jika dia harus segera menemui sang penelfon. Alex merasa sang penelfon pasti mengincar Laras juga. Dia tidak akan membiarkan gadis pujaannya dalam kesulitan.