Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Menunggu di markas


__ADS_3

Han Bin dan Richi terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Richi yang lebih dewasa dan ngemong, membuat Han Bin merasa nyaman.


"Tuan, aku merasa kau sudah menikah," ucap Han Bin.


Dia melirik ke arah Richi yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Oh iya, aku sedang melihat laporan yang penting. Kau sendiri? juga melihat ponsel?" tanya Richi.


Sahabat sang mafia menatap wajah Han Bin yang terlihat lesu.


Dia mengira sang bocah sedang merasakan kesedihan.


"Kau sepertinya sedang sedih?" tanya Richi lagi.


"Tidak Tuan, hanya saja terasa sesak di dada saat mengingat nasib nenek dan kakekku," pungkas Han Bin sambil menatap luar jendela pesawat.


"Bisa mau jelaskan keluh kesahmu?" sahut sang sahabat mafia.


"Aku baru saja mendapati masalah besar, nenekku sakit dan aku harus merampok tempat perjudian untuk mendapatkan uang untuk pengobatan nenekku yang sedang sakit. Para geng yang tidak suka denganku langsung menghajarku karena tidak terima aku selalu menang saat melewan mereka," tandas Han Bin.


"Kasihan sekali kau, semoga kau tidak mendapatkan keburukan setelah ini. Kau bocah tengil yang baik hati," ujar Richi dengan senyum mengembang di bibirnya.


Han Bin tidak menjawab hal ini. Sang sahabat mafia fokus dengan beberapa laporan yang harus disampai kepada Tuan Fudo, dia tidak bisa tidur jika ini tugas utamanya tak kunjung beres.


Beberapa menit berlalu, Han Bin terpejam. Richi melihat ada ketenangan di dalam tidur nyaman pria sok tangguh di sampingnya.


"Pria ini cukup kuat, dia memang masih muda, tapi lumayan juga otot tangannya," tukas Richi sambil mengamati pria di sampingnya.


Setelah beberapa jam berada di pesawat, akhirnya sampai juga di NY ...


Richi yang masih siaga, membangunkan Han Bin agar segera membuka mata kemudian keluar dari pesawat.


"Boy? bangunlah!" Richi Membangunkan pria yang sangat nyenyak bahkan mengeluarkan cairan dari sudut bibirnya. Pria itu terlihat sangat lelah dan mengantuk.

__ADS_1


"Oh,oke," sahut sang pria kecil yang terkejut. Dia terlihat mengelap cairan di sudut bibir dengan baju lusuhnya.


Kedua orang itu beranjak dari tempat duduknya. Setelah itu, mengantri untuk turun dari pesawat.


Penumpang dari Macau menuju NY lumayan full, jadi harus x-tra sabar.


Sang pria kecil masih saja mengantuk. Mulutnya terus saja menguap.


"Kau hobi sekali tidur," ledek Richi.


Dia menatap Han Bin yang masih dengan rasa kantuknya.


"Iya, aku memang seperti itu. Apalagi di pesawat, aku pasti tidur sampai pesawat lepas landas. Kadang aku tidak menyadari bahwa sudah berada di bandara, aku sering tertinggal di sana," jelas Han Bin dengan menahan tawanya.


Han Bin memang ceroboh dari awal, tidak ada keseriusan di dalam setiap tindakannya.


Akan tetapi dibalik sifat kocaknya, dia sangatlah baik dan tidak pernah melakukan tindak buruk kepada siapapun.


Mereka mencari keuntungan di balik ketakutan semua orang.


**********


Akhirnya kedua orang itu turun juga dari pesawat.


Richi langsung menghubungi Willy agar menjemputnya.


Tidak beberapa lama kemudian, mobil Willy sudah terparkir di depan bandara.


Richi dan Han Bin langsung masuk ke dalam mobil itu.


"Siapa dia Richi?" tanya Willy heran.


"Hanya teman," tandasnya.

__ADS_1


"Oh," ujar Willy singkat.


Willy langsung tancap gas menuju markas besar Death Angel.


Perjalanan yang cukup melelahkan, karena Willy harus putar balik untuk kedua kalinya karena mendapati kemacetan di beberapa jalan utama yang ia gunakan untuk jalan singkat agar sampai ke tempat tujuan.


Setelah drama jalanan macet lewat, akhirnya mobil Willy sampai di depan markas utama Death Angel.


"Kau jangan pernah membocorkan lokasi markas, jika tidak ingin mati," ujar Willy memperingati.


"Iya, kau bawel sekali," cakap Han Bin.


Willy terlihat kesal, dia menatap wajah Han Bin dengan seksama.


"Hei! tengil, turun cepat! Kau harus mendapatkan ganjaran karena terlalu songong." Willy akan membuat sang bocil kena batunya karena telah mengatakan bahwa dirinya bawel.


Han Bin tidak menggubris apa yang dikatakan Willy.


Richi hanya bisa melipatkan kedua tangannya di dada sambil mengamati perbincangan tak berfaedah dari Willy vs Han Bin.


Dia tidak terlalu memikirkan hal lain, dia hanya ingin Han Bin tetap fokus.


"Fokus tujuanmu nak," pinta Richi.


Sang bocil mengangguk.


Setelah ketiga orang itu turun dari mobil, langkah mereka mantap menuju pintu utama markas.


"Luar biasa markas Alex, bangunannya lain daripada yang lain," ujar Han Bin memuji.


"Tentu saja," tandas Willy.


******

__ADS_1


__ADS_2