
Richi terdengar tidak mengatakan apapun di sambungan telepon, Yovan merasa jika sahabat Alex itu juga menuduhnya bersalah.
Tetapi semua prasangkanya salah ketika Richi kembali berbicara.
"Yov, aku akan melakukan penerbangan ke Macau hari ini. Kau tunggu aku di bandara," pinta Richi.
Seketika itu juga panggilan telepon itu terputus, Yovan mendongak ke atas dan menatap wajah sang gadis.
"Koinnya habis, kau masih memiliki yang lain?" tanya Yovan.
"Tidak Tuan, lebih baik kita mencari tempat yang lebih aman. Entah dimanapun kita harus keluar dari Macau," jawab sang gadis dengan percaya diri.
"Kita tunggu Richi, bawalah aku ke hotel yang dekat dengan bandara. Di bar yang dekat dengan bandara, aku memiliki seorang teman, dia bisa memberikan kita tumpangan di apartemennya yang tidak pernah ia tempati selama dua minggu ini. Seharusnya, aku sudah bersama Sia dan menikah dengannya. Apartemen itu akan aku jadikan rumah sementara untuk keluarga kecil kami, tetapi apalah daya! MK telah melakukan hal yang buruk terhadap Sia," ucap si Yovan memberikan fakta terbaru kepada sang gadis.
"Apa dia dibunuh oleh MK?" tanya Tzuyu terang-terangan.
__ADS_1
"Belum, aku datang kemari untuk menyelamatkannya tetapi MK tidak memberikan keterangan di mana Sia berada saat ini. Aku terlalu mencintainya hingga harus babak belur seperti ini, cintaku padanya seperti bola api yang terus menggelinding, jika kau dilecehkan oleh MK berarti kau rugi besar, karena MK hanya mencintai Sia." Ungkapan hati Yovan yang sangat tersakiti dengan sikap MK.
Mereka ketika sudah bersahabat sejak lama tetapi semua hancur hanya karena seorang gadis yang sama-sama mereka cintai hingga membuatnya harus babak belur dan hampir tewas gara-gara ingin menyelamatkan sang gadis.
Apalagi, kini dia menjadi sosok penghianat di mata Alex.
Sungguh luar biasa tekanan batin yang sedang ia alami, semuanya terasa sangat berat untuk dijalani.
Yovan sudah tidak sanggup lagi tetapi karena rasa iba terhadap sang gadis yang menjadi korban MK, dia tetap ingin balas dendam, setidaknya bisa menyelamatkan Sia dari ancaman MK, meskipun itu sangat tipis kemungkinannya.
Dia mulai sadar diri dengan apa yang ada di dalam hatinya, Han Bin adalah orang yang tepat untuknya bukan Yovan.
Biarpun Han Bin tewas, setidaknya dia akan menemukan mayat itu dan menguburkannya dengan layak di tanah kelahirannya.
"Oh oke, mari kita pergi ke bar milik temanmu itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan jika sudah ada di depan mata." Sang gadis menarik kursi roda itu dari kotak persegi panjang yang digunakan Yovan untuk tempat menelepon Richi, kemudian membawanya menuju mobil yang masih aman terparkir di pinggir jalan.
__ADS_1
Dia dengan telaten membantu Yovan masuk ke dalam mobil, setelahnya dia kembali membereskan kursi roda dan menyimpannya di dalam bagasi mobilnya.
"Kau siap Tuan?" tanya Tzuyu.
"Siap!" jawab Yovan.
Tzuyu semula tidak bisa menyetir kini bisa langsung tancap gas dengan kecepatan lumayan tinggi menuju yang berada di dekat bandara yang dimaksud.
Yovan yang bangga kepada Tzuyu kemudian melontarkan pujiannya.
"Kau hebat! sekali aku ajari langsung bisa," puji Yovan.
"Ya, tentu saja. Kau yang mengajariku pasti semuanya akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar."
....
__ADS_1