Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 87


__ADS_3

Alex membawa mayat sang kakak di atas pundaknya, dia ingin menguburkan sang kakak di tanah kelahirannya dulu bersama kedua orang tuanya dan para anggota Blue Sea yang tewas akibat ulah Naga Api. Perlahan Alex berjalan melewati para anggota Lucifer yang terkapar tak berdaya karena tangan besinya, bos mafia itu belum kehilangan belas kasih untuk sang kakak, meski Justin semasa hidupnya begitu membencinya, dia akan tetap membuat tempat peristirahatan yang layak untuk sang kakak.


Sepuluh menit berlalu dan Richi belum juga datang menjemputnya, dia menunggu sahabatnya di depan markas Lucifer.


"Hey bocah sialan! mengapa kau lama sekali!" teriak Alex pada sang sahabat di sambungan telepon.


"Aku hanya butuh waktu sepuluh menit, tunggulah, kau sabar sebentar," tukas Richi.


"Kau yang membuatku tidak sabar," jawab Alex emosi.


"Iya, iya, maaf Lex. Kau ini selalu membuatku kesal, kenapa kau tidak mengizinkanku membantumu? akan lebih baik jika ada dua orang yang menumpas Lucifer, kalau kau sendirian mengalahkan mereka, apa yang akan aku banggakan di depan Angela?" ucap Richi.


"Permainanmu di atas ranjang, itu yang akan menjadi kebanggaanmu," canda Alex.


"Hey brengsek! aku tidak sepertimu! kau hanyalah binatang buas yang akan menerkam nona Laras hingga dia tertidur pulas," goda Richi.


"Bilang saja kalau kau iri," ledek Alex.


"Untung kamarmu kedap suara, jadi kami tidak mendengar suara aneh dari mulut nona Laras," goda Richi.


"Sialan! itu bukan suara aneh bocah tengik, itu suara yang sangat merdu dan membuatku semakin bersemangat membuat gadisku bahagia, kau tahu? sesekali kau ajak Angela berolahraga, kau akan tahu rasanya seperti apa, dari pada kau banyak bicara, lebih baik lakukan saja sendiri," saran Alex.


"Cih, aku akan pensiun dari dunia hitam ini dan pergi keluar negeri bersama Angela, aku akan menikahinya di sana," jelas Richi.


"Wah ternyata kau memang lebih baik dariku," ucap Alex.


"Tentu saja, aku memang lebih baik darimu, terutama soal hasrat, aku jauh lebih pandai menahannya darimu," jawab Richi percaya diri.


"Aku baru satu kali memujimu dan kau melayang begitu tinggi Richi, kau pantas mendapatkan hukuman dariku," canda Alex.


"Hukum saja, aku tidak perduli! kali ini aku punya kakak ipar yang senantiasa membantuku lolos dari hukumanmu bos, haha," tawa Richi puas.


"Ya, lakukan saja selagi kau bisa! hey Richard! bantu aku mengangkat mayat kakakku, mengapa kau diam saja?" ucap Alex yang masih melakukan panggilan telepon meski sang sahabat sudah ada di depannya.

__ADS_1


"Astaga! apa mayat yang ada di pundakmu itu adalah kak Justin?" ucap Richi terkejut.


Richi memasukkan telepon genggamnya di saku celananya dan membuktikan sendiri kebenaran perkataan sang bos. Richi melihat dengan detail wajah pria yang sudah tak bernyawa dan berlumuran darah itu, dia tidak menyangka jika orang yang memiliki kemiripan wajah dengan bosnya, kini telah tewas.


"Apa kau sudah percaya padaku? daripada kau hanya diam melihat mayat kakakku, lebih baik kau bantu aku mengangkatnya," perintah Alex.


"Apa tidak sebaiknya kau tutup mayat kakakmu menggunakan kain, agar penduduk sekitar tidak curiga," jelas Richi.


"Ya, idemu bagus juga, ambil kain di dalam markas Lucifer," perintah bos Alex.


"Siap bos!" jawab Richi.


Richi masuk ke dalam markas Lucifer dan mendapati banyak orang tergeletak tidak berdaya di sana, dia tidak menghiraukan pemandangan mengerikan itu dan tetap berjalan mencari kain untuk menutupi mayat Justin. Dia masuk ke dalam salah satu kamar dan mengambil selimut dari sana, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Richi keluar dari markas Lucifer dengan perlahan karena banyaknya orang yang tergeletak di atas lantai membuatnya sulit sekali berjalan.


"Mengapa kau menjadi lamban Richi?" tanya Alex.


"Aku tidak lamban Lex, kau tahu? akibat ulahmu, lantai markas Lucifer di penuhi lautan manusia yang terkapar tidak berdaya, aku harus berhati-hati saat berjalan melewati mereka," jawab Richi.


"Kau terlalu banyak alasan, cepat tutupi mayat kakakku dengan kain itu dan segera pergi dari sini!" perintah bos Alex.


Richi membantu Alex memasukkan mayat Justin kedalam mobil, setelah itu, Richi membiarkan bos Alex duduk di jok belakang dan dia yang menyetir.


"Richi, kita jangan ke apartemen dulu, aku ingin menguburkan kakakku di tanah kelahirannya," jelas bos Alex.


"Kau orang yang baik bos, kau tetap memperlakukan kakakmu dengan hormat meksipun dia membencimu," ucap Richi.


"Sudahlah, kau membuatku merasa menjadi orang paling kejam karena melenyapkannya kakak kandungku sendiri," jawab Alex.


Richi menghentikan ucapannya karena melihat dari kaca spion tengah mobil, bahwa sang bos telah memejamkan matanya.


'Bosku ini memang luar biasa, dia baru saja menghabisi musuh-musuhnya sendirian, dia membawa mayat sang kakak di pundaknya, dan kini dia terlelap dengan mayat sang kakak dalam pangkuannya, bos! kau sukses membuatku terharu!" batin Richi.


Drttt... drrtt... drttt...

__ADS_1


Di saat Richi terhanyut dalam perasaan harunya, ponselnya berdering, dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan melihat ada nama Angela tertera di layar ponsel. Richi langsung menjawab panggilan itu.


"Ya, Angela? ada apa?" tanya Richi.


"Bos membawamu kemana kak?" jawab Angela.


"Nanti saja aku ceritakan, ada apa kau menelponku? apa kau merindukanku?" goda Richi.


"Kau percaya diri sekali, aku hanya ingin memastikan bos Alex tidak memberimu hukuman yang berat, aku khawatir denganmu," jawab Angela.


"Wah kau sudah mulai mengkhawatirkanku rupanya?" canda Richi.


"Kau kan kekasihku, wajar jika aku merasa khawatir," tukas Angela.


"Bos tidak akan menghukumku selama masih ada nona Laras," jawab Richi penuh percaya diri.


"Kita sangat di untungkan dengan kehadiran nona Laras kak Richi," ucap Angela.


Di sela pembicaraan dengan sang kekasih, ternyata bos Alex telah terbangun dari tidurnya dan memperingatkan Richi untuk tidak membicarakan dirinya di saat bos mafia itu beristirahat.


"Gawat, bos sudah bangun! aku tutup dulu teleponnya, nanti aku akan menelponmu kembali," bisik Richi sambil mendekatkan bibirnya di layar ponsel.


"Iya kak, selamatkan dirimu!" jawab Angela.


Richi mengakhiri panggilan telepon dengan sang kekasih dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Kau sudah bangun Lex, wah kau pasti lelah sekali ya?" ucap Richi.


"Aku dengar semua yang kau katakan Richi," jawab Alex.


"Kau salah dengar mungkin bos, aku tidak mengatakan apapun," tukas Richi.


"Sial! apa kau kira telingaku sudah tidak berfungsi dengan baik?" jawab Alex.

__ADS_1


Richi hanya tersenyum menanggapi ucapan sang bos yang marah padanya itu.


...* * *...


__ADS_2