
Saat sore menjelang, bos Alex telah bangkit dari ranjangnya, dia sudah siap untuk membahas Tien Lie bersama Angela dan Richi di lantai atas. Tetapi langkahnya terhenti saat ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya.
“Kau mau kemana?” tanya sang isteri dengan senyum manisnya sembari memeluk bos Alex dari belakang.
“Ada masalah kecil, aku akan membahasnya bersama Richi dan Angela,” jelas bos Alex.
“Berhati-hatilah suamiku,” ucap Laras.
“Iya sayang, kau tenang saja, aku akan selalu berhati-hati,” jelas bos Alex.
Sang mafia membalikkan badannya, dia menatap wajah Lars dengan seksama. Setelah itu, dia bersimpuh di hadapan wanita yang sangat ia cintai itu. Dia menempelkan telinganya di perut sang isteri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Laras heran.
"Ingin mendengar suara para jagoan, mungkin saja mereka sudah mulai muncul," jawab Alex.
"Haha, mereka belum ada di situ, kita harus lebih giat dalam berusaha," tukas Laras.
"Sehari enam kali, apa kau sanggup?" tanya Alex.
"Tiga kali sehari, itu cukup," celetuk Laras.
“Tidak mau, harus enam kali! calon baby, cepatlah hadir, daddy sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu,” ucap Alex sembari mencium perut sang isteri.
“Iya, kalian cepatlah hadir, jika tidak, daddymu akan menyiksa mommy setiap hari,” ejek Laras.
“Hahaha, itu bagian dari servis bukan?” goda Alex.
“Servis yang membuat punggungku sakit, servis macam apa? Kau harus memijatku setelah ini,” pinta Laras.
“Pijat plus-plus?” ucap bos Alex.
“Diamlah! Berhenti menggodaku!" pinta Laras.
“Iya, aku akan segera pergi,” jawab bos Alex.
Dia bangkit dari posisi bersimpuhnya dan segera mencium kening sang isteri.
"Aku pergi dulu," pamit bos Alex.
"Ya," jawab Laras.
Laras membiarkan bos Alex pergi dengan hati yang tidak tenang. Dia masih merasa jika bos Alex dalam bahaya, tetapi seketika itu juga dia membuang jauh rasa khawatirnya. Dia menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu, kini tinggal dia sendiri di dalam kamar utama.
__ADS_1
'Semoga Tuhan selalu melindungimu,' batin Laras.
...* * *...
Bos Alex berjalan perlahan menuju lantai atas gedung itu, di sana sudah ada dua anak buahnya yang sudah standby. Mereka bertiga langsung membahas rencana untuk melenyapkan Tien Lie.
"Tien Lie adalah orang yang licik, dia tidak ada bedanya dengan tuan Xiauling," ucap Richi.
"Kau benar Richi, kita harus memiliki taktik yang cerdas jika ingin menghancurkannya," jawab Alex.
"Setahuku dia juga bandar narkotika yang sedang di incar pihak kepolisian, karena dia lihai dalam berpindah tempat persembunyian, jadi Tien Lie sangat sulit di deteksi," timpal Angela.
"Iya, kau benar sekali, aku juga sedang membantu ayah mertua untuk segera meringkusnya," ucap bos Alex.
"Apa rencanamu Lex?" tanya Richi.
"Kalian berdua temui Tien Lie di bar terbesar di kota selatan," perintah bos Alex.
"Bar milik nona cantik yang dulu suka menggodamu itu?" ledek Richi.
"Oh iya, ada gadis cantik tapi murahan itu ya? dia memang tidak waras, dia menjebak bos kita hingga bisa seranjang dengannya, berani sekali dia!" ucap Angela.
"Aku tidak suka menyakiti seorang gadis, mungkin hanya ku ancam saja," jawab Alex.
"Dia hanya gadis lugu, tetapi dia terlalu berani, siapa ya nama dia? Jean atau Jeni ya?" tanya Richi.
"Namanya Jeni," jawab Richi.
"Oh iya, namanya Jeni! wah aku akan senang bertemu dengannya, waktu itu dia berusia delapan belas tahun, sekarang mungkin sudah dewasa," ucap Angela.
"Apa kalian akan terus membahas hal tidak berguna?" tanya bos Alex dengan wajah serius.
Richi dan Angela seketika diam, mereka kembali membahas rencana yang akan segera di eksekusi.
Bos Alex memerintahkan Richi dan Angela untuk membentuk tim, satu tim Angela dengan dua puluh anggota pilihan, sedangkan satu lagi tim Richi dengan tiga puluh anggota pilihan.
Bos Alex memerintahkan Richi untuk diam-diam datang ke sana bersama tiga puluh anggota Death Angel, setelah mempelajari situasi di tempat itu, sang mafia menyuruh tim Richi untuk segera mengepung bar tersebut, jika Tien Lie dan para anggotanya melakukan perlawanan, bos Alex meminta Richi untuk segera menghabisinya.
"Tien Lie bukan orang sembarangan, jika dia tidak lenyap juga, bawa dia ke markas utama, sandera dia! aku ingin tahu siapa di balik rencana konyolnya itu," ucap bos Alex.
"Apa kau merasa ada yang mengendalikan Lie?" tanya Richi.
"Bandar kelas kakap seperti Tien Lie tidak akan melakukan hal bodoh dengan mengancamku ataupun menantangku, dia pasti sudah sangat memperhitungkan segala resikonya," jawab bos Alex.
__ADS_1
"Apa uang adalah alasan Lie melakukan semua ini?" tanya Angela.
"Tepat sekali, dulu kita mengakhiri kerjasama dengan Tien Lie juga masalah uang," jawab Richi.
"Ya, uang adalah segalanya bagi Tien Lie, untuk itu, dia pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya termasuk melawanku, dia cari mati saja!" ucap bos Alex.
Rencana telah matang, bos Alex menyuruh keduanya untuk segera mengeksekusinya. Richi menelpon Willy untuk segera mengumpulkan lima puluh anggota pilihan termasuk dirinya agar segera berkumpul di perbatasan kota selatan karena ada tugas dari bos Alex.
"Angela, kau tetaplah di perbatasan kota selatan bersama dua puluh anggotamu, jangan datang ke bar kota selatan jika aku tidak memintamu, tugasmu hanya berjaga-jaga saja karena tugas utama ada di pundakku," pinta Richi.
"Baik kak!" jawab Angela.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara gemuruh dari atas langit, mereka mendongak ke sumber suara, ternyata itu adalah suara helikopter yang perlahan mendarat di landasan helipad.
"Pilot tuan Immanuel sudah datang," ucap Richi.
"Cepat sekali, apa kau sudah menghubunginya terlebih dahulu?" tanya Alex.
"Tentu saja, aku langsung menelepon tuan pilot agar sore ini datang ke Paradise Land saat kau mengirimkan pesan singkat itu," jelas Richi.
"Ya...ya...ya, aku tahu kau sangat sigap dan cekatan, tidak salah aku memilihmu menjadi orang kepercayaanku," tukas bos Alex.
"Lex, kau tenang saja, aku akan segera membasmi Tien Lie dan anggotanya, jaga kakak ipar dan keluarganya dengan baik," jawab Richi.
"Cih! sejak kapan kau seperti ini? aku ingin menikah juga kah? sok berwibawa," ledek bos Alex.
"Haha, iya kau benar bos! akhir-akhir ini kak Richi menjadi sok dewasa dan ingin selalu berada di sampingku," celetuk Angela.
"Apa kalian sudah melakukannya?" goda Alex.
"Kami tidak sebrutal dirimu," jawab Richi.
"Haha, ya jagalah adikku ini Richi, jangan bertindak brutal seperti binatang buas," celetuk Alex.
"Aku bukan kau Lex," jawab Richi.
Angela dan Alex tertawa bersama melihat ekspresi kesal Richi, untuk beberapa menit mereka melupakan sang pilot yang telah menunggu Richi dan Angela.
"Tuan pilot sudah menunggu kalian terlalu lama, pergilah! selalu waspada dan berhati-hati, jika ada kesulitan, hubungi aku segera!" perintah bos Alex.
"Siap bos!" jawab kedua anak buah Alex serentak.
Richi dan Angela berjalan menuju helikopter itu dan segera masuk ke dalamnya, setelah itu sang pilot menerbangkan helikopternya.
__ADS_1
'Semoga kalian berhasil!' batin Alex sembari menatap helikopter yang semakin samar terlihat dan perlahan hilang di telan langit sore.