Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 6


__ADS_3

"Tuan Yanze, kita belum juga menemukan dimana Alex berada. Bagaimana ini Tuan? Death Angel pasti akan segera menghabisi kita."


Yanze mengerutkan dahinya. Nampak raut kekhawatiran di wajah Yanze. Dia mulai berpikir bagaimana caranya agar wilayah kekuasaannya tidak di rebut oleh Death Angel. Dia mengatakan agar semua anggota berjaga di perbatasan, meski anggota mereka lebih sedikit dari Death Angel, tapi setidaknya ada perlawanan yang Yanze berikan.


Sementara itu Death Angel dengan kekuatan penuh, telah menjaga perbatasan sebelum


Young Devil bergerak. Ada banyak orang yang menjadi kepercayaan Alex berdiri di garda depan menantang maut, seperti Willy, Tomy, Angela, Sam, Lyon, Franklin dan Zicko. Mereka adalah anggota andalan Alex di setiap pertarungan.


Alex tetap berada di markas karena kondisinya yang sedang terancam. Dia duduk di kursi miliknya, kursi yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang indah. Tidak ada yang boleh menempati kursi itu selain dirinya karena telah di keramatkan. Sejak pertama bergabung dengan Death Angel sebagai bos, kursi ini menjadi saksi dari segala keputusan yang dia buat untuk kepentingan gengnya. Keputusan yang membawa Death Angel menuju kejayaan hingga sekarang.


"Aku harus pergi ke apartemen milik kakak untuk mengetahui siapa yang mirip dengan dirinya itu."


Alex beranjak dari dari kursi kebanggaannya dan berjalan menuju pintu keluar. Dia pergi mengendarai mobil sport warna hitam favoritnya menuju apartemen Kak Justin yang berada tidak jauh dari markas miliknya.


Alex hanya membutuhkan waktu empat puluh menit untuk sampai di apartemen itu. Setelah sampai, dia memarkir mobil sport hitam favoritnya di depan apartemen dan menyuruh kedua orang anak buahnya segera pergi. Sekarang dialah yang mengambil alih tanggung jawab mengawasi Laras dan seorang pria yang di duga mirip Kak Justin itu.


Alex memutuskan untuk naik lift untuk sampai ke apartemen sang kakak di lantai 20. Di dalam lift dia memencet angka 2 dan 0 karena Alex akan naik ke lantai 20. Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka. Matanya langsung tertuju kepada apartemen nomor 216. Langkah kakinya melaju begitu cepat, kini Alex telah berada di depan pintu apartemen nomor 216. Alex memencet lima digit angka sebagai kata sandi. Setelah itu dia menggesekkan kunci berbentuk kartu kemudian pintu besi itu terbuka dengan sendirinya.


Alex masuk ke dalam apartemen nomor 216 dan mencari keberadaan Laras. Alex merasa putus asa karena Laras tidak ada di sana. Tiba-tiba seorang gadis cantik berpakaian midi dress dengan warna peach puff muncul dari balik pintu. Dia terkejut ada orang lain yang tengah berada di apartemen milik Justin selain dirinya. Pria itu mengacak kasar rambutnya sendiri sembari mengucap sumpah serapah.


Meskipun perasaan takut kini begitu mendominasi dalam dirinya, sang gadis tetap memberanikan diri mendekati pria itu. Seketika aroma parfum menyengat milik seseorang yang dia benci menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Apa kau Alex Fernando?"

__ADS_1


Sang gadis terhenyak saat pria itu mendongakkan kepala ke arahnya, sorot mata tajam Alex mampu menembus ketakutan yang di rasakan oleh sang gadis. Secara spontan Alex memeluk erat tubuhnya. Laras tidak mampu melawan tubuh kekar Alex yang kini mulai menguasai dirinya.


"Tuan Alex, aku ingin bicara denganmu sebentar. Tolong, kali ini dengarkanlah aku." Ucap Laras memohon.


"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan." Jawab Alex.


Alex menatap tajam mata Laras tanpa berkedip. Laras menghela nafas panjang dan mencoba berbicara dari hati ke hati kepada Alex.


"Tuan Alex, aku bukan wanita murahan seperti yang kau bayangkan. Aku ingin mengembalikan uang lima puluh juta itu padamu." Ucap Laras sambil menyerahkan uang lima puluh juta itu kepada Alex.


"Harus ku akui, kau memang gadis yang keras kepala. Aku tidak butuh uang itu lagi, simpan saja untukmu." Jawab Alex enggan menerima uang lima puluh juta tersebut.


"Maaf Tuan, aku tidak mau uang ini." Ucap Laras.


"Ada pertunjukan menarik, seorang bos mafia sedang memaksa seorang gadis." Ucap Justin yang muncul tiba-tiba dari balik pintu. Ia membuat Alex terkejut karena Justin Steven yang selama ini Ia cari kini berada di hadapannya.


"Bagaimana kabarmu kak? kenapa kau kabur dari Death Angel?" Jawab Alex. Namun sepertinya Justin enggan menjawab pertanyaan Alex, dia lebih memilih mendekati Laras.


"Kau apakan gadisku?"


Dia merasa sang adik sudah lancang masuk ke apartemennya dan membuat gadisnya ketakutan.


Karena Alex sangat menghormati sang kakak, dia lebih memilih untuk mengalah dan melepaskan Laras.

__ADS_1


Setelah Alex pergi, Laras mengucapkan terima kasih kepada Justin karena telah membantunya lepas dari jeratan Alex.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, jika ingin berterima kasih, jadilah gadisku. Katakan ya atau aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau sangka sebelumnya."


Laras terkejut dengan ucapan Justin, Ia tidak menyangka Justin yang begitu lembut saat awal bertemu, dengan sekejap berubah menjadi monster. Sifat asli Justin sudah mulai terlihat. Dia begitu arogan dan pemaksa. Ternyata Laras telah salah menilai Justin, nyatanya Justin sama saja seperti Alex yang suka berbuat seenaknya, bahkan lebih.


"Mengapa harus ada dua kakak beradik menyebalkan yang datang secara bersamaan di dalam hidupku? kesialan demi kesialan selalu saja menghampiriku, kapankah bahagia itu datang, Tuhan?" Batin Laras berteriak.


"Maaf Tuan, saya tidak ingin menjadi gadis siapapun. Keinginan saya hanya satu, kembali berkumpul bersama dengan kedua orang tua saya di rumah."


Justin tidak terima dengan ucapan Laras dia mulai memaksa Laras mengikuti semua keinginannya. Bagai keluar dari mulut harimau masuk ke kandang singa. Mungkin itu perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan nasibnya kini. Dia hanya bisa meratapi ketidakberdayaannya tanpa mampu melawan ketidakadilan yang Justin berikan padanya.


Laras mencoba kabur dari terkaman Justin. Dia mengedor-gedor pintu besi di depannya, berharap Alex masih berada di sekitar apartemen dan segera membantunya keluar dari kondisi mengerikan itu.


"Mau lari kemana kau gadis cantik, ayolah temani aku malam ini. Jangan takut padaku sayang, jika kau menuruti semua keinginanku, aku akan memberikan apapun yang kau mau. Mendekatlah padaku gadis cantik."


Laras membuang apapun yang ada di sekitarnya untuk mencegah langkah Justin mendekatinya. Gadis itu sangat ketakutan, tapi Justin tidak perduli.


"Tuan, tolong jangan lakukan ini kepada saya. Saya mohon." Ucap Laras.


"Kau semakin cantik saat merasa takut sayangku, membuatku tidak sabar untuk memakanmu." Jawab Justin dengan senyum yang menyeringai.


* * *

__ADS_1


__ADS_2