
Laras keluar dari ruang kerja Alex, tetapi sang kekasih tak kunjung menghampirinya.
"Dia, kenapa dia?" tanya nyonya Fira.
"Dia baik-baik saja," jawab Laras sambil mengajak ibunya keluar dari ruang kerja milik Alex dan meninggalkannya sendiri di sana.
"Apa kau tidak merasa jika dia sedang kesal padamu?" tanya nyonya Fira.
"Biarkan saja, nanti biar aku yang menenangkannya." jawab Laras.
Kedua anak dan ibu itu pergi meninggalkan Alex yang sedang menahan rasa kesal akibat sang kekasih yang terus saja mengabaikan dan tak kunjung memenuhi keinginannya.
Di meja makan sudah tersedia banyak sekali hidangan, salah satunya adalah sop daging kesukaan Laras. Dia makan dengan lahap. Angela dan nyonya Fira juga sama. Mereka berdua menikmati hidangan yang ada dengan lahap. Sampai sesi sarapan selesai, Alex tak kunjung datang ke meja makan untuk sekedar minum atau makan dengan sesendok nasi. Laras yang mengerti penyebab kemarahan sang kekasih, kemudian membawakan sepiring nasi dan lauk, tak lupa segelas teh hangat untuk sang kekasih.
"Kau mau kemana?" tanya nyonya Fira.
"Menyuapi baby A yang sedang marah." canda Laras.
"Oh ya, kau suapi saja dia, mafia itu memang seperti baby lama-lama." jawab ibu Laras yang memicu senyum Laras dan Angela.
Laras beranjak dari meja makan dan bergegas menuju ruang kerja Alex Fernando, ternyata sang bos mafia sedang duduk di atas kursi kebanggaannya, matanya terpejam, kakinya berada di atas meja dan kedua tangannya menyilang di dadanya. Laras meletakan piring serta segelas teh di atas meja dan mendekati sosok tampan itu.
"Kalau sedang tidur, dia semakin tampan." batin Laras.
"Apa kau mengatakan jika aku semakin tampan?"
Tiba-tiba Alex membuka matanya dan menarik tubuh Laras ke dalam pangkuannya. Gadis itu terkejut bukan kepalang.
"T- tuan, k-au?"
Belum sempat Laras menyelesaikan ucapnya, Alex sudah lebih dulu membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya. Semakin lama semakin dalam, rasa rindu yang menggebu, hasrat yang tertahan, bergabung dalam satu rasa. Alex yang selalu mengambil inisiatif, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas di depan matanya, bos mafia itu langsung mengendong Laras dan merebahkannya di atas sofa.
"Kau siap sayang?" tanya Alex.
Rasa ingin memiliki sang gadis terus saja menggelayar ke seluruh tubuh Alex, dia sudah tidak sabar menghabiskan pagi yang romantis bersama sang kekasih.
__ADS_1
"Pintunya, belum di tutup Tuan." ucap Laras.
Alex memiliki kesabaran yang lebih dari sebelumnya, dia membiarkan Laras keluar dari cengkramannya.
Setelah pintu berhasil di tutup serta di kunci oleh Laras, gadis itu berdiri terpaku di depan sang kekasih.
"Tuan, maafkan aku." ucap Laras cemas.
"Tidak masalah, kemarilah." pinta Alex.
Bos mafia itu meminta Laras duduk di sampingnya, Laras menuruti keinginan sang kekasih.
"Katakan, apa yang kau takutkan." ucap Alex.
"Aku masih takut, belum siap untuk kembali memulainya lagi," jawab Laras lirih.
"Sentuh aku dengan bibirmu." pinta Alex.
Meski masih merasa canggung, dia menuruti keinginan sang kekasih. Laras mendekatkan tubuhnya ke dada bidang Alex. Sentuhan di bibir keduanya membuat Alex tidak mampu menahan diri, tapi karena dia menyadari jika Laras masih belum terbiasa sejak pertama kali mereka menghabiskan malam berdua yang berawal dari sebuah kesalahan, jika waktu itu Alex yang menyerang lebih dulu, kini Alex mengajari Laras untuk mengambil inisiatif.
Keduanya kini sudah masuk ke dalam khayalan masing-masing. Seketika suara jerit yang tertahan terdengar samar, Laras berusaha membungkam mulutnya saat Alex berhasil membuatnya merasakan sensasi yang luar biasa di sekujur tubuhnya, Ia merasa tubuhnya begitu lungkrah seketika, namun Alex yang mengerti jika sang kekasih masih ingin, bos mafia itu kembali melakukan hal yang sama hingga Laras benar-benar di buat terbang melayang oleh bos mafia itu.
"Apa kau masih ingin?" bisik Alex di telinga Laras.
"Cukup, sekarang giliranmu." pinta Laras.
Alex menunjukkan kelihaiannya dalam membuat Laras merasa nyaman, kini Ia akan membuat sang gadis merasa semakin nyaman. Perlahan tapi pasti, tiap helai benang yang menempel di tubuh Alex mulai terlepas. Kini mereka berdua memulai petualangan di dunia khayalan yang keduanya inginkan. Perlahan, Alex melakukannya dengan perlahan, hingga sensasi luar biasa kembali di rasakan oleh Laras saat sesuatu sudah memenuhi hal yang paling rahasia di bawah sana.
Laras sudah kembali terhipnotis dengan pesona Alex, dia memberikan sepenuh jiwa dan raganya kepada sang kekasih. Nafas mereka naik turun, peluh mulai membasahi keduanya. Hingga penyatuan itu membuat keduanya benar-benar melayang, sensasinya lebih nyaman karena keduanya memberikan cinta di setiap sentuhannya.
"Tuan, terima kasih." ucap Laras.
"Untuk apa?" tanya Alex heran.
"Kau pria baik, kau sangat mencintaiku, terima kasih."
__ADS_1
Laras mendekap tubuh Alex dan baru menyadari jika luka Alex kembali terbuka.
"Sayang? apa ini sakit?" tanya Laras sembari memegang dada Alex.
"Tidak sesakit saat kau tidak kunjung memberikan ku apa hakku." gerutu Alex.
"Maaf sayang, aku hanya takut," jawab Laras melepaskan diri dari dekapan sang kekasih, namun pria tampan itu menahannya.
"Tidak perlu takut, aku sudah membuktikan kepadamu jika aku bukan pria brengsek seperti Juna." ucap Alex.
"Kau sebut namanya?" tanya Laras heran.
"Namanya saja tidak masalah, dia sudah ku binasakan." jawab Alex.
"Kau? kau sudah melenyapkannya?" tanya Alex.
"Iya, dia sudah ku lenyapkan. Apa kau senang?" jawab Alex.
"Iya, tapi kau akan dalam masalah sayang, dia memiliki ayah yang sangat berkuasa," ucap Laras cemas.
"Bukan masalah besar, biar aku saja yang menyelesaikan ini semua. Kau tinggal mengetahui hasil akhirnya." jawab Alex.
"Baik Tuan."
Alex kembali ingin mengulang kebahagiaan yang tadi Ia rasakan, namun Laras menolak dengan halus karena dia sudah tidak mampu meladeni Alex yang begitu menggebu itu.
Laras menyuruh Alex untuk segera menyantap sarapan yang Ia bawa, tapi Alex tidak mau. Laras mencoba membujuk bos mafia itu, akhirnya Alex mau menuruti keinginannya.
"Jika kau ingin punya baby, kau ingin berapa? dua atau tiga?" tanya Laras sambil menyuapi sang kekasih.
"Lima cukup." jawab Alex.
"Kau rakus sekali, saat aku merawat lima baby, tapi ada kau yang akan seperti big baby selalu. Aku akan kewalahan sayang." canda Laras.
"Aku akan membantumu merawat mereka, namun kau juga harus merawat milikku tiap malamnya." jawab Alex.
__ADS_1
"Kau ini," ucap Laras sambil mencubit mesra pipi Alex.