
Di dalam mobil, Alex tak henti-hentinya memandang wajah ayu sang isteri. Tidak biasanya dia menjadi sok manis. Dia tersenyum tanpa henti, membuat sang isteri curiga.
"Lex? kau baik-baik saja?" Sang isteri melirik ke arah wajah sang mafia yang masih tersenyum manis kepadanya.
"Baik, aku mengagumimu sayang. Semakin hari aura kecantikan dalam dirimu, makin bertambah." Alex bahkan melancarkan rayuan mautnya. Dia menang pria yang tak mampu menahan diri saat berada di samping orang yang sudah membuat nyaman. Apabila orang itu adalah isteri sahnya, Laras Nugraheni. Dia adalah satu-satunya manusia di dalam dunia ini yang rela melakukan apapun demi membahagiakan sang isteri. Dia sudah menjadi budak cinta akut.
"Ehm, ini rayuan maut dalam rangka apa ya sayang? mencurigakan sekali." ucap sang isteri yang sudah memahami maksud rayuan sang suami. Jika Alex sudah mulai sok romantis, dia pasti inginkan sesuatu yang harus segera terpenuhi.
"Haha, ya kau tahu apa maksudku, Ehm apa kau sudah siap? aku harap kau tidak kelelahan." Sang mafia melihat raut lelah di wajah manis nan mempesona sang isteri.
Dia merasa menjadi pria dengan keberuntungan yang bertubi, meskipun sang isteri kadang selalu menyiksanya, pada akhirnya, Alex akan selalu mendapatkan hal yang ia inginkan secepatnya. Sang isteri adalah sosok idaman menurutnya, dia lebih memilih untuk merawat buah hati mereka daripada harus bekerja di kantor milik kedua orang tuanya meskipun dia memiliki kapasitas akan hal itu.
Saat suasana romantis itu baru di mulai beberapa menit yang lalu, sang isteri sudah menanyakan hal yang membuatnya resah.
"Apa yang kau bicarakan dengan Tuan Carlo tadi? apakah ada musuh yang mencari kita?" tanya sang isteri dengan wajah gundah.
Alex menghela nafas panjang. Dia mencoba mencari alasan yang tepat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Sayang, aku ingin sekali mengatakan hal ini kepadamu, tetapi jangan di mobil, aku khawatir anak-anak terbangun dan mendengarkan apa yang kita bicarakankan," ucap sang suami yang harus berhati-hati saat membicarakan para musuhnya saat ini.
__ADS_1
"Oke sayang, aku mengerti." Laras memahami apa yang harus dia lakukan. Sudah seharusnya dia menuruti keinginan sang suami dan tidak boleh egois.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasananya sangat hening, tenang dan damai.
"Kalau malam ini kita tidur di ruang kerjaku bagaimana? kau mau kan?" Alex menawarkan hal yang berbeda. Tiba-tiba saja dia ingin beristirahat di ruang kerja yang tak seluas kamar utama.
"Terserah kau saja, tapi harus pasang alarm, biasanya anak-anak akan bangun pukul 04.00 pagi, kita hanya punya beberapa waktu untuk berbicara." jelas sang isteri penuh perhatian. Setelah menikah, waktunya bersama suami menjadi sangat terbatas. Dari pagi hingga malam hari, dia akan melakukan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Dari menyiapkan sarapan, memandikan anak-anaknya, hingga menyetrika baju, dia melakukan segalanya. Tak ayal saat malam hari, dia langsung tarik selimut. Apalagi sang suami yang juga sangat sibuk di dunia pekerjaan. Namun dia belum tahu ada peristiwa apa akhir-akhir ini, Alex mengunci rapat-rapat permasalahan itu sampai nanti dia akan jujur kepada sang isteri.
Mobil sang mafia berhenti tepat di depan rumahnya, dia segera mengarahkan mobilnya menuju garasi. Setelah mobil mewahnya terparkir sempurna, dia dan Laras turun dari mobil kemudian bergantian mengendong anak-anak jeniusnya dan membawa mereka masuk ke dalam satu ruangan luas yang berisi 5 ranjang untuk tempat si kembar lima berisitirahat.
Membutuhkan waktu yang lama saat mereka harus memindahkan kelima buah hatinya menuju ranjang masing-masing, hingga menit ke lima belas, semua bocah kecil telah nyaman di peraduannya.
Laras menutupi separuh tubuh lima puteranya dengan selimut yang cukup tebal, hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Hawa dingin begitu merasuk ke dalam tulang. Laras menatap intens ke arah kelima baby nya yang tahun besok sudah menginjak usia enam tahun itu.
"Iya sayang, sudah sangat lama peristiwa itu terjadi, namun di saat terakhir, aku hanya mampu menemanimu semampuku, maaf ya?" Alex memeluk Laras dari belakang, sang isteri kemudian berbalik, ia menatap wajah sang suami yang tampan itu.
"Lanjutkan perbicangan di kamar rahasiamu saja, aku tidak ingin mengganggu mereka," ajak Laras sembari mengandeng tangan sang suami, dia juga tidak sabar mengetahui apa yang sebenarnya di bicarakan oleh Tuan Carlo dan suaminya saat di Taman Hiburan.
Perlahan, mereka berdua keluar dari kamar baby A, kemudian berjalan menuju ruangan rahasia. Alex menarik salah satu buku, pada akhirnya ruangan rahasia terbuka, dia masuk ke dalam bersama sang isteri.
__ADS_1
Setelah keduanya berada di dalam ruangan rahasia, secara otomatis, pintunya tertutup. Kesan romantis langsung menyelimuti, ternyata sang mafia telah menyiapkan segalanya.
"Astaga! ini cantik sekali sayang! kapan kau merubahnya?" Laras takjub dengan design ruangan rahasia karena dia jarang menghabiskan hari bersama sang mafia di sana.
"Sayang? bisakah hanya fokus padaku saja?" Alex berbicara dengan kelembutan yang ada di dalam dirinya, dia sudah jengah menunggu terlalu lama.
Laras menatap wajah sang suami, ia segera mendekati sang suami yang sedang menyenderkan tubuhnya tembok, sembari melipat tangannya.
"Iya, aku selalu fokus kepadamu sayang, apa kau begitu ingin?" Laras membelai wajah tampan sang suami, sentuhan tangan sang isteri di kulit wajahnya membuat gairah di dalam dirinya memuncak, namun dia harus menahannya, dia ingin melewati setiap detiknya dengan sentuhan penuh kelembutan.
"Kau tahu sayang? di dunia ini hanya dua wanita yang ada di hatiku," ucap sang mafia, sembari menarik pinggul sang isteri mendekat ke arah dada bidangnya.
"Siapa itu sayang?" tanya Laras penasaran.
"Pertama adalah ibuku, kedua adalah dirimu. Hanya kalian berdua yang mampu membuatku melakukan segalanya, sampai nyawa menjadi taruhannya." Sang mafia sangat mengagumi dua sosok itu, sosok luar biasa yang selalu ia sayangi.
Cup!
Laras menyentuh bibir sang mafia dengan bibir ranumnya, untuk kali pertama, Alex belum merespon tindakan nakal sang isteri, namun saat Laras semakin gencar memberikan sentuhan itu, pertautan kedua bibir semakin tidak terkendali.
__ADS_1
Alex melepaskan bibirnya dari pertautan panas itu, dan berkata, "Kau hanya milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!!"
"I love you sayang!" jawab sang isteri kembali menarik sang suami dalam khayalan tingkat tinggi menuju kebahagiaan sejati.