
Perjalanan menuju landasan helipad tuan Immanuel lumayan jauh, namun tidaklah sejauh jarak antara Alex dan Laras yang terpisah beberapa hari ini. Pria berjuluk malaikat maut itu memandangi jalanan di luar jendela mobil dengan penuhi senyum kebahagiaan. Entah halusinasi apa yang ada di pikirannya saat ini yang mampu membuatnya seperti orang tidak waras.
"Lex, kau baik-baik saja kan?" tanya Richi.
Sang sahabat cemas dengan keadaan sang bos mafia yang terlihat lebih banyak tersenyum.
"Maksudmu baik-baik saja?" jawab Alex.
Sang mafia mengalihkan pandangannya ke arah sang sahabat yang duduk di sampingnya. Matanya yang tajam, menatap Richi dengan seksama.
"Aku merasa kau banyak tersenyum hari ini, kau pertahanan kewarasanmu Lex. Aku tahu jika kau sangat merindukan isterimu, tetapi jangan membuatmu tidak waras seperti ini," ucap sang sahabat.
Gaya bicara Richi terlihat serius, namun pada akhirnya tawa keduanya pecah.
Alex melingkarkan tangannya di leher Richi dan menariknya, dia memukul kepala sang sahabat.
"Aduh!"
Richi mengusap kepalanya yang merasa sakit akibat pukulan sang mafia, meskipun hanya bercanda, tetap saja rasanya sakit.
"Rasakan itu, leluconmu tidak lucu sama sekali," ucap sang mafia.
Alex melepaskan leher sang sahabat dari cengkramannya, Richi menggerakkan lehernya untuk memastikan jika kondisinya baik-baik saja.
"Aku tidak akan mematahkan leher Richi," jawab sang mafia.
Alex melipatkan kedua tangannya di dada, ekor matanya tertuju kepada Richi yang sedang memijat lehernya.
"Tapi kau berhasil membuat leherku nyeri," jawab Richi kesal.
Alex mengabaikan Richi, dia kembali teringat akan sosok cantik nan sexy sang isteri saat memakai lingerie warna merah kesukaannya. Pikiran mes*m mulai menggelayuti halusinasinya.
"Apakah masih jauh tuan pilot?" tanya Alex.
Sang mafia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang isteri tercinta.
"Sepuluh menit lagi bos," jawab tuan pilot sembari fokus menyetir.
Ucapan sang pilot terbukti, hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di landasan helipad milik tuan Immanuel.
Sang pilot menghentikan mobilnya di tempat parkir dan segera turun dari mobil, di ikuti oleh Alex dan Richi.
Ketiganya berjalan menuju landasan helipad, di sana sudah ada pilot yang lain sedang menunggu kedatangan Richi dan Alex.
"Maaf bos, aku meminta temanku mengantarmu dan tuan Richi menuju Paradise Land karena aku sedang ada banyak urusan," jelas tuan pilot.
Alex menepuk pundak sang pilot," Kau kembalilah, keluargamu pasti sangat merindukanmu, aku tahu kau mengambil cuti untuk bertemu dengan mereka bukan?" tanya sang mafia yang membuat sang pilot terkejut.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya tuan?" jawab sang pilot heran, dia merasa tidak memberitahukan tentang hal ini kepada orang lain.
__ADS_1
"Aku memperhatikanmu memandangi foto anak dan isterimu saat kau menyetir. Kembalilah, semoga mereka merasa senang saat kau pulang ke rumah," tukas sang mafia penuh kasih.
"Terimakasih atas perhatianmu tuan, meksipun kau terlihat kejam, tetapi sebenarnya hatimu sangat baik."
Sang pilot memeluk tubuh sang mafia, suasananya sangat akrab.
Beberapa menit kemudian, sang pilot pamit untuk segera pergi.
Kini Richi dan Alex melangkahkan kedua kakinya menuju landasan helipad. Sebuah helikopter telah siap, keduanya naik ke dalam helikopter secara bergantian.
"Perkenalkan nama saya Ze, teman dari tuan pilot. Saya bertugas untuk mengantar tuan Alex dan Richi ke Paradise Land," sapa tuan Ze yang memiliki usia tidak terpaut jauh dari tuan pilot.
"Ya, salam kenal, segera kau terbangkan helikoptermu," jawab Alex ketus.
Tuan pilot telah memberikan informasi banyak hal tentang Alex dan Richi kepada Ze, jadi sang pilot baru tidak akan banyak bicara.
Di sepanjang perjalanan menuju Paradise Land, Alex menikmati pemandangan yang berada di bawah sana. Pemandangan yang menyejukkan mata dengan hamparan warna hijau yang mendominasi.
Dia sangat antusias untuk segera bertemu pujaan hatinya yaitu sang isteri tercinta juga calon baby A nya. Alex tidak sabar untuk memeluk erat tubuh Laras dan mendapatkan hadiah yang di janjikan.
Beberapa menit kemudian, lantai atas gedung megah tempat sang isteri berada sudah mulai terlihat.
Perlahan sang pilot mendaratkan helikopternya di atas landasan helipad.
Suara gemuruh baling-baling mengiringi langkah sang mafia dan Richi turun dari helikopter itu.
"Oke bos! sudah menjadi tugasku," jawab tuan Ze.
Setelah keduanya turun, mereka sedikit menjauhi helikopter itu karena akan segera terbang kembali.
Perlahan tapi pasti, helikopter itu terbang menjauh dari Paradise Land.
Saatnya Alex dan Richi melangkahkan kedua kakinya menemui Angela, nyonya Fira, sang dokter dan perawat yang sudah menunggu kedatangannya. Namun ada satu yang kurang, Alex tidak melihat sosok Laras berada di sana.
"Dimana isteriku?" tanya Alex panik.
"Dia bilang ingin di kamar saja, rasanya lelah," jawab sang dokter.
Tanpa basa-basi, Alex langsung berlari menuruni tangga, ia berjalan cepat menuju kamar utama.
Sang mafia segera membuka pintu itu, ia berdiri di sana cukup lama dengan tangan masih menggenggam ganggang pintu.
"Kau sudah pulang?" tanya Laras dengan nada datar, terkesan biasa saja.
Alex mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Setelah itu, ia menutup pintu kamar utama dengan perlahan.
"Oh, ini yang kau bilang akan memberikan aku hadiah? kau tidak keluar kamar saat aku kembali? kau bahkan tidak menyambut kedatanganku seperti yang lain?" jawab Alex yang sedikit kecewa dengan tindakan sang isteri.
"Kemarilah," pinta sang isteri yang meminta Alex segera mendekat.
__ADS_1
Sang mafia berjalan menuju ranjang tempat sang isteri sedang duduk bersandar. Saat jaraknya sangat dekat dengan Laras, ia mulai duduk di samping Laras.
"Ada apa?" Alex menatap wajah ayu Laras, ia melihat ada kantung mata di sana. Tangannya membelai pipi kanan sang isteri dengan sentuhan lembutnya. Sang isteri meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku merindukanmu,"
Seketika airmata Laras menetes, semakin lama semakin deras. Tetesan airmata itu berubah menjadi tangis sesenggukan.
Laras sudah berusaha menahannya, tapi pada akhirnya dia harus mengalah dengan pria tampan yang sangat di rindukannya itu.
Alex mendekap sang isteri ke dalam pelukannya, dia tidak mampu berkata-kata lagi. Airmata Laras sudah mampu menjelaskan segalanya bahwa rasa rindu terhadapnya sangat menyiksa batin Laras.
"Tenanglah, aku sudah ada di sini bersamamu, hentikan tangismu itu sayang," Alex mencium pucuk kepala Laras mesra. Rambut Laras yang selalu harum, membuatnya betah untuk dekat dengan sang isteri dalam waktu yang lama.
Laras menikmati dekapan hangat sang suami, dekapan yang selalu ia rindukan tiap malam.
"Lex, aku sangat mencintaimu. Benar-benar merindukanmu," ucap Laras sembari mendongakkan kepalanya ke arah wajah sang suami tampannya.
Cup!
Alex tak mampu menahan diri untuk segera mengeksekusi bibir ranum Laras. Kecupan yang berakhir dengan ciuman hangat, penuh tenaga namun masih teratur.
Alex tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia meraih tubuh sang isteri dan menempatkan di pangkuannya.
"Kau telah membuat di bawah sana menjadi tegang, kau harus bertanggung jawab," ucap Alex dengan senyum nakalnya.
"Sesuai janjiku, ini adalah hakmu, hadiah dariku," Seketika Alex kembali menyergap bibir itu rakus, ia menempatkan Laras di dalam surga cinta sang mafia yang akan membuatnya merasakan kenyamanan tiada tara.
NB :
Hayo! pada ngapain hayo?
wkwkwk
Othor kasih juga kan pertemuan mereka?
Gimana...gimana?
Romantis gak? 😂😂😂
Moga kalian merasakan kebahagiaan Laras dan Alex ya,
Salam cinta kasih dari othor yang halunya cetar membahana seendonesa raya!😎😎🧐
#jiah 😂😂😂😂
Love you all
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1