Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 183


__ADS_3

Pagi harinya, di markas Death Angel...


Alex membuka mata saat alarm di ponselnya berbunyi. Sang mafia mengatur alarm jam empat pagi, ia bangun sepagi ini agar segera tiba di Paradise Land menemui sang isteri.


Sang mafia bangkit dari peraduannya, meskipun semalaman dia tidur dengan posisi tengkurap, namun mampu membuatnya menjemput mimpi yang indah.


"Tadi malam aku bermimpi anakku lahir, mereka sangat tampan sepertiku." Alex berjalan menuju kamar mandi sembari mengusap wajahnya, ia tersenyum kala mengingat mimpi itu.


Beberapa menit kemudian, sang mafia telah keluar dari kamar mandi, dia hanya membasuh area selain punggung kanannya, karena ada luka tusukan di sana. Posisi luka itu, tak terjangkau tangan sang mafia, alhasil ia tidak bisa mengganti perban, sang mafia menelepon Richi untuk meminta bantuannya.


Tidak sampai lima menit, Richi sudah datang.


"Lex? kau baik-baik saja?" Richi justru panik, dia khawatir terjadi sesuatu dengan bosnya.


"Hey? singkirkan wajahmu itu dari pandanganku, cepat kau buka kotak obat yang kau bawa, segera ganti perbanku," perintah sang mafia yang melihat respon berlebihan dari sang sahabat, pandangan mata Richi mengganggunya.


"Aku memeriksa apa kau sedang sakit atau tidak? wajahmu pucat sekali Lex?" Richi masih berada tepat di depan wajah Alex, membuat sang mafia harus bertindak. Ia menyingkirkan wajah Richi dengan tangannya.


"Sial!" umpat Richi.


"Haha, cepat kau bantu aku mengganti perban," jelas sang mafia yang belum memakai kain sehelaipun, hanya ada handuk yang melilit di pinggangnya.


Richi meminta sang mafia duduk di kursi, kemudian dia dengan cepat mengganti perban itu, hanya butuh lima menit untuk Richi menggantinya. Ia segera membereskan bekas perban sang mafia.


"Aku tidak napsu makan karena terlalu rindu dengan anak dan isteriku," Alex mengatakan apa yang ada di hatinya.


"Akan ku buatkan sarapan sebelum kau pergi," jawab Richi yang telah selesai dengan bekas perban sang mafia.


"Tidak perlu, kita langsung pergi saja," pinta sang mafia yang tidak sabar ingin bertemu sang isteri.


"Kau pakai bajumu dulu, setelah itu, kau temui aku di pantry, akan aku siapkan sarapan untuk kita berdua. Aku tidak mau kau lemah saat bertemu isterimu, nanti hadiah darinya hanya akan jadi khayalan semata! budak cinta!" goda Richi sambil berlari keluar kamar sang mafia.


"Sialan! mana bisa aku melewatkan hadiah itu, Richi tahu saja jika aku akan memukulnya, dia sudah mengantisipasinya," ucap Alex yang merasa Richi lebih sigap dari sebelumnya.


Sang mafia beranjak dari tempat duduknya. Alex segera memilah baju yang akan ia kenakan. Sang mafia membuka lemari bajunya, Alex memilih t-shirt warna biru tua,serta celana jeans warna serupa, tak lupa ia meraih jaket kulit warna hitam yang tergantung di samping lemari bajunya. Saat dia menatap rak aksesoris, terdapat sepuluh koleksi kacamata yang dia miliki, ia meraih salah satunya.


"Keren juga, sudah lama aku tidak memakai jaket ini," Alex menatap dirinya di depan cermin, sedikit bergaya ala-ala model. Dari segala sisi, sang mafia memang sudah terlihat tampan.

__ADS_1


"Cukuplah! aku sudah tampan. Sayang! persiapkan dirimu untuk bertempur denganku hari ini," sambung sang mafia sembari mengenakan kacamata hitamnya. Sepatu casual bermerek yang sang mafia pakai, semakin menambah ketampanannya yang selalu paripurna itu.


Tak di ragukan lagi, jika suami Laras Nugraheni memang semakin mempesona di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Setelah siap, sang mafia melangkahkan kedua kakinya menuju pantry.


Sesampainya di sana, Alex menodong sarapan pagi kepada Richi.


"Mana sarapanku?" tanya Alex yang bersiap di meja makan sembari menunggu hidangan datang.


"Makanan sudah siap!" jawab Richi yang membawa nampan berisi sup sapi dan secangkir teh herbal.


Richi meletakkan menu sarapan pagi di atas meja. Alex menatap sang sahabat yang banyak bergaya.


"Kau pantas menjadi koki Richi daripada menjadi mafia," ledek Alex saat melihat Richi memakai topi koki beserta celemek di tubuhnya.


"Hey Lex! kau lihat dirimu, kau lebih cocok menjadi seorang model daripada seorang penjahat!" Richi mulai mengeluarkan jurusnya yang selalu mampu menjawab ucapan sang mafia.


"Terserah kau saja. Tuan koki? kau hanya membuat satu menu? untukmu mana?" tanya sang mafia yang hanya melihat semangkuk sup dan secangkir teh herbal di atas meja.


"Kau memang sahabatku yang terbaik. Kau ikut denganku, temui Angela." Sang mafia memberikan hadiah terbaik untuk sang sahabat. Hadiah karena selalu bergerak cepat dalam menanggani setiap hal.


"Pekerjaanku masih banyak bos! Angela pasti memahamiku," jawab sang sahabat yang menyadari posisinya sebagai orang kedua yang harus mengerjakan banyak pekerjaan.


"Anak buahku banyak, aku akan menyuruh Morgan dan Erland mengatasinya. Biarkan mereka merasakan rasa jauh dari isteri masing-masing. Saatnya kita yang bersenang-senang Richi," goda sang mafia.


"Haha, kau memang pandai membuat orang rindu berat," jawab Richi yang geleng-geleng kepala dengan sikap sang mafia yang suka melawak.


"Aku bosnya, terserah aku!" ucap sang mafia berlagak.


"Iya aku tahu, kau bosnya," jawab Richi yang merendah.


"Aku hanya bercanda Richi. Aku akan menyuruh Willy dan Franklin saja, mereka masih belum menikah, jadi aman." Alex memahami keadaan setiap anak buahnya, meskipun dia bosnya, Alex tidak akan melakukan hal semena-mena terhadap semua anak buahnya tanpa terkecuali.


Alex melahap menu sarapan dengan sangat baik, dia menghabiskan sup itu tanpa tersisa.


"Kau pandai memasak, sarapan buatanmu oishi!" ucap sang mafia merasa puas dengan menu sarapan buatan sang sahabat.

__ADS_1


Setelah meminum segelas teh herbal, Alex beranjak dari tempat duduknya, dia mengajak Richi untuk ikut bersama ke Paradise Land. Awalnya dia enggan menuruti ucapan sang mafia, tetapi karena Alex meminta Willy dan Franklin untuk menjaga markas, akhirnya Richi mau menuruti permintaannya.


"Frank,Will, aku titip markas dan anak-anak, aku hanya dua minggu di sana, setelahnya aku akan pulang," pesan sang mafia sebelum berangkat menuju Paradise Land.


"Tenang saja bos! aku akan menjaga markas dan anak-anak, kau tidak perlu kembali terlalu cepat. Di sini banyak orang yang mampu menghandle tugasmu, kau nikmatilah menjadi seorang suami untuk nona Laras dan daddy untuk calon babymu. Aku doakan persalinan nona Laras lancar, baby A dan ibunya sehat." Doa terbaik dari Willy untuk sang bos yang sangat ia hormati.


"Terimakasih Will atas doa baik yang kau berikan kepada keluargaku, semoga kau segera menikah dengan Jeni." Sang mafia meminta Willy untuk mengesahkan hubungannya dengan Jeni.


"Ya bos, aku memang akan menikahinya," jelas Willy.


"Bagus! untukmu Frank, kau carilah pengganti Angela, jangan terlalu bersedih saat dia menikah dengan Richi. Kau tahu kan? Richi adalah cinta pertama Angela, jika dia mau menikah, itu hanya dengan Richi tidak dengan yang lain," ucap Alex memberikan petuahnya kepada Frank.


Mata Richi melirik ke arah sang mafia, ia setuju dengan apa yang Alex katakan. Senyum manis menggembang di bibirnya.


"Bos, aku sudah menerima segalanya. Aku sekarang telah memiliki tambatan hati," jawab Frank yang membuat semua orang terkejut.


"Jangan bilang kau menyukai Xeon," Willy menatap wajah Frank yang menahan tawanya.


"Jika aku suka dia, apa suatu hal yang salah?" tanya Frank dengan mata yang berbinar-binar.


Alex dan Richi kebingungan dengan apa yang keduanya bicarakan.


"Xeon? siapa dia?" tanya Alex penasaran.


"Dia itu, anak singa yang baru lahir. Frank jatuh cinta padanya," jelas Willy datar.


"Astaga! Angela dan bayi singa adalah dua hal yang sama persis!" celetuk sang mafia, ia menatap wajah Richi yang terlihat kesal saat Angela di samakan dengan Xeon.


"Sial! dia singa betinaku yang imut, Xeon kalah imut," gerutu Richi.


Tawa sang bos dan kedua anak buahnya pecah, mereka tak menyangka jika Richi yang terkenal pendiam dan bijaksana bisa menggerutu seperti anak kecil.


"Pembahasan tentang jatuh cinta kita sudahi dulu karena aku sangat merindukan isteriku, ingat pesanku baik-baik! aku pergi dulu!" pamit sang mafia.


"Baik bos!" jawab Frank dan Willy serentak.


Perlahan, Alex dan Richi masuk ke dalam mobil tuan pilot untuk menuju landasan helipad yang ada di perumahan elit tuan Immanuel.

__ADS_1


__ADS_2