Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Waktu untuk kita berdua


__ADS_3

Tuan Hans menepuk pundak sang mafia dengan lembut dan tersenyum kepadanya, berharap sang menantu akan mengikuti arahannya yang akan membuatnya mendapatkan kebahagiaan.


“Kau yakin ayah? Apa anak-anak tidak akan membenciku?” Alex merasa akan menjadi bahan amukan kembar lima saat dia menguasai sang mommy.


Tapi kali ini, sang ayah mertua menjamin segalanya. Apalagi kelima baby A sudah keluar dari kamar itu bersama nenek mereka.


Kini tinggal sang mafia yang akan memutuskan, ingin bermesraan atau menemani sang ayah mertua bermain catur.


“Oke, daripada aku membuat anakmu menangis, lebih baik aku membuatnya mendesaaah,” bisik Alex yang seketika mendapatkan pukulan dari Tuan Hans.


“Rasakan!” Tuan Hans memukul kepala sang mafia sangat keras, membuat sang istri bertindak.


“Ayah, jangan pukul dia,” ucap Laras dengan mengelus kepala sang suami dan meniupnya perlahan.


“Terserah kau saja! Selamat bermesraan.” Tuan Hans langsung kabur karena pasti akan mendapat balasan pukulan dari sang anak mertua.


.....


Suasana menjadi lebih tenang dan hening.


Laras yang sedari tadi memeluk tubuh sang suami, langsung melepas pelukannya.


“Kenapa kau lepas? Bukannya ini yang kau mau?” Sang mafia segera mengunci pintu utama agar tidak ada yang mengganggu.


Kemdian, dia mendekati sang istri yang diam terpaku menatap wajah tampan sang mafia.


“Bisa kita mulai baby?” tanya Alex yang kini berada di belakang tubuh sang istri. Dia memeluk tubuh ibu hamil itu, mengecup lehernya dengan penuh gairah.


Laras menggeliat, rasa geli terasa kesekujur tubuhnya.


“Baby, hentikan,” pinta sang istri yang sudah tidak tahan saat bibir basah sang suami menjalar di tengkuknya, memberikan sensasi yang nyaman.


Tangan nakalnya mulai naik, menerobos helai kain yang menutupi dua pegunungan indah yang tak akan pernah bosan untuk Alex daki. Kini tangan itu berhenti di pucuk ranum yang ikut menegang akibat sentuhan cinta sang suami yang senantiasa memabukkannya.


“Lex!”pekik Laras saat sang suami kembali melancarkan aksinya dengan tangan yang lain menerobos sesuatu di bawah sana.


Tempat yang lembab dan basah itu mendapatkan serangan dari jerami Alex yang menghujamkan ke dalam lembah penuh kenikmatan surgawi itu.


“Baby, no!”

__ADS_1


Semakin lama gerakan jemarinya semakin cepat. Perpaduan sentuhan antara tangan yang satu dengan tangan yang lain memberikan sensasi halusinasi yang kuat, hingga tubuh mungil Laras bergerak tak beraturan akibat sesuatu yang keluar dibawah sana.


“Sekarang ya baby?” ucap sang mafia yang tidak sabar ingin merasakan sensasi yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Laras.


Laras berbalik, dia mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh sang mafia kemudian menatap wajahnya intens.


“Baby, kau semakin tampan. Sudah beberapa hari ini kau pergi dariku, hari ini kau adalah milikku. Biarkan aku yang melayanimu.”


Cup!


Laras mengecup bibir itu dengan mesra.


Memberikan perasaan rindunya yang sudah menggelora sejak lama. Pertautan itu semakin kuat dan menuntut, membuat suasana semakin panas.


Sang mafia melepas helai kain yang ada di tubuh bagian atas sang istri kemudian membuangnya kesembarang tempat. Kini tinggal kain pembungkus buah sensasional milik sang istri yang masih tetap menempel dan menyangga dua pegunungan indah itu.


Pertautan bibir terhenti, bibir sang mafia kini mulai menjalar ke bagian lain.


Dia menyapu tubuh mulus itu dengan bibir basah yang penuh hasrat yang membara, meninggalkan bekas merah merona.


Sang istri mengigit bibir bawahnya kala tanda itu berhasil Alex buat di tubuh bagian depan Laras.


Terlepas!


Alex berhasil melepas kain penyangganya dan kini nampak jelas dua bulatan menggemaskan yang terlihat menggoda untuk segera di eksekusi.


Alex mempermainkan pucuk ranumnya denga jarinya, memijatnya dengan perlahan.


Membuat sang istri mengeluarkan suara indah yang memacu dirinya untuk menyenangkan sang istri.


Tapi rasa yang sudah membuncah itu terhenti kala tangan sang mafia terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.


“Baby, kau kenapa?” tanya Laras panik.


“Aku, tanganku baby,” jawab sang mafia dengan memegang sebelah tangan yang terasa kaku.


Tiba-tiba lengan kemeja sang mafia berdarah. Laras kemudian menggulung kemeja itu sampai ke atas lengan.


Dia terkejut dengan luka tembak yang menganga. Alex lupa memasang perban.

__ADS_1


“Kau ceroboh! Aku tidak suka kau yang ceroboh!”


Laras meraih t-shirt yang ada di lantai dan memakainya kembali, setelah itu, dia beranjak meninggalkan sang suami yang sedang menahan rasa sakit.


“Oke baby, aku yang salah. Aku ceroboh, aku akan mengaku kepadamu jika lenganku tertembak, tubuhku penuh lebam. Makilah! aku sudah siap!” Alex terduduk lesu dan pasrah.


Dia tidak mengharapkan apapun lagi. Hasratnya tidak bisa dibendung.


Tetapi partner ranjangnya marah kepadanya, alhasil, Alex hanya bisa menelan pil pahit tak dapat bermesraan lagi.


Saat harapannya terasa hilang, sang istri duduk di depannya dengan membawa kotak obat.


Dia membuka kancing kemeja Alex tanpa menatap wajah tampan itu. Setelah benar-benar terlepas, dia terkejut dengan luka yang ada di dada bidang, pundak serta punggung.


Namun yang paling parah ada di lengannya yaitu sebuah luka tembak.


“Aw sakit baby,” pekik sang mafia saat Laras mengoles bagian lebam itu dengan salep khusus.


“Kalau tahu itu sakit, harusnya saat sedang tidak fit, beristirahat. Kau ini bos mafia, mengapa harus turun tangan? Segalanya kau yang melakukannya!” protes Laras merasa sang suami selalu ceroboh.


“Iya, maaf. Tapi orang ini akan membuat malu istriku yang cantik ini, jadi aku tidak mampu menahan diri.” Alex memberikan penjelasan agar Laras tidak salah paham.


“Selalu banyak alasan.” Laras sudah memahami sifat sang suami yang tidak mau diatur itu.


“Ingat usiamu tidak muda lagi, jangan banyak tingkah. Anak-anakmu akan bertumbuh semakin besar, suatu saat nanti mereka akan menanyakan apa pekerjaanmu. Tak bisa kah pensiun saja jadi penjahat?”


Harapan Laras sangatlah besar agar sang suami tidak lagi berkecimpung di dunia hitam lagi, seperti lima tahun yang lalu. Alex hanya bekerja menjadi CEO Dounghun Farmasi. Tapi setelahnya, dia tetap kembali ke dunia yang telah membesarkan namanya itu.


“Iya baby, aku tahu. Tetapi menjadi penjahat bukan keinginanku, aku tidak memilliki kekuasaan di sini, yang ada aku tidak bisa berkutik jika tidak segera bergerak,” jawab Alex yang selalu pandai ngeles.


Laras mencubit dada Alex yang membiru akibat pukulan musuh dan membuat sang mafia memejamkan matanya menahan rasa sakit.


“Mengapa diam saja? harusnya kau berteriak,” sindir Laras terhadap sang suami yang tak bersuara saat bagian yang lebam itu kena cubit Laras.


Berhubung sang istri adalah wanita yang tidak tega melihat banyak luka di sekujur tubuh Alex, dia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah dada bidang sang suami kemudian mencium bagian yang belum ia olesi dengan salep khusus.


Alex merinding kala bibir manis menyentuh kulit dadanya, ingin rasanya membalas perlakuan nakal ini, tapi dia berpikir ulang untuk melakukannya.


....

__ADS_1


__ADS_2