
"Laras, apa kau tahu jika dua minggu itu sangat menyiksa bagiku?" Alex memeluk tubuh sang istri dengan selimut yang menyelimuti keduanya, rasanya tenang dan damai saat memeluk istri tercinta.
"Ehm, biasa saja!" Laras berpura-pura tidak merasakan apapun saat sang suami tak kunjung kembali karena sedang proses pengobatan.
Alex melotot ke arah sang istri dan mencubit pipinya dengan lembut.
"Kau selalu pandai berbohong! padahal waktu itu kau menangis! Cih, wanita memang selalu menyembunyikan kebenaran di dalam hatinya." Alex memeluk erat tubuh Laras dengan penuh cinta, sesekali dia menciumi kening Laras.
Keduanya merasakan kebahagiaan yang abadi. Setelah dua hari tidak bertemu, Alex kini bisa mencurahkan rasa rindunya kepada sang istri sepuas-puasnya. Tanpa ada kecemburuan dari ke lima babynya yang tanpa henti mengawasinya.
"Lex!" panggil sang istri mesra, jarinya bermain di dada bidang Alex.
"Hm, ada apa sayang?" jawab Alex sembari membelai wajah cantik Laras.
"Kita sudah melewati banyak peristiwa dalam kehidupan, semuanya kita lalui dengan penuh perjuangan. Terutama saat kau harus berjuang keras mendapatkan restu ayah dan ibuku, aku bahkan melawan mereka berdua karena mempertahankan hubungan ini." Laras mengenang masa lalu yang kelam saat dirinya harus berdebat dengan Tuan Hans dan Nyonya Fira perkara hubungan cintanya dengan seorang mafia.
"Hah! iya, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, kita berdua sudah menikah dan memiliki lima baby A. Ditambah lagi satu, masih di surga, yaitu baby B. Kebahagiaan yang harus kita syukuri," ucap sang mafia sembari memeluk erat tubuh sang istri.
Di saat momen berdua yang sangat akrab dan intens, sang mafia tiba-tiba teringat akan Rafles, pria sok misterius yang ingin bertemu Laras.
"Oh ya, aku ingin mengetahui, Rafles itu seperti apa?" Tidak ada angin tidak ada hujan, sang mafia bertanya tentang pria yang masih mendambakan sang istri.
__ADS_1
"Aku malas membahasnya jika hanya akan membuatmu salah paham." Laras menyadari, sang suami adalah pria yang posesif dan budak cinta, jika mengetahui tentang hubungannya dengan Raf, pasti kemesraan keduanya akan hambar.
"Katakan saja, ini penting bagiku, aku tidak akan marah. Kau tidak perlu khawatir." Alex meyakinkan sang istri agar tidak terlalu memikirkan segala sesuatunya terlalu jauh.
"Oke, dia adalah temanku waktu kuliah. Dia dan Juna sempat berselisih paham gara-gara aku memilih Juna sebagai kekasihku, tapi anehnya setelah beberapa bulan berlalu, dia pergi entah kemana. Dia pria misterius, aku tidak terlalu akrab juga tidak terlalu jauh, kami berteman selayaknya teman satu kampus, jalan-jalan dengannya dan beberapa teman yang lain, menghabiskan weekend dengan pergi ke bioskop. Ehm, sudah itu saja, jika dia mengatakan sesuatu tentang gadis yang ia kagumi, dia memberikan istilah bunga matahari untuk gadis tersebut. Aku tidak sempat bertanya tentang siapa bunga matahari itu, yang aku tahu Raf sangat menjaga perasaannya untuk gadis itu." Laras menjelaskan hal yang ia ketahui tentang Raf, tidak ada yang ia tutup-tutupi. Semua sudah ia ceritakan kepada Alex.
"Oh, ingin rasanya ku tembak kepalanya." Sang mafia terbawa emosi jiwa. Dia tidak sanggup jika mendengar sang gadis bersama pria lain meskipun itu semua sudah berlalu.
"Haha, tenang Tuan Alex Fernando! kau bilang tidak apa-apa, tetapi responmu berbeda sekali. Cie, ada yang cemburu buta!" Laras menggoda sang suami yang ketahuan tidak biasa saja saat mendengarkan Laras menceritakan pria lain.
Alex terdiam, dia memeluk Laras dengan erat sampai wanita itu merasa sesak.
Alex tidak menghiraukan ucapan sang istri, hingga dua menit kemudian dia baru melepaskan pelukannya.
"Astaga! kekuatanmu melebihi permainanmu tadi, sesak rasanya! Huft!" keluh Laras saat tubuhnya terlepas dari cengkraman sang singa jantan.
"Kau sekarang tahu kan rasanya menjadi aku? rasanya sesak di dada saat kau menceritakan pria lain di depanku, ya memang aku yang memintanya tetapi tetap saja rasanya panas hati ini," sesal sang mafia.
"Iya, Diamlah! oke, aku yang salah! maafkan aku!" Malam ini Laras harus mengalah, meskipun ini bukan salahnya. Dia merasa lebih baik mengalah daripada nanti mendatangkan banyak masalah.
Laras memeluk erat tubuh kekar itu, dengan mata terpejam, dia menghirup aroma tubuh sang suami yang khas.
__ADS_1
"Harum tubuhmu Lex, aku menyukainya." Laras terus merasakan aroma khas itu, menghirupnya dalam-dalam. Tak terasa matanya terpejam sempurna di dekapan sang mafia. Dia sepertinya kelelahan akibat permainan sang suami.
"Sayang? sayang? apa kau tidur?" panggil sang mafia, karena tidak mendapatkan jawaban dari Laras, sang suami kemudian menatap wajah cantik sang istri.
"Dia melupakan ucapannya, satu jam lagi kita ulangi? Cih! istriku ini, lucu sekali! gemas aku dengan bibir mungilnya, ingin rasanya ku lahap saja!" Jiwa brutal Alex menggila, namun ia harus menahannya.
Saat istrinya terlelap tidur, sang mafia mencurahkan isi hatinya.
"Asal kau tahu istriku, hatiku sangat was-was saat pria itu mengajakmu bertemu. Aku bisa saja mencarinya hari ini dan membunuhnya dengan mudah, tetapi dia bukan orang sembarangan. Rafles adalah anggota kepolisian dengan pangkat wakil kepala polisi kota New York, tempat kita tinggal. Kota ini bukan wilayah kekuasaanku, masih banyak mafia di luar sana yang lebih kejam dari aku, sedangkan kondisiku belum benar-benar sembuh. Aku khawatir pria bernama Rafles akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu! bahkan dia bisa meminta bantuan para mafia untuk memburuku dan menghabisiku. Aku hanya ingin kau sayang, tidak ingin yang lain! aku harap kau memahaminya!" Sang mafia sangat takut kehilangan Laras, Rafles bukan pria yang bisa di remehkan, dengan statusnya sebagai anggota kepolisian, sangat mampu untuk mengusiknya.
Alex mempererat pelukannya, dia mendekap tubuh sang istri semakin erat tetapi tidak sampai membuatnya sesak napas.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1