
Perjalanan dari markas menuju bandara hanya menghabiskan waktu 25 menit saja. Setelah itu, 5 mobil yang berisi 13 orang anggota mafia, secara bersamaan keluar dari mobil tersebut.
Mereka menggunakan pakaian biasa jadi tidak terlalu kentara jika mereka adalah pasukan mafia kelas kakap pimpinan Alex Fernando.
"Mana tiketnya?" tanya Richi.
"Aku akan menelpon temanku sebentar." Belum sempat Willy menelepon sang teman, orang yang dimaksud sudah ada di depannya kemudian memberikan tiket yang diminta.
"Ini, maaf aku telat. Ada pekerjaan banyak sekali," ucap teman Willy dengan nafas yang terengah-engah.
"Oke, tidak masalah, uangnya nanti akan aku kirim ke rekening mu," jawab Willy.
"Oke Wil, pergi dulu masih ada banyak pekerjaan," pamit sang teman.
"Oke."
Tiket sudah di tangan, ke 13 orang itu masuk ke dalam bandara.
__ADS_1
Langkah mereka tak terasa sudah sampai di area take off pesawat.
Mereka satu persatu naik ke dalam pesawat yang akan membawa ke 13 anggota Death Angel menuju Macau.
Tidak ada yang mencurigai mereka, karena penampilan semua anggota arti warga sipil yang sedang ingin berpergian.
"Kau duduk denganku," pinta Willy.
"Tidak mau! aku ingin duduk dengan Kak Richi," jawab si bocah terang-terangan.
Willy menarik baju bocah itu, kini si bocah terpaksa duduk di samping Willy karena pria itu telah mengikat sang bocah menggunakan sabuk pengaman.
"Pesawat akan take off, rasanya seperti ingin pergi ke masa lalu yang menyebalkan, harus bertemu masa lalu, harus bertemu ayah harus bertemu MK, itu sangat menyengsarakan bagiku!" ucap Han Bin.
"Sepertinya hidupmu tidak bahagia disana, gadisku pasti meninggalkanmu?" goda Willy.
"Diam kau!! aku sebenarnya malas membahas Tyuzu, aku rasa dia sudah menjadi ******* di sana!"
__ADS_1
Han Bin sudah putus asa dengan apa yang ia yakini selama ini. Dia sudah tidak memiliki keteguhan hati lagi, jika Gadis itu bukan jodohnya dia mau melepaskannya karena sudah terlalu lelah, MK sangat kuat untuk dilawan.
"Mental mafia sepertimu akan meruntuhkan organisasi yang sudah kau buat! ayolah semangat nanti aku bantu, kau tidak perlu bersedih karena ini adalah fase dimana kau harus menentukan langkah dan sikap. Aku pernah menjadi sepertimu label dan dan tidak bersemangat. Tetapi, saat bos kami memberikan petuah, semuanya akan menjadi mudah," jelas Willy, dia mencoba menguatkan hati Han Bin.
"Entah paman, aku tidak tahu! biarkan saja aku labil, masih ada orang lain yang mampu memimpin organisasi mafia yang aku buat! aku menang lemah karena cinta, aku yang lemah karena gadis itu! tetapi aku tidak terima saat perjuangan ku tak membuahkan hasil, tidaknya aku ingin melihat kakek dan nenek bahagia di dunia maupun di surga, hanya satu itu keinginanku yang lain tidak ada lagi," tukas Han Bin saat mengingat kedua orang tua yang sangat berjasa di hidupnya itu.
"Nenek? kakek? maksudmu orang tua dari ayah dan ibumu?" tanya Willy belum memahami apa yang dikatakan oleh bocah tersebut.
"Bukan, kedua orang itu adalah kakek dan nenek Malang ya aku temukan di sebuah warung kopi. Mereka selalu mendapatkan intimidasi dari MK karena tidak bisa membayar upeti, aku yang membela mereka dan membawa pergi jauh saat MK mulai beraksi, tetapi dasar orang tua ya! mereka tetap saja kembali ke tempat awal mencari rezeki." Saat ini, Han Bin menunjukkan sisi yang lain dari dalam dirinya.
Sosok yang sangat dewasa dan penuh perhatian.
"Cih! kau itu kan tidak memiliki keahlian apapun yang membuatmu harus menyombongkan diri!" Willy melakukan apapun yang dikatakan oleh bocah itu.
"Silahkan jika kau tidak ingin bertanya kepadaku, tapi pada intinya aku memiliki keluarga yang sangat bahagia bersama kakek dan nenek, dia berada di rumah sakit, salah satu dari mereka sedang sakit. Aku bertanggung jawab atas mereka berdua."
....
__ADS_1