
Laras memberanikan diri mengambil ponsel dari tangan ibunya. Setelah ponsel itu berada di tangannya, terdengar suara sang suami meskipun lirih.
"Sayang? kau dan anak kita aman kan?" tanya Alex, suara pria itu seperti orang yang menahan rasa sakit.
"Bukan kami, tetapi kau sayang? apa kau baik-baik saja? suaramu parau, seperti orang sedang menahan rasa sakit?" Laras mengira-ngira apa yang sedang terjadi pada sang suami.
"Bukan masalah besar sayang, aku hanya sedang sariawan dan panas dalam, kau tahu? aku rindu padamu sampai meriang badanku," ucap Alex yang berusaha tetap semangat meskipun dia terluka parah.
"Cih! pria ini, pulanglah, apa kau tak rindu padaku dan anak-anak?" Laras begitu bahagia hingga tidak sabar untuk bertemu dengan sang suami.
"Iya, aku akan pulang, tetapi setelah kau setuju jika kita akan melakukan 4 ronde!" Permintaan menyebalkan dari sang suami kembali terdengar.
"Hey suamiku tercinta, kau bisa kan memikirkan hal lain, selain urusan ranjang?" jawab Laras dengan suara yang lebih pelan karena masih ada anak-anak di sekitarnya.
__ADS_1
"Apa kau sedang berada kamar mandi? suaramu pelan sekali? jangan melakukannya seorang diri, tunggu aku kembali setelah itu mari kita berduel sampai 4 ronde!" Laras menelan salivanya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib tubuh mungilnya yang pasti akan remuk saat sang suami menunjukkan kepiawaiannya di atas ranjang.
"Hentikan berbicara masalah seperti itu di depan anak-anak, itu bisa kita bicarakan lagi, sekarang kau harus berbicara dengan anak-anakmu. Kau tahu? mereka sangat merindukanmu," ucap Laras sembari memberikan ponsel milik ibunya kepada salah satu putra tercintanya yaitu Lexis.
"Dadddy!!!!" pekik Lexis, suaranya sangat nyaring dan terdengar begitu merindukan kehadiran sang mafia.
"Iya sayang? apa ini kau tengil?" tanya sama mafia yang begitu hafal dengan suara masing-masing jagoannya.
"Iya dad! ayo pulang, kita bermain bersama!" rengek Lexis, belum sempat si tengil selesai bicara, ke tiga saudaranya sudah mulai berebut ponsel milik Nyonya Fira.
Suasana jadi sangat tidak kondusif karena mereka berempat menangis karena tidak ingin melewatkan momen berbicara dengan sang mafia. Nyonya Fira, Laras dan Aarav mencoba menenangkan 4 jagoan sang mafia itu. Namun bukannya berhenti menangis, justru mereka mengamuk hingga ponsel Nyonya Fira terjatuh kemudian tiba-tiba mati.
Ke empat jagoan sang mafia itu menangis tanpa henti, mommy dan neneknya berusaha menghibur namun tetap saja tidak mempan.
__ADS_1
"Ini, kakek masih memiliki satu ponsel untuk menghubungi daddy kalian!"
Bak pahlawan kesiangan dari negeri dongeng, kakek Hans membawa pencerahan di hati para jagoan yang gundah karena panggilan teleponnya harus putus gara-gara ponsel sang nenek mati.
"Kakek! ayo telepon daddy! ayo! hiks!" rengek Arsenio sembari berlari kearah sang kakek, tak mau kalah, ketika saudaranya juga mengikuti jejaknya. Kini ke empat jagoan itu mengandalkan sang kakek agar bisa menelepon daddy mereka.
Tuan Hans mengatakan jika jagoan sang mafia boleh berbicara dengan daddy, tetapi dengan satu syarat, tidak boleh berebut.
Mereka mengangguk tanda mengerti.
Tuan Hans segera membuat panggilan ke nomor ponsel Alex, tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya panggilan itu mendapat jawaban dari sang mafia.
"Halo? ayah ada apa?" tanya Alex masih dengan suara yang parau.
__ADS_1
"Anak-anakmu berebut ingin berbicara denganmu," jelas Tuan Hans dengan senyum yang mengembang. Dia tidak habis pikir dengan kelima cucunya, semua barang pasti jadi rebutan. Sampai celana pendek bergambar superhero juga pernah berulangkali hangus gara-gara dibakar oleh si tengil, dia tidak ingin celana miliknya dipakai oleh adik-adiknya.