
Angela dan Richi menatap wajah ketakutan tuan Shin. Dalam sekali tembak, mungkin saja pria menyebalkan di depannya sudah tewas. Tetapi Richi ingin bermain-main dulu dengannya.
"Tuan Shin, tatap wajahku," Richi perlahan mendekati pria tua itu, berjongkok di depannya dan menatap raut ketakutan di wajah tuan Shin.
"Mengapa wajahmu penuh keringat? apa kau gugup?" sambung Richi yang mendekatkan moncong pistol itu ke arah mulut tuan Shin.
"Richi, jangan bunuh aku, ku mohon!" pinta tuan Shin mencoba bernegosiasi.
"Coba katakan sekali lagi?" ucap Richi yang perlahan mulai menarik pelatuk, dan...
DOR!
DOR!
DOR!
Tiga timah panas sukses mendarat ke dalam mulut tuan Shin yang cakap besar itu. Akhir kisah sang pembual, Richi telah menutup mulut serta usia tuan Shin dalam satu waktu.
Pria gagah itu bangkit, mengusap wajahnya kasar dan menghampiri Angela yang terlihat puas dengan apa yang di lakukan oleh sang kekasih.
"Bagus kak!" ucap Angela sumringah.
Panggilan telepon dari sang bos belum ia matikan, di balik ponselnya, sang mafia berbicara.
"Ku dengar kalian berdua telah sukses menyiksa dan menghabisi mereka berdua, suara tembakan begitu menggema sejak tadi," tukas sang mafia memastikan.
"Tentu saja bos, kak Frank dan kak Richi telah melakukan tugasnya dengan baik, Selanjutnya bagaimana?" tanya Angela yang merasa sangat bersemangat.
"Beristirahatlah, besok datang ke pulauku bersama Richi," pinta sang mafia.
"Siap bos! aku rindu padamu," ucap Angela, sontak Richi tersenyum mendengar sang kekasih mengatakan rindu dengan wajah yang polos, sungguh menggemaskan baginya.
"Aku bisa di cekik oleh Richi jika kau merindukanku," canda sang mafia.
"Hahaha, mana mungkin dia berani mencekikmu bos?" Angela dan Alex benar-benar sedang menggoda Richi, mereka sangat memahami kecemburuan yang di rasakan oleh kekasih Angela itu.
__ADS_1
"Aku mau membersihkan diri dulu, kau bicaralah dengan bos, aku tidak akan mencekik bos ku sendiri hanya karena kau merindukannya. Setelah ini kau suruh Willy untuk membereskan mayat pembuat onar itu," Richi tidak menggubris candaan Angela dan Alex. Dia terlihat sangat lelah.
"Bos, aku tutup panggilan teleponmu dulu, sepertinya dia benar-benar merajuk," ucap Angela cemas.
"Hahaha, baiklah! dia adalah definisi budak cinta yang sesungguhnya, kau temani dia," pinta sang mafia.
"Baik bos," Angela menutup panggilan telepon itu dan menyimpan ponsel di saku celananya.
Angela mengekor langkah Richi, namun langkah kaki sang kekasih terlalu cepat. Saat ia berusaha mengejar sang kekasih, dia menabrak Franklin.
"Kak, maaf!" ucap Angela.
"Tuan Shin sudah tewas?" tanya Frank. Ia melihat raut kecemasan dari wajah Angela.
"Sudah, aku sedang mencari Willy untuk membereskan mayat tuan Shin. Tetapi aku memikirkan kak Richi yang tiba-tiba saja menjadi pendiam," jelas Angela yang memang sangat cemas, sorot matanya tidak fokus dengan lawan bicaranya.
"Oh, kau susul dia. Aku yang akan mencari Willy," Frank mengerti perasaan Angela, dia mencoba menawarkan diri membantu gadis itu.
"Maaf kak aku merepotkanmu," ucap Angela sungkan.
"Tidak masalah," jawab Frank. Ia langsung mencari keberadaan Willy dan Angela menyusul Richi yang berjalan menuju kamar mandi.
Saat Richi menoleh, ia terkejut ada sosok Angela sedang menatap dirinya dengan senyum manisnya, "Astaga! apa yang kau lakukan di sini?" tanya Richi yang terlihat mengenakan handuk kimono.
'Dia menjadi sangat tampan saat rambutnya basah,' batin Angela sembari menelan ludah.
"Apa yang kau lihat?" tanya Richi heran dengan sang gadis yang menatapnya tanpa berkedip.
Menyadari dirinya terlihat bodoh di depan Richi, dia menggelengkan kepala dan segera menanyakan sebab sikap Richi yang berbeda.
"Aku? berbeda? tidak sayang. Aku ganti baju dulu, kau tunggu aku di ruang tamu, setelah ini aku akan memasak makanan kesukaanmu, kau senang?" Richi memahami perasaan Angela yang cemas akan dirinya.
Mendengar ucapan Richi yang kembali normal, Angela sumringah. Dia menuruti permintaan sang kekasih.
"Dia menggemaskan sekali," ucap Richi, selepas Angela pergi. Dia berjalan perlahan menuju kamarnya untuk berganti baju.
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Willy sedang berada di luar markas bersama Jeni, keduanya sedang membantu para rekan yang terluka. Frank menghampiri keduanya dan menyuruh Willy untuk segera membereskan mayat tuan Shin. Willy beranjak dari tempat itu dan segera melaksanakan perintah Frank.
Kini Franklin dan Jeni duduk bersama membalut luka para anggota. Namun, ada yang aneh dari Jeni. Gadis itu terlihat lebih pendiam.
"Jen? apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Frank penasaran.
"Kak, Mike menerorku," bisik Jeni gelisah.
"Kau sudah katakan kepada Willy?" ucap Frank memastikan.
"Belum kak, aku takut dia cemburu dan melakukan hal yang membuatnya celaka. Emosinya belum stabil, kemarin saat dia tahu ada seorang pria yang menggodaku lewat pesan singkat saja di marah. Apalagi masalah Mike," jelas Jeni khawatir.
"Tapi setidaknya kau harus bicarakan ini padanya. Jangan terjadi salah paham, posisimu di sini sangat berbahaya. Jangan sampai anggota Death Angel yang lain melihatmu sebagai mata-mata geng Liu Earl," pinta Franklin.
"Kau ada benarnya, ya nanti aku akan berbicara padanya. Terimakasih kak Franklin," ucap Jeni merasa lega.
...* * *...
Di markas Liu Earl..
Liu melihat sang adik gelisah, sedari tadi hanya mondar-mandir tidak ada hentinya. Karena kesal, bos Liu menjegal langkah Mike, sang adik jatuh tersungkur.
"Sial! mengapa kakak menjegalku?" gerutu Mike sembari menatap wajah sang kakak,perlahan dia bangkit dan merapikan bajunya kembali.
"Aku pusing melihatmu berjalan kesana kemari, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Liu yang menahan tawa melihat adiknya jatuh karena ulahnya.
"Jeni, aku rindu padanya, sudah lama aku mencarinya. Tetapi tak kunjung ku temui," jelas Mike merana.
"Mungkin saja dia sudah tewas saat bar miliknya luluh lantah akibat pertarungan waktu itu," jawab Liu santai.
"Tapi jasadnya tidak ada di sana,pasti ada yang membawanya pergi, aku yakin dia masih hidup. Nomor ponselnya juga masih aktif, aku sering mengirimkan pesan singkat padanya," ucap Mike menjelaskan.
"Lupakan dia Mike!" pinta sang kakak yang kini berada di depannya, mencengkeram pundaknya erat.
__ADS_1
"Aku akan lupa jika sudah ku temukan jasadnya dan memberikan tempat peristirahatan terakhir di makam leluhur kita," Mike menjadi sangat keras kepala karena cintanya kepada Jeni.
"Terserah kau saja, kau urusi masalahmu sendiri. Jika nanti ada masalah dengan geng Death Angel atau Shadow, kau yang mengurusnya, aku tidak ada waktu untuk mencari keributan," Liu melepaskan cengkramannya kemudian berlalu meninggalkan sang adik yang masih terobsesi dengan Jeni.