
Setelah mentari mulai menyinari bumi...
Pagi yang cerah untuk dua hati yang sebentar lagi akan berpisah. Mereka semua sudah berdiri di lantai atas gedung megah itu untuk melepaskan kepergian Richi dan Alex.
"Kau jangan terlalu mengkhawatirkan isterimu, aku ibunya, kau tidak perlu meragukanku," ucap nyonya Fira saat memberikan petuah kepada sang menantu.
"Iya kak, ada aku, bu dokter juga. Sebentar lagi akan banyak orang di sini, mereka akan tetap standby menjaga isterimu," ucap Angela mencoba menghibur Alex yang merasa sedih.
"Iya sayang, kau baik-baik ya di sana. Jangan terlalu memikirkanku," Laras memeluk mesra tubuh kekar sang suami yang sangat rapuh saat di depannya.
"Laras, maaf! aku tidak bisa menemanimu melahirkan, kau jaga diri. Sehat-sehat ya nak?" Pandangan mata Alex tertuju kepada perut buncit Laras, tangannya tak henti mengelus perut sexy itu.
"Lex, kau sudah siap? helikopternya datang," Richi mengingatkan Alex untuk segera pergi karena waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi, perjalanan menuju bar kota timur lumayan memakan waktu, Richi khawatir jika tidak segera berangkat akan telat sampai di sana.
Alex mendengarkan Richi, sebelum pergi, ia mencium kening Laras dan memeluknya erat.
"Sayang, aku sangat mencintaimu!" Pelukan hangatnya membuat Laras kuat melepaskan kepergian sang suami yang akan kembali menjadi bos mafia seperti sediakala.
"Iya, aku juga sama...love you forever, my big baby," Manik mata pasangan suami itu saling bertatap. Sepersekian detik kemudian, tatapan keduanya terasa jauh saat sang mafia berjalan menjauh dari orang-orang yang menyayanginya.
Alex tidak ingin menoleh kebelakang karena dia merasa berat meninggalkan sang isteri.
"Sabarlah Lex, suatu saat nanti kau akan kembali ke sisi isterimu," Richi merangkul pundak Alex, sebagai sahabat yang baik, dia selalu mendukung apapun keputusan sang mafia.
"Cih! kau sok tegar! padahal kau juga tidak mampu hidup tanpa Angela di sisimu," Alex merasa jika dia dan Richi memiliki kesamaan yaitu, terserang syndrom budak cinta akut.
"Sial! kau dan aku adalah pria yang di perbudak cinta, marilah saling mendukung," ucap Richi, ia segera naik helikopter itu bersama Alex.
Perlahan tapi pasti, helikopter itu telah lepas landas meninggalkan sementara segala kenangan indah bersama sang isteri.
Laras dan yang lainnya, tak henti melambaikan tangan melepaskan kepergian Alex dan Richi.
"Kau lihat, semua orang di bawah sana sangat menyayangimu Lex," Richi menunjuk ke arah lantai atas gedung yang semakin lama semakin terlihat mengecil.
"Iya aku tahu," Alex enggan menanggapi ucapan Richi, dia masih merasa gelisah.
__ADS_1
"Lex, dengarkan aku! kita akan membawa serta mereka saat waktunya telah tiba, kau tidak perlu risau," Berkali-kali Richi menguatkan sang mafia agar tetap semangat.
"Cih! apalah kau ini, aku tidak apa-apa. Kau lihatlah! aku Alex Fernando, mana ada risau!" Alex kesal mendengar kata-kata melow Richi.
"Haha, ya kau memang sombong dan angkuh! pertahankan Lex," Richi berhasil memancing jiwa Alex yang sesungguhnya, pria tangguh dan sangat sulit di takhlukkan.
"Apa kalian sedang membicarakan wanita kalian?" tanya tuan pilot.
"Iya, apa kau juga ingin ikut membicarakan wanitamu seperti kami?" jawab Richi menahan tawanya.
"Haha, tidak perlu, wanitaku sangat beda dari yang lain jadi tidak perlu di bicarakan," Tuan pilot tersenyum saat mengingat macam apa istrinya.
"Hm, pasti dia nyonya yang pelit dan banyak bicara," celetuk Alex.
"Haha, iya. Isteriku memang seperti itu,tetapi saat malam tiba, dia akan menjadi penurut," Tuan pilot lagi-lagi tersenyum.
"Ini mencurigakan," Alex menggelengkan kepalanya dengan tangan melipat di dada.
"Iya, kau pasti meminum obat yang bisa membuat isterimu bertekuk lutut padamu," Richi menambahkan hal yang pernah di alaminya.
Tuan pilot mendarat di sebuah landasan helipad milik tuan Immanuel yang berada di lantai atas gedung. Gedung itu adalah sebuah bangunan hotel nan megah.
Setelah mendarat, Alex dan Richi berterimakasih kepada tuan pilot karena telah mengantarkan mereka berdua sampai di kota timur dengan selamat. Kini keduanya telah menginjakkan kedua kakinya di lantai atas gedung, sedangkan tuan pilot telah menerbangkan kembali helikopternya.
Alex dan Richi berjalan beriringan menuruni tangga menuju pintu lift.
Ting!
Pintu Lift telah terbuka, mereka berdua masuk kedalamnya.
"Bar itu sepertinya ada di gedung ini kalau tidak salah," ucap Alex mencoba mengingat-ingat.
"Memang ada di sini, ada di lantai dua gedung ini," jawab Richi yang langsung memencet tombol angka 2 agar bisa turun di lantai dua tempat bar yang di gunakan untuk perjamuan makan itu.
Ting...
__ADS_1
Pintu lift terbuka, kedua pria yang bersahabat itu keluar dari lift. Mereka langsung di suguhi pemandangan para wanita cantik di bar tersebut.
Saat Alex berjalan diantara para wanita tersebut, ada seorang wanita yang memaksa untuk mengajak bos mafia minum dengannya.
"Tuan, kau sangat tampan dan gagah, mari minum bersama! aku memiliki layanan khusus untukmu," Sang wanita menyentuh pundak Alex, jari jemarinya bergerilya hingga dada bidangnya.
"Aku tidak suka kasar dengan wanita, sebelum aku marah, singkirkan jari kotormu itu dari tubuhku!" Alex masih diam tanpa bereaksi sedikitpun.
"Kau sangat angkuh dan sombong, aku semakin menyukaimu tuan!" Si wanita tidak menggubris ucapan Alex, alhasil sang mafia menunjukkan wajah aslinya.
"Kau mau tanganmu patah? atau ku tembak mati?" Raut wajah Alex nampak dingin. Ia menempelkan pistol tepat di kelapa sang wanita sembari menguncinya.
"Lex, lepaskan dia," Tiba-tiba terdengar suara pria tua berwibawa dari arah depannya. Saat Alex mengetahui sang pemilik suara, ia mendorong wanita itu.
"Uh," Sang wanita merasa sakit di pergelangan tangannya karena di cengkeram begitu erat oleh tangan sang mafia.
"Tetua Scorpion Blue!" Alex dan Richi membungkukkan badan tanda penghormatan. Senjata apinya telah ia simpan kembali di saku celananya.
"Ya, aku terima salam kehormatanmu. Maafkanku karena membuatmu mengalami kesulitan," ucap tuan Zhevgran, salah satu sahabat tuan Fudo dari geng Scorpion Blue.
"Bukan masalah besar tuan Zhev, kami yang seharusnya meminta maaf," ucap Alex merendah.
"Bawa wanita itu pergi dari sini," perintah tuan Zhev kepada dua anak buahnya.
"Baik tuan!" Kedua anak buahnya membawa wanita itu masuk ke dalam lift dan membawanya pergi.
Tuan Zhev memeluk tubuh Alex dengan erat, "Putra dari tuan Fernando memang sangat kuat! sayangnya beliau tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa, oh ya...dimana Justin? lama sekali aku tidak mendengar kabarnya, dimana dia Lex?" tanya tuan Zhev sembari melepaskan pelukannya.
"Sudah tewas," jawab Alex dengan gaya dinginnya.
"Astaga! dia juga pria hebat! siapa yang mampu membunuhnya, pasti orang itu adalah pria yang luar biasa!" Tuan Zhev mengetahui kemampuan Alex dan Justin dalam pertarungan bisa di katakan seimbang, jadi dua pria bersaudara itu pasangan petarung yang hebat.
"Aku yang membunuh kakakku karena dia seorang pengkhianat! dia telah mengkhianati Death Angel, bagiku tidak ada ampun untuk seorang pengkhianat! sekalipun itu kakak kandungku sendiri!" Cukup tenang Alex dalam menyampaikan fakta tentang Justin. Tapi mampu membuat tuan Zhev tercengang.
"Lex, kau sadis! tapi jiwa militanmu aku menyukainya!" ujar tuan Zhev yang masih tidak percaya jika di depannya adalah sosok malaikat maut yang sering tuan Fudo ceritakan padanya.
__ADS_1