
"Terima kasih Tuan Justin, kau telah menyelamatkanku." Ucap Yanze tiada henti mengucapkan terima kasih kepada Justin.
"Tidak perlu sungkan, setelah ini kau juga akan jadi anak buahku. Sudah sepantasnya bos melindungi anak buahnya." Jawab Justin.
"Maksud Tuan?" Tanya Yanze heran dengan ucapan Justin, seingatnya Justin dan dirinya belum mengucap kata sepakat tentang apapun. Tapi kenapa tiba-tiba Justin dengan yakin menganggap dirinya sebagai bos.
"Kau tidak usah heran seperti itu, Martin telah membuat kesepakatan denganku. Dia menukar jiwamu dengan separuh wilayah yang kau miliki untukku." Jawab Justin.
"Apa? kau lancang sekali Martin? bos Young Devil adalah aku,mengapa kau yang mengambil keputusan?"
Yanze begitu kesal dengan Martin yang membuat keputusan sepihak tanpa bertanya dengannya terlebih dahulu.
"Maaf bos, situasinya sangat mendesak. Aku harus segera menyelamatkanmu." Jawab Martin.
"Jangan berdebat di depanku, setidaknya berterima kasihlah padaku. Selain dapat menyelamatkan Yanze, aku mampu membuat Alex menyerahkan separuh wilayah Death Angel dengan mudah." Ucap Justin.
"Baguslah, dengan begini aku tidak perlu susah-susah melawan Alex, jika kakaknya sendiri yang akan menghancurkannya. Hingga saat itu tiba, akan ku binasakan mereka berdua." Batin Yanze.
* * *
Alex dan Ibunya Laras mengendarai mobil menuju desa mati. Di sepanjang jalan menuju desa itu nampak hamparan pemandangan pantai yang indah.
"Tempatnya indah sekali Tuan, Laras sangat menyukai laut. Dia pasti senang jika bisa datang kemari." Ucap Ibunya Laras.
"Benarkah? lalu apa lagi yang dia suka nyonya?" Tanya Alex penasaran.
"Perkenalkan, aku adalah pemilik sekaligus Ceo dari perusahaan farmasi "Dounghun". Namaku adalah Firanda Nugraheni. Panggil saja aku Fira." Jawab Ibunya Laras dengan penuh percaya diri. Aura pemimpinnya sudah mulai terlihat, tidak seperti tadi saat di sandera oleh Justin, begitu lemah dan tidak berdaya.
__ADS_1
"Wow... Aku sangat terkejut nyonya. Kau ternyata seorang pemimpin dan Ceo perusahaan terkenal sekelas "Dounghun", kau masih muda dan terlihat cantik di usiamu." Ucap Alex memuji.
"Kau menghinaku? usiaku hampir menginjak kepala empat, kau jangan berani merayuku, suamiku adalah kepala polisi di kota ini." Ucap nyonya Fira.
Alex sangat terkejut dengan jawaban nyonya Fira. Dia mengingat peristiwa beberapa tahun lalu yang membuatnya tertangkap polisi dan di hukum beberapa tahun di penjara karena bisnis obat terlarangnya di ketahui oleh seorang kepala polisi yang menyamar sebagai pembeli. Waktu itu dia lolos dari maut karena mampu menyuap hakim. Tapi sang kepala polisi masih terus menyelidikinya dan ingin menjebloskannya kedalam bui dan menghukum mati dirinya. Kini di depannya ada seorang Ibu dan anak yang sudah masuk ke lingkaran hitam dunia mafia, tidak mudah untuk mereka keluar. Alex harus mencari cara agar dia bisa lolos dari kepala polisi sekaligus ayah dari gadis yang di cintainya dan mengeluarkan belenggu hitam dunia mafia dari Ibu dan anak itu.
"Nak, mengapa kau tiba-tiba diam? apa kau takut mengetahui jika suamiku seorang polisi? tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya tentang dirimu yang merayuku tadi." Ucap nyonya Fira.
Alex tersenyum mendengar ucapan nyonya Fira yang polos dan apa adanya. Mirip sekali dengan sang gadis pujaan.
"Iya, aku takut di tangkap oleh suami nyonya Fira. Oh iya, namaku adalah. Panggil saja Nando." Jawab Alex menutupi identitasnya.
"Baiklah Nando. Kalau aku tidak salah, kau tadi bertanya tentang kesukaan anakku bukan?" Tanya nyonya Fira.
"Lupakan saja nyonya, lain kali saja kita ngobrol-ngobrol lagi. Sebaiknya kita segera menemui anak anda. Tempatnya sudah dekat." Jawab Alex.
"Tuan, aku tidak sanggup masuk kedalam. Kau saja yang menemui anakku, dan bawa dia kemari." Ucap nyonya Fira ngeri melihat pemandangan menyeramkan di depannya. Sebuah desa yang sudah tidak berpenghuni.
Alex mengangguk dan berjalan menyusuri desa mati untuk menuju rumah Angela. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan rumah Angela karena dia selalu ingat rumah orang yang menolongnya.
Dia mulai masuk ke dalam rumah tanpa pintu dengan lantai penuh debu dan serpihan kaca berserakan dimana-mana itu. Dia mulai mencari keberadaan Laras dan Angela. Matanya langsung tertuju di sebuah ruang keluarga yang penuh dengan foto keluarga Angela. Disana nampak dua gadis sedang tertidur pulas.
"Angela, bangunlah." Ucap Alex sambil menyentuh pundaknya berharap Angela akan segera terbangun.
Bukannya Angela yang terbangun, tapi justru sang gadis pujaan. Laras terkejut dengan kedatangan Alex yang tiba-tiba.
"Tuan, sejak kapan kau datang?" Tanya Laras bangkit dari pangkuan Angela.
__ADS_1
"Aku baru saja datang, kau baik-baik saja kan?" Jawab Alex.
"Aku baik Tuan, Angela menjagaku dengan sangat baik." Ucap Laras.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat merindukanmu sayang, bau harum tubuhmu itu membuatku candu, tidak sabar rasanya untuk memakanmu. Kalau aku ingin sekarang, apa kau mau melakukannya?" Canda Alex.
"Kau ini memang pria tidak tahu malu. Dimanapun kau mampu melakukannya. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu." Jawab Laras kesal karena tingkah Alex.
"Dimanapun, kapanpun, dengan kondisi apapun aku mampu melakukannya jika itu bersamamu. Aku siap!!!" Ucap Alex menggoda Laras.
"Juga termasuk di depanku kah? kau jahat sekali kak, kau tega membuatku iri dengan hubungan kalian yang sempurna itu." Jawab Angela yang sedari tadi melihat tingkah sang bos.
"Kau sudah bangun Angela? maaf jika kami mengganggu tidurmu." Tanya Laras.
"Sudah gadis cantik. Tidak masalah, kakakku ini memang suka bikin rusuh dan tidak tahu aturan, dia itu bos paling membosankan di seluruh dunia. Semoga saja kau betah bersama dengannya." Ejek Angela.
"Cih, pantas saja Richi tersiksa dengan perasaannya. Gadis yang di sukainya saja begitu menyebalkan seperti ini." Jawab Alex.
"Maksud bos?" Tanya Angela sambil mengerutkan dahinya, dia tidak memahami maksud perkataan Alex.
"Maksudku kalian lebih baik ikut pulang ke markas bersamaku karena situasi sudah mulai kondusif." Ucap Alex mengajak Angela dan Laras bersamanya.
Angela masih memikirkan perkataan Alex. Dia merasa itu berhubungan dengan perasaannya saat ini. Tentang perasaan cintanya kepada Richi yang dianggapnya hanya bertepuk sebelah tangan. Bertahun-tahun bersama membuatnya begitu dekat dengan Richard, hal yang terbiasa itu merubah rasa saling perduli menjadi rasa yang lain. Benih-benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Hingga saat itu Angela memberanikan diri mengungkapkan jati dirinya yang begitu mengagumi sosok Richi yang luar biasa menurutnya. Tetapi tidak kunjung ada jawaban. Hingga rasa lelah itu muncul, Richi kembali datang memberikan gelar adik untuknya, bukan kekasih.
"Mungkinkah Kak Richi menyukaiku? bukankah dia hanya menganggapku sebagai adik?"
Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalanya hingga membuatnya pusing sendiri.
__ADS_1