
"Astaga! Jihoku!" Suara isak tangis terdengar menyayat hati. Dia merasa sangat bahagia saat sang putera mau menghubunginya kembali.
"Ayah, maafkan aku!" ucap Jiho dengan tulus.
"Ayah sudah memaafkanmu, ayah yang harusnya meminta maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu dan Hang Zhi, apalagi setelah kematian ibumu, ayah merasa tidak berguna," ucap sang ayah.
"Yang lalu biarlah berlalu, aku sudah menyadari kesalahanku. Ayah, aku akan jadi pria yang tangguh bersama Death Angel. Tuan Alex telah menjadikanku anggotanya," Jiho menahan air matanya, dia ingin terlihat tangguh saat dirinya benar-benar rapuh.
"Benarkah itu? syukurlah, jika kau sudah kembali ke jalan yang benar. Oh ya nak, ayah ingin berbicara dengan Alex," ucap tuan Zhev.
Jiho menyerahkan ponsel itu kepada sang pemilik, Alex menerimanya dan segera berbicara dengan tuan Zhev.
"Ada apa tuan? ini aku Alex," jawab sang mafia.
"Terima kasih Lex, telah membantuku meluluhkan hati Jiho. Aku merasa berutang budi padamu, untuk selanjutnya apa rencanamu Lex?" tanya tuan Zhev.
"Aku akan menempa Jiho dan seluruh anggotanya menjadi petarung yang hebat dalam waktu 1 minggu," jawab Alex yakin.
"Aku percaya padamu Lex, kau akan menjadikan anakku petarung yang tangguh dan hebat," ucap tuan Zhev bersemangat.
"Lex, aku titip anakku. Jangan biarkan dia menjadi orang yang sombong dan angkuh setelah menjadi hebat. Buat dia memiliki sifat militan sepertimu," pinta tuan Zhev.
"Baik tuan, aku akan menjaga anakmu. aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri. Kau tidak perlu khawatir," jawab sang mafia meyakinkan.
"Baiklah, aku masih banyak pekerjaan. Aku tutup panggilanmu," ucap tuan Zhev.
"Baiklah tuh Zhev, semoga harimu menyenangkan," jawab Alex segera menyimpan ponselnya karena panggilan teleponnya telah berakhir.
Jiho menatap wajah sang mafia dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Apa yang kau lihat bocah?" tanya Alex merasa heran.
"Kau adalah pria yang baik tuan," jawab Jiho seraya memeluk tubuh Alex.
"Aku memang sudah baik dari dulu, kau saja yang baru tahu," Sifat tengil sang mafia mulai muncul ke permukaan, membuat Jiho terkekeh.
Jiho melepaskan pelukannya, ia menatap wajah sang mafia yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa bos?" tanya Jiho.
"Aku ingin menelepon isteriku, tetapi aku tidak ingin membuatnya khawatir. Sial! aku menjadi gila saat menahan rindu ini," Tanpa sadar, sang mafia memperlihatkan sisi budak cintanya kepada Jiho.
"Kau sangat mencintai isterimu bos, hubungi saja dia. Tidak masalah untuk mengungkapkan rasa rindumu," saran Jiho.
"Bukan itu masalahnya, tetapi kata dokter, saat seorang wanita sedang hamil, dia akan banyak sekali berpikir hal yang berlebihan. Saat aku meneleponnya, aku merasa akan membebaninya, tapi..." Alex menghentikan ucapannya saat semua anggota berkumpul di sekitarnya.
"Tapi apa bos?" tanya Jiho.
Alex menatap ke arah sekelilingnya, semua orang tiba-tiba saja menatap dirinya dengan raut penasaran.
"Iya, apa bos?" tanya seorang anggota junior.
"Tidak ada, aku pergi sebentar. Ada hal yang harus aku urus," Sang mafia kabur, dia tidak ingin terlihat seperti orang bodoh karena terlalu mencintai Laras.
"Bos kenapa? dia berlari seakan kita mengejarnya?" tanya salah satu anggota senior.
"Biarkan saja, lebih baik kita kembali berlatih," pinta Jiho yang mulai bangkit dari matras. Di ikuti oleh semua anggota yang lain, mereka juga kembali berlatih.
'Kau sama sepertiku tuan, aku juga sangat mencintai kekasihku, Kyara Zevanka, gadis yang mampu membuatku tergila-gila, namun dia seorang anak dari geng yang sangat membenci ayahku, alhasil kami harus mengalah, aku ingin sekali bertemu dengannya meskipun hanya sebentar. Aku ingin meminta maaf padanya karena terlalu lemah untuk mempertahankannya,' batin Jiho.
"Aku ingin seperti bos Alex, tetapi butuh waktu lama untuk belajar," ucap Jiho yang ternyata di dengar oleh Erland.
"Kau mampu menjadi seperti bos dengan melewati banyak Pertarungan," jelas Erland yang kini sudah berada di hadapannya.
"Iya kak, maaf aku sedang bermimpi hal yang tidak mungkin," ucap Jiho merasa sungkan.
"Tidak, kau mampu Jiho. Perkenalkan, aku adalah Erland, aku akan membantumu berlatih, bos Alex memiliki kemampuan menggunakan katana dan pukulan tipuan yang mematikan, kau beruntung jika dia mau mengajarimu," ucap Erland memperkenalkan diri.
"Kau Erland? wah beruntung sekali, aku mampu bertatap muka denganmu, aku Jiho," Mereka berdua saling berjabat tangan dengan erat.
Erland mengatakan jika dia akan melatih Jiho esok hari, itu perintah dari bos Alex. Jiho memahaminya, dia ingin berlatih sendiri, tetapi Erland mencegahnya. Sang pembunuh berdarah dingin itu, mengajak Jiho bergantung dengan yang lain.
Di kamar sang mafia...
"Haha, aku seperti lelucon tadi. Bagaimana bisa semua anak buahku berada di sekelilingku, saat aku membicarakan tentang Laras? sial! masa bodoh jika menganggapku budak cinta, karena aku memang mencintai isteriku," Bos mafia berbicara sendiri, dia mencoba menenangkan dirinya yang rindu berat kepada Laras dan tendangan maut kelima puteranya.
__ADS_1
Alex membiarkan dirinya berbaring di atas ranjang, ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan. Matanya menatap langit-langit kamarnya.
"Semoga aku masih bisa datang ke Paradise Land dan menemani isteriku melahirkan," ucap Alex.
Saat pikirannya sedang berada jauh di khayalannya, terdengar suara ponsel dari balik saku celananya. Ia mengambil ponsel itu dengan malas, tapi saat menatap layar, ia melihat ada nama my wife. Dia langsung beranjak duduk dan segera menjawab panggilan itu.
"I miss you, really miss you my wife," jawab Alex dengan sadar, mengungkapkan segala yang ada di dadanya, sebuah rasa rindu yang menyiksa.
"Kau sakit?" tanya Laras heran.
"Iya sakit rindu," jawab Alex.
"Apa? penyakit macam apa itu?" tanya Laras menggoda Alex.
"Penyakit yang obatnya hanya bertemu dan memeluk isteriku," jawab Alex merayu.
"Kau pandai merayu! Hm, anak kita sehat sayang, aku juga," ucap Laras dengan antusias.
"Syukurlah, meskipun aku berada jauh darimu, aku harap kau akan lebih kuat dari sebelumnya," pinta sang mafia.
"Siap! kau tenang saja, lebih baik kau fokus dengan misimu," Laras ingin Alex tetep bertanggung jawab dengan tugasnya.
"Kau sedang apa?" tanya Alex dengan suara yang terdengar malas.
"Aku sedang membaca buku, kalau kau? hey big baby! bersemangatlah! muach...muach.., ciuman untukmu," goda sang isteri.
"Sedang ingin memelukmu, tidak terasa sayang, jauh sekali bibirmu dari jangkauanku," Alex benar-benar rindu berat dengan sang isteri.
"Haha! ya memang jauh, tetapi terasa sampai di hati kan? Lex, aku sangat mencintaimu, tetaplah kuat! aku dan anak kita juga sangat merindukanmu," jawab Laras mencoba menenangkan sang suami.
Bersambung...
NB :
Selamat pagi gaes, author up lagi nih? mana suaranya? yuk ramaikan kolom komentar!!!🤭👍
Doakan othor agar lancar update chapter terbaru, karena kemarin sistem eror, banyak chapter yang tak bisa update 💪💪🙏🙏🙏 terimakasih!🙏🙏
__ADS_1