
Kebahagiaan masih menyelimuti keluarga sang mafia, mereka bertujuh melewati setiap detik kebersamaan dengan kebahagiaan dan suka cita. Bermain setiap permainan yang Tuan Carlo berikan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, kurang dari 3 jam lagi mereka akan menyaksikan pertunjukan kembang api. Tapi sebelumnya, mereka melakukan ritual bakar-bakaran.
"Makan malam kita, pesta barbeque ya?" ucap Laras. Semua persiapan telah selesai, Laras tinggal membakar daging sapi, serta jagung manis yang telah tersedia di sana.
"Hore!!!" pekik kelima anak sang mafia, mereka sangat antusias jika mengenai pesta barbeque. Dua bulan yang lalu, si kembar berlibur di rumah kakek Hans, mereka juga pesta barbeque di sana. Kehangatan keluarga sangat terasa. Alex yang biasanya sibuk, dia benar-benar meluangkan waktu, semua schedule di hari itu, ia kosongkan agar bisa pulang kampung. Alhasil, kebersamaan antara keluarga sang mafia dengan kepala polisi begitu terjalin harmonis, apalagi waktu itu, keadaan masih terkendali dan aman. Tidak seperti sekarang, setelah menolak kerjasama dengan pria tua itu, sang mafia menjadi waspada. Para penyusup sudah mulai bergerak.
'Aku akan segera membasmi mereka,' batin Alex sembari mengipasi jagung yang sedang ia bakar dia atas arang yang panas.
Di saat fokusnya berada di tempat lain, dia terkejut saat mendengar suara sang isteri yang terdengar seperti orang kesakitan, posisi dirinya yang berdiri di samping Laras, membuat Alex mudah menjangkau sang isteri. Dengan sigap, Alex menarik Laras dalam pelukannya. Ternyata tanpa sengaja, sang isteri terkena panasnya bara api, jari telunjuknya terluka.
"Ada apa sayang? mana yang sakit?" tanya sang mafia yang fokus dengan jari-jari cantik sang isteri.
"Ini, jariku terluka," jawab Laras sembari menunjukkan jarinya yang terluka.
Alex meniup luka di jari sang isteri, dia juga mencium punggung tangan Laras.
"Hem, kan jadi keterusan?" tegur Laras, dia tahu trik sang mafia yang tidak akan melewatkan sedetikpun tanpa mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Alex tidak memperdulikan ucapan sang isteri sampai suara Lexis mengejutkan mereka berdua.
"Halo? daddy? mommy? aku lapar!" ucap Lexis dengan memegangi perut mungil yang keroncongan itu.
"Oh oke, sebentar lagi akan siap, tunggu ya?" ucap Laras segera menarik tangannya dari genggaman sang mafia, dia kembali ke area pembakaran daging sapi, serta bahan pelengkap lainnya.
Rasa malu memenuhi relung hatinya, kali ini dia ketahuan lagi oleh sang putera.
'Padahal hanya meniup jari, tetapi rasanya sampai di hati. Memang beda kalau yang memperhatikan suami sendiri, apalagi tampan dan baik hati. Semua terasa dag-dig-dug setiap hari,' batin Laras.
__ADS_1
Alex kembali membantu sang isteri untuk membuat jagung bakar manis. Dengan telaten, sang mafia mengoleskan bumbu khusus ke seluruh permukaan jagung, kemudian meletakkannya di atas pembakaran, sesekali dia mengipas dan membalik jagung itu agar tidak gosong. Setelah selesai, ia letakkan di atas piring yang sudah tersedia. Selanjutnya, ia kembali membakar daging sapi, sosis, dan bahan yang lain sebagai pelengkap hidangan agar terasa nikmat.
Sebagai seorang mafia, ternyata Alex memiliki keahlian lain, menjadi tukang bakar jagung manis.
"Lex, kau pandai membuat jagung bakar," puji sang isteri.
"Jika aku menjadi penjual jagung bakar, setiap hari akan laris, melihat ketampananku saja mereka sudah tertarik." Sang mafia membumbui kata-kata sang isteri dengan hal yang membuat Laras geleng-geleng kepala.
"Haha, kau bisa saja." Laras bahkan tertawa mendengar celetukan sang mafia yang absurd itu.
Beberapa menit kemudian, hidangan makan malam telah siap. Semua anggota keluarga menunggu untuk makan malam.
Setelah semuanya siap, Laras memanggil anak-anaknya agar segera berkumpul untuk menikmati pesta barbeque malam ini.
Mereka berenam mencuci tangan dan berdoa terlebih dahulu, sebelum menyantap hidangan serba di bakar itu.
"Enak mom! daddy pandai membuat jagung bakar!" ucap Lexis dengan penuh semangat.
"Iya, dagingnya juga enak dan gurih," sahut Aarav tak mau kalah mengomentari hidangan yang di buat oleh sang ayah.
"Aku suka jagung bakarnya, daddy cocok jadi tukang jagung bakar!" celetuk Arsen, seketika semua anggota keluarga sang mafia tertawa mendengar ucapan Arsen.
"Mafia jagung bakar sayang?" bisik Laras sembari menyenggol lengan sang mafia.
__ADS_1
"Bukan, mafia pembakar hasrat!" Pembicaraan Alex sudah sampai kemana-mana, kode keras untuk Laras agar tak main-main dengannya.
Laras tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengan sang mafia, karena temanya begitu horor menurutnya.
"Cih! isteriku ini selalu membuatku gemas!" ucap Alex melihat respon sang isteri yang lebih memilih untuk mengelap wajah Adya yang kotor akibat saus barbeque.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Pukul delapan malam kurang sepuluh menit lagi. Setelah merasa kenyang, semuanya mencuci tangan dengan air bersih yang sudah tersedia.
Setelah menunggu beberapa jam lamanya, pesta kembang api akan di mulai dalam hitungan detik lagi.
"Kita hitung mundur ya?" pekik sang mafia yang memulai aba-aba.
10...9...8...7...6...5...4...3...2...1
Tiba-tiba terdengar bunyi kembang api saling bersahutan. Suasana yang sepi menjadi sangat meriah. Apalagi percikan api yang menyajikan warna-warni penuh harapan.
"Daddy! coba lihat! di sana kembang apinya sungguh indah!" pekik Adelio, dia begitu menikmati suasana malam yang indah penuh kilatan cahaya dari kembang api yang meletus. Dia menarik baju sang mafia sembari menunjuk ke arah kembang api berada.
"Iya sayang, semuanya indah, apalagi melihat pesta ini bersama keluarga, sangat membahagiakan," jelas sang mafia penuh rasa suka cita yang membuncah.
Dia dan keluarga kecilnya menatap kembang api yang tak henti-hentinya menyinari langit New York. Setiap satu letupan kembang api, mewakili harapannya yang agar kelak di masa depan, hidup kelima anak kembarnya tak sekejam dirinya.
Sang mafia akan membiarkan anak-anak menjadi apapun selain bos mafia, tapi pada intinya semua keturunannya harus memiliki kemampuan bela diri yang tangguh, karena di kehidupan selanjutnya, akan lebih banyak bahaya yang menghadang. Apalagi mereka adalah calon pria dewasa yang mengemban misi penting.
Untuk sejenak, Alex melupakan penyusup yang belum jelas identitasnya. Dia lebih fokus kepada keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Andai saja, ayah dan ibu bisa datang. Mereka juga akan menikmati pemandangan indah ini," ucap Laras yang kini berada di pelukan sang mafia.
"Buat saja pesta kembang api sendiri, jangan pernah bersedih isteriku, suatu saat nanti, pasti akan ada waktu bertemu." Sang suami semakin mempererat pelukannya sembari menjaga ke lima anak kembar jeniusnya yang begitu mengagumi keindahan letupan cahaya api di langit itu.