
Di rumah Guru Fu...
Laras tiba-tiba merasa gelisah, tanpa sengaja, dia menjatuhkan vas kaca milik Guru Fu saat melamun memikirkan sang suami. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. Saat dia ingin membersihkan vas kaca yang sudah hancur berkeping-keping itu, jari telunjuknya terluka.
"Aw! sakit sekali!" pekik Laras.
Saat semua anggota keluarga mendengar ada suara vas kaca yang pecah, mereka semua berhamburan masuk ke dalam rumah Guru Fu, kecuali Tuan Hans dan lima cucunya yang sedang bermain video game di kamar atas.
Sayang? mengapa vas kaca ini bisa pecah? kau baik-baik saja kan?" tanya Nyonya Fira yang terkejut saat melihat darah yang berasal dari jari telunjuk Laras yang tak henti mengalir.
Dengan sigap, isteri Guru Fu segera mengambil kotak obat yang ada di samping pintu masuk. Setelah mengambil kasa, kapas, alkohol, antiseptik dan plester, isteri Guru Fu mendekat ke arah Laras. Dia meminta wanita itu untuk segera mencuci jarinya yang terluka di bawah keran air Wastafel. , setelah mengobati luka Laras, isteri Guru Fu mengajak sang suami untuk membahas kepergian sang mafia yang tiba-tiba juga tentang mimpi yang isteri Guru Fu alami, sama persis dengan apa yang terjadi hari ini, vas tiba-tiba pecah dan jari telunjuk Laras terluka.
"Aku pamit dulu karena ingin membahas sesuatu yang penting dengan suamiku," pinta isteri Guru Fu.
__ADS_1
Laras dan Nyonya Fira menggangguk.
Setelah keduanya pergi, anak dan ibu itu duduk diatas sofa, seorang ibu ingin bercerita panjang lebar tentang sang mafia.
"Bu, aku belum membersihkan pecahan vas kaca, Aku khawatir jika anak-anak bermain di sekitar sini, pecahan ini akan membuat kelima anakku dalam bahaya," ucap Laras yang sudah pasti memahami dirinya sendiri. Dia tidak bisa memungkiri rasa cemas yang ada di dalam dadanya, dia merasa jika sang suami mendapatkan masalah besar. Laras bahkan berpikir sang mafia akan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Namun, Laras mencoba hilangkan semua bayangan hitam itu dari pikirannya, kemudian Laras ubah menjadi doa yang tulus agar suami tetap dalam lindungan Tuhan dimanapun berada.
"Laras? mengapa kau melamun? bukannya suamimu pergi untuk melakukan tugas bukan untuk berperang?" tanya Nyonya Fira yang menganggap jika sang mafia akan segera kembali karena tugas kantor yang sedang ia selesaikan.
"Bukan masalah itu ibu, aku memiliki firasat buruk jika terjadi sesuatu dengan suamiku, tidak biasanya aku teledor. Jarak antara tubuhku dan vas kaca itu lumayan jauh, tapi karena hati dan pikiranku hanya tertuju kepada suamiku, tanpa sengaja aku menyenggol vas kaca tersebut. Semula aku mengira tidak pecah tetapi sudah hancur berkeping-keping, seketika aku... sudahlah! lebih baik kita doakan agar suamiku segera kembali!" Laras gelisah, dia tak mampu menyembunyikan perasaan tidak menentu sejak kepergian sang suami menggelayuti hati dan pikirannya.
Namun, namanya juga bucin. Laras tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh sang ibu, dia terus saja memikirkan hal yang belum pasti terjadi. Nyonya Fira memahami keadaan sang anak yang begitu mencintai Alex Fernando.
'Tuhan! jaga suamiku!' batin Laras menjerit. Dia tak mampu mengatakan apapun lewat bibirnya selain hanya doa yang bisa di panjatkan untuk sang suami yang sedang berjuang di luar sana.
__ADS_1
Laras beranjak dari tempat duduknya, sang ibu kemudian menegur dirinya.
"Kau mau kemana?" tanya Nyonya Fira.
"Aku akan membersihkan pecahan kaca ini, setelah selesai, akan menuju ke lantai atas, aku ingin bertemu dengan anak-anak agar rasa kekhawatiran yang ada sedikit berkurang," ucap Laras yang menggunakan anak-anaknya untuk menghibur diri.
"Temui saja anak-anakmu, aku yang akan membersihkan semua ini, tetapi jangan perlihatkan kesedihanmu kepada mereka, kelima cucuku adalah pria kecil yang jenius," jawab Nyonya Fira. Dia mengetahui dengan jelas bagaimana sifat sang anak, jika dia sudah mengkhawatirkan seseorang pasti akan berimbas kepada orang-orang di sekelilingnya, semua orang akan merasakan kesedihan yang sama. Oleh karena itu, Laras selalu meredakan emosinya saat berbicara dengan anak-anak. Laras sudah mulai terbuka, Nyonya Fira juga mulai tersenyum kembali.
"Baik, terima kasih ibu," ucap Laras merasa terbantu.
Laras berjalan menuju lantai dua rumah Guru Fu, dia segera menuntaskan perasaan gelisahnya, agar ketenangan itu segera datang. Langkah demi langkah menaiki anak tangga ia jalani dengan senyum termanisnya.
Saat Laras telah sampai di atas, dia menuju sebuah ruangan.
__ADS_1
KLEK!
Dia membuka pintu ruangan itu dan nampak raut bahagia terpancar di mata kelima anaknya yang sedang bermain game bersama kakek Hans.