Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Rindu


__ADS_3

Saat Yovan pergi mengendarai mobil mewah sang mafia, Alex sedang berada di kamar mandi untuk melakukan sesi pembersihan diri karena tubuh dan bajunya terkena cipratan darah Dama dan Dio.


Tidak biasanya dia akan bersiul saat melakukan sesi pembersihan diri, dia senyum-senyum sendiri kala mengingat wajah sang sang istri yang sangat ia rindukan.


Selama beberapa hari ini, dia menahan rindu yang sangat berat.


Para musuh tidak membiarkannya bersantai walau sejenak saja. Dia harus membereskan Dama dan Dio dalam waktu yang singkat agar sang mafia bisa memadu kasih dengan Laras, menjamah tubuh ibu hamil itu dengan sentuhan yang memabukkan darinya.


Rasanya ingin sekali segera memeluk tubuh seksi nan candu itu.


Otak mesum Alex kembali aktif, miliknya pun alhasil ikut menegang juga.


"Sialan! kau juga merasakan hasrat itu?" ucap Nando pada miliknya yang panjang dan berotot itu.


Dia tidak akan membiarkan miliknya tersiksa terlalu lama. Segera saja dia meraih baju kimono yang tersedia di kamar mandi itu dan mengenakannya.


Tak lupa dia juga meraih handuk kecil untuk ia gunakan mengeringkan rambut panjangnya yang basah.


....


Sepuluh menit berlalu...


Sang mafia telah mengenakan pakaian modis ala pria muda yang akan menemui gadisnya untuk berkencan.


Dia juga menyemprotkan parfum ke bagian tubuhnya berkali-kali.


"Aku tampan dan wangi, pasti Laras akan semakin cinta kepadaku," ucap Alex saat berdiri di depan cermin.


Dia merapikan rambutnya, kemudian mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas.


Selanjutnya, tubuh gagah itu keluar dari kamarnya.


Perlahan tapi pasti, langkah kokoh sang mafia telah berada di depan markas utamanya.


Dia mendapa perhatian dari beberapa anggota yang sedang berjaga.


"Bos? kau rapi sekali? mau kencan ya?" tanya salah satu anggota.

__ADS_1


"Tidak, ingin bertemu istriku saja," jawab Alex ketus.


Beberapa anggota yang melihat tingkah sang bos hanya bisa menahan tawa.


Bos mereka sedang kasmaran.


...


Detik selanjutnya, langkah sang mafia terhenti di garasi mobil.


Dia mencari mobil mewah kesayangannya, tetapi tak ada di sana.


"Ini pasti ulah Yovan, awas kau ! huh, beraninya membawa mobil ajaibku," tukas Alex kesal.


Dia memastikan hanya Yovan yang berani membawa mobilnya pergi, tapi dia tidak mengetahui pergi kemana sang teman.


Alex memilih mobil yang lain, dia tak ingin ambil pusing, menggerutu hanya akan memperlambat waktu bertemu Laras.


Dia segera naik ke dalam mobilnya yang lain. Seketika itu juga dia tancap gas!


Dia telah keluar dari area markas, dia meninggalkan segala tentang musuh. Dia hanya ingin sang istri seorang.


Drrt ... Drrt ... Drrt ...


Ponsel miliknya berdering, dia segera memasang headset bluetooth dan menjawab panggilan telepon itu.


"Halo baby? apa kabar? apakah kau merindukanku?" Sang mafia telah mengetahui jika si penelepon adalah sang istri yang menggunakan nomor ponsel ibu mertuanya.


"Kali ini kau benar Lex, aku rindu. Memang sangat rindu, kapan kita akan berjumpa?" Suara sang istri terdengar lirih dan tidak bertenaga. Alex merasa bersalah karena beberapa hari ini tak memperhatikan kesehatan sang istri yang sedang hamil anak ke 6 untuknya itu.


"Sayang, aku akan menebus kesalahanku dengan menemanimu seharian ini. Aku janji, tidak akan ada yang berani mengganggu kita." Sang mafia menjanjikan hal yang luar biasa, yang pasti akan membuat sang istri bahagia dan tidak akan kesepian lagi.


"Benarkah? Ehm ... bisa kau temui aku di rumah?" pinta sang istri.


"Kau sudah pulang?" ucap sang mafia heran.


"Iya, ayah bilang, kau sudah selesai dengan musuhmu. Guru Fu juga mengatakan tidak masalah jika aku pulang kerumah," jelas sang istri dengan suara yang lebih bersemangat.

__ADS_1


"Oke, aku akan putar balik. Persiapkan dirimu baby! aku akan menggempur seharian ini."


Sang mafia langsung memutuskan panggilan suara itu dan segera putar balik menuju rumahnya.


....


Sepanjang perjalanan, dia membayangkan saat indah mereka dulu. Tapi saat dia merasa punggungnya sakit, pudar lah kebahagiaan itu.


Pasti sang istri tidak akan mau bermesraan dengannya, secara Laras itu adalah istri yang tidak tega sang suami terluka.


"Sialan! ini semua gara-gara anak buah Dama, tubuhku remuk semua," gerutu sang mafia sembari fokus menyetir.


Dia harus menahh sakit di seluruh badannya, apalagi lecet, luka tembak. Harapan untuk menjamah memang harus tertunda entah sampai kapan.


....


Ditengah rasa frustasinya, dia mendapatkan kiriman video dari sang istri.


Ia menghentikan mobil mewahnya sejenak di pinggir jalan.


Sang mafia segera membuka video itu.


"Daddy? aku rindu. Kapan Daddy pulang? oh iya, aku mewakili adik-adikku mengucapkan selamat kepada daddy yang telah berhasil mengalahkan musuh daddy saat bekerja. Kakek bilang, di tempat kerja daddy, semua hebat dan cerdas. Jika mereka kalah berarti Daddy yang terhebat. Cepat kembali Daddy, Miss you. Muah!"


Deg!


Seketika jantung sang mafia seperti berhenti berdetak. Baru kali ini dia mendapatkan ucapan yang sangat mengharukan dari anak pertamanya. Dia mewakili empat adiknya lain.


Sangat manis, itu kesan pertama yang Alex dapatkan dari pesan yang disampaikan oleh Aarav.


"Anak-anakku sudah tumbuh besar, mereka harusnya tidak hidup dalam dunia yang kejam ini. Setelah ini, aku akan mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih layak untuk pertumbuhan mereka berlima. Daddy janji, daddy akan merawat kalian dengan baik," ucap Alex sembari menitihkan air matanya.


Dia merasa rapuh, orang tua macam apa membiarkan anak-anaknya berada dalam bahaya.


Alex merasa bersalah akan hal ini, menikah dan memiliki anak bukanlah tujuan hidup yang sebenarnya bagi mafia bengis itu, tetapi saat mengenal Laras,segala hal tentang kasih sayang dan kepedulian, berhasil itu pelajari dengan baik.


Alex membuang ponselnya di samping kursi kemudi dan melajukan mobilnya dengan cepat agar segera bertemu dengan anak dan istrinya yang sangat ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2