
Sepuluh menit kemudian...
Sang mafia telah terbangun dari tidurnya, kini saatnya penyiksaan telah tiba.
Sebelum benar-benar keluar dari kamar, Alex cuci muka dulu agar wajahnya fresh dan mampu melihat dengan jelas jerit pilu Dama dan Dio saat mendapatkan penyiksaan.
Wajahnya yang tampan semakin adem kala air itu membasuh mukanya.
Tap ... tap ... tap
Langkah kaki sang mafia berjalan yakin menuju tempat peradilan, tempat dimana dua orang sombong akan menemui ajalnya di tangan sang dewa kematian.
Mata elangnya sudah siap menghajar dua orang itu, memberikan kesan sadis untuk menunjukkan bahwa dia adalah bos yang tak mau tak boleh diremehkan begitu saja.
Kini kakinya telah berpijak di depan pintu ruang peradilan, Yovan yang masih standby di depan pintu, tersenyum kala pembawa nasib buruk untuk Dio dan Dama sudah muncul.
"Lex? kau sudah siap memberikan pelajaran untuk mereka berdua?" tanya Yovan sembari menyunggingkan senyumnya.
"Tentu saja, kau buka pintunya. Tak perlu ikut, biar aku yang menghabisi keduanya, aku muak dengan dua orang menyebalkan itu," jelas sang mafia penuh amarah.
"Siap bos!" jawab Yovan sembari membuka pintu ruang peradilan.
KLEK!
__ADS_1
Pintu telah terbuka, dia menatap dua pasang mata yang juga menatap ke arahnya.
Tatap mata penuh kebencian.
"Lex! mau apa lagi kau?" pekik Dion yang masih dalam posisi yang sama, namun sang ayah tak kunjung siuman.
"Aku? ingin mengembalikan kau ke tempat asalmu, neraka!" ucap Alex yakin. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka berdua adalah penghuni neraka yang nyasar ke bumi dan Alex membantunya mengembalikan ke tempat yang seharusnya.
"Cih! sialan kau! aku akan membuatmu menyesal melakukan semua ini kepadaku!" jawab Alex.
Alex menatap mata penuh amarah itu sembari berjalan mendekatinya.
Sang mafia secara tidak terduga, melepaskan tali pengikat tangan dan kaki Dio kemudian mengajaknya berduel.
"Lawan aku!" pinta Alex.
Sang mafia memutar tangan itu dan mendorong tubuh lemah Dio.
Dio tersungkur sampai menubruk kursi.
Orang itu belum kapok juga, dia kembali mencoba memberikan beberapa pukulan. Satu pukulan langsung berhasil Alex halau, dari pukulan satu, dua sampai pukulan selanjutnya.
Bug!
__ADS_1
Pada akhirnya, Dio harus mengaku jika dia tidak mampu mengimbangi sang mafia.
Alex menunjukkan sisinya yang penuh dengan kekejaman.
Dia menghajar habis-habisan Dio sampai pria busuk itu babak belur.
Pria itu tidak terima jika kalah, kemudian dia melemparkan kursi ke arah sang mafia, namun berhasil di halau dengan baik.
Alex kembali baku hantam dengan Dio sampai pria itu jatuh tersungkur.
"Kau masih saja melawan! padahal kematian sudah semakin dekat," ungkap sang mafia.
Alex menginjak kepala Dio kemudian menekannya dengan kuat. Terdengar jeritan memekikkan telinga dari Dio, di susul dengan terbangunnya Dama.
"Mmmmmhhhhpppm." Dama dengan mulut tertutup berusaha untuk mengatakan sesuatu.
"Kau mau bicara?"
Sret!
Alex melepaskan lakban dari mulut sialan Dama.
"Hah! Lex, kau bisanya hanya mengancam! membuat keluargaku menjadi hancur! tapi ingatlah MK tidak akan tinggal diam jika kau membunuh kami," ucap mulut sialan Dama.
__ADS_1
"Haha, MK? dia hanya tikus got, tapi memang dia lebih hebat, tapi tak akan bisa mengalahkanku," jawab sang mafia dengan kesombongan yang hakiki.
....