
Laras masih bermain dengan anak-anaknya, saat Tuan Carlo berpamitan.
"Wah! sedang bermain dengan mommy? bagus anak pintar!" ucap Tuan Carlo berusaha bersikap sewajar mungkin agar Laras tidak mencurigainya, jika dia telah mengatakan ada penyusup yang ingin masuk ke dalam Taman Hiburan menemui sang mafia.
"Iya Tuan Carlo, terima kasih sekali lagi atas banyaknya mainan yang kau berikan kepada anak-anakku. Aku sangat terbantu dengan semua mainan ini," jawab Laras sangat senang saat Tuan Carlo berusaha membuat anak-anaknya tetap nyaman di tempat itu sembari menunggu pesta kembang api dimulai.
"Sama-sama nyonya, maaf! aku pamit dulu ya, selamat menikmati segala fasilitas yang ada di tempat ini. Jangan memikirkan hal yang tidak penting, suamimu sudah mengurus segalanya," ucap Tuan Carlo penuh misteri.
"Oke, aku tahu jika Alex selalu melakukan hal yang terbaik untuk kami," jawab Laras sangat percaya dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
Setelah Tuan Carlo pergi, Laras mendekati Alex yang sedang membuat sebuah panggilan. Sang mafia sengaja menghindar dari jangkauan anak dan istrinya saat ingin melakukan panggilan telepon.
"Sayang? ada hal buruk terjadi kah? sampai-sampai kau menelepon saja sembunyi-sembunyi dariku?" Laras mulai menaruh curiga dengan sikap yang ditunjukkan oleh sang suami. Dia meyakini jika ada sesuatu yang terjadi.
"Astaga! kau mengagetkanku, ada apa? anak-anak membuat masalah?" Alex menoleh ke arah sang isteri.
"Tidak, mereka baik-baik saja. Kau yang aneh," ucap Laras yang mulai melihat gelagat aneh dari sang suami.
"Aneh? aku biasa saja," tukas Alex cara menyembunyikan permasalahan tentang penyusup yang akan merusak kebahagiaan keluarganya.
"Tapi Tuan Carlo? ada musuh yang mengikuti kita? apa dia musuh Death Angel?" Laras mencecar sang suami dengan banyak pertanyaan.
"Kita bisa bicarakan nanti di rumah, ini adalah Quality-Time kita bertujuh. Yakinlah, semua akan baik! jangan memikirkan hal yang belum terjadi." Alex mencoba menutupi segalanya dari sang isteri karena memang belum saatnya permasalahan ini dibahas.
Laras lebih menurunkan kadar penasarannya, dia menuruti ucapan sang suami.
'Syukurlah! pertanyaan isteriku itu tidak bersambung, jika masih dilanjutkan, aku tidak akan mampu berbohong kembali. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, terutama kelima anak kembarku yang harus selalu terjaga dari segala masalah dan musuh yang selalu mengintaiku,' batin sang mafia yang harus terfokus dengan banyak permasalahan yang ada di pundaknya. Selama masih menyandang nama bos mafia, dia belum akan mendapatkan kehidupan seperti pada umumnya.
__ADS_1
"Sayang? apa kau melamun? aku tidak mengajukan pertanyaan yang membuatmu pusing 'kan? apa yang kau pikirkan?" Sekali lagi, Laras kembali mencecar sang suami dengan banyak pertanyaan.
"Tidak ada yang aku pikirkan, aku hanya membayangkan bagaimana indahnya pemandangan nanti malam saat pesta kembang api telah dimulai," ucap sang mafia yang pandai sekali ngeles.
"Ya sudah, lebih baik bergabung bersama kami sembari menunggu jam 8 malam tiba. Aarav dan adik-adiknya akan lebih bahagia jika kau mau bermain bersama kami," jelas Laras penuh harap.
"Iya, aku akan menuruti ucapanmu, ayo! kita segera bermain bersama anak-anak. Kasihan mereka, jika harus bermain sendiri tanpa kedua kita." Alex meraih tangan sang isteri kemudian menggandengnya.
Dia merasa menjadi anak muda kembali.
Sang mafia bermain bersama anak-anaknya, Laras merasa bahagia karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan menyayangi kelima baby kembarnya.
Dia tidak menyangka jika akan menikahi seorang bos mafia yang memiliki riwayat sebagai malaikat maut di medan pertempuran. Apalagi statusnya sebagai seorang puteri dari kepala polisi. Bukan hal yang mudah jika mereka berdua sudah melewati tahap ini, perjuangan berat telah mereka lalui dengan darah dan air mata.
Kini semuanya berbuah manis, ia dan Alex telah dikaruniai lima baby sekaligus dengan wajah yang tampan dan rupawan serta kecerdasan diatas rata-rata. Mereka berlima memiliki ikatan batin yang kuat, Laras berharap kelima baby kembarnya akan tetap solid meskipun kelak usianya telah dewasa.
Adelio kembali memperhatikan wajah mommynya, ia melihat raut kesedihan di wajah Laras, Adelio kemudian membisikkan sesuatu kepada daddy mafia.
"Sayang? aku punya hadiah yang bagus untukmu? apa kau mau menerimanya?" tanya sang suami sembari menyembunyikan kedua tangannya di belakang badan.
"Wow! dengan senang hati aku akan menerimanya." Laras begitu antusias ingin melihat hadiah yang akan diberikan oleh suaminya.
Saat kedua tangan sang suami berada di hadapannya, dia melihat sebuah Lego yang tertata rapi membentuk simbol hati yang sangat indah.
"Ya Tuhan, cantik sekali! apakah yang membuatnya sayang?" tanya Laras penasaran, dia belum pernah mengetahui jika sang suami memiliki keahlian menata Lego secantik ini.
"Bukan, Adelio yang menyusunnya. Dia mengatakan kepadaku jika mommy mereka sering melamun, jadi dia berinisiatif memberikan Lego dengan bentuk simbol hati ini sebagai tanda kasih sayangnya kepada ada mommy tercinta."
__ADS_1
Laras merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Adelio, setelahnya, semua anak-anaknya memberikan Lego berbentuk simbol hati kepadanya.
"Bukan hanya Adelio, kami pun sangat menyayangi mommy," ucap Aarav mewakili ketiga adiknya.
Laras menangis tersedu-sedu, ia segera memeluk suami dan kelima anaknya.
"Terimakasih untuk kalian berenam, tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa. Anakku, suamiku, i love you!" ucap Laras sembari mencium kening masing-masing baby kembarnya.
Dan yang terakhir, dia mendapati big baby yang siap untuk mendapatkan ciuman yang sama seperti anak-anaknya.
"Apa?" tanya Laras sedang menggoda sang suami, dia tidak ingin segera memberikan ciuman itu.
Kelima baby kembar, menyadari jika mereka harus memberikan ruang kepada kedua orangtuanya untuk bermesraan meskipun hanya sebentar.
"Silahkan jika ingin mencium daddy, kami mengizinkannya, tapi khusus hari ini saja ya? besok lagi jangan di depan kami? selamat bersenang-senang daddy, mommy. Kami akan bermain bersama tidak akan mengganggu! kami janji!" ucap Aarav kembali, ia mewakili suara adik-adiknya.
Setelah kelima anaknya fokus bermain, Alex juga fokus dengan bibir sang isteri yang tak kunjung mendarat di bibirnya.
"Menunggu apalagi? anak-anak sudah mengizinkan," ucap Alex yang selalu mendapatkan keberuntungan yang bertubi-tubi.
"Baiklah! tapi pejamkan matamu dulu," pinta sang isteri yang sangat senang mengerjai Alex.
Mata sang mafia telah terpejam, lalu...
Cup!
Laras hanya mendaratkan ciuman di kening sang suami, Alex langsung protes.
__ADS_1
"Kau ya? bukan di sana, tetapi di sini," jawab sang mafia sembari menunjuk bibirnya.
"Haha, nanti saja! masih ada anak-anak! aku tidak ingin anakku melihat kau yang menggila!" Laras memahami Alex, sang mafia pasti tidak akan melepaskannya.