
Laras tak mampu menahan dirinya, dia mencoba menarik sang suami menuju tempat peraduan, tetapi Alex ingin hal yang berbeda.
"Kita lakukan dengan cara yang lebih romantis." Alex mengangkat pinggul sang isteri, ia menaikkan tubuh Laras di atas meja kerjanya.
"Kau sudah siap?" Sang suami meminta persetujuan sang isteri untuk segera mengeksekusinya.
"Lakukanlah!" Sang isteri memberikan jawaban yang membuatnya sumringah.
Setelah mendapatkan izin, Alex perlahan menyusuri tiap lekuk tubuh sang isteri dengan sentuhan panas, Laras tergoda. Dia mulai meracau saat bibir sang suami beberapa kali meninggalkan bekas kepemilikan di sana.
"Ini adalah bukti kasih sayangku kepadamu Lex, jangan kau menahannya. You are the perfect husband for me. Semua yang ada padaku adalah milikmu." Kata-kata Laras mampu membuatnya semakin bersemangat dalam membahagiakan sang isteri, dia semakin intens memberikan sentuhan lembutnya.
Ia melepaskan helai kain saling isteri, dia mencoba meraih sesuatu yang sangat ia sukai.
Sang suami bermain di area itu cukup lama, Laras sesekali mengigit bibirnya saat sang suami mulai melancarkan aksinya.
"Lex, kau lebih terkendali di banding sebelumnya, tetaplah seperti ini." Sang isteri merasakan perbedaan sentuhan yang di lancarkan oleh sang suami, biasanya Alex akan langsung to the point. Tetapi kali ini dia sangat menikmati kebersamaan dengan sang isteri.
Alex menghentikan kegiatannya, dia menatap wajah sang isteri dengan tangan bertumpu di atas meja.
"Kebersamaan kita adalah suatu hal yang langka, tidak akan pernah bisa terulang esok hari. Itu sebabnya aku berusaha menahan diri." Alasan klasik sang mafia.
__ADS_1
Laras kembali menarik tubuh sang suami ke dalam pelukannya. Dia juga ingin menikmati sentuhan penuh kehangatan yang di berikan oleh Alex.
Tak terasa, sentuhan itu begitu memabukkan hingga helai kain pasangan suami-istri itu telah berserakan di atas lantai. Dua puluh detik kemudian, mulai terdengar suara indah sang isteri. Laras kembali masuk ke dalam permainan sang suami. Peluh mulai membasahi sekujur tubuh keduanya, namun belum mampu membuat aksi mereka berhenti.
Saat sentuhan terakhir mulai di lancarkan sang suami, Laras terasa berada di dunia khayalan yang pernah warna, penuh kebahagiaan, hanya ada mereka berdua saja. Beberapa gaya sudah sang suami lakukan, tiga ronde sudah permainan itu berlangsung, semuanya masih terkendali. Namun detik selanjutnya, sang mafia sudah tak mampu menahannya.
"Love you sayang!" Kata-kata yang mengiringi sang mafia menuju rasa bahagia tak terkira, membuat sekujur tubuhnya merespon dengan cepat, dia merasa segalanya telah tercurah. Sang mafia memeluk isteri tercinta. Dia segera mengendong Laras menuju kamar mandi yang tersedia di sudut ruangan itu. Keduanya mengulang hal yang sama di sana, namun hanya beberapa menit saja karena sang isteri sudah lelah.
Setelahnya, pasangan suami isteri itu melakukan sesi pembersihan diri.
Malam yang indah untuk Laras dan Alex, tanpa suara geram anak kembarnya yang selalu memprotes dirinya saat bermesraan dengan Laras.
Keduanya beranjak dari kamar mandi itu, sembari meraih handuk kimono yang tersedia di rak khusus.
"Apa kau sudah mengantuk Lex?" tanya sang isteri sembari mengusap punggung dan mafia lembut.
"Rasanya tidak ingin tidur," jawab sang mafia dengan mata terpejam.
"Mengapa? apa kau memang tidak ingin tidur? atau tidak bisa tidur?" tanya sang isteri, masih dengan senyum manisnya.
"Tidak, aku hanya rindu sentuhanmu sayang, dulu aku mampu melakukannya 3hari 3malam! sekarang ingin saja rasanya tidak mungkin apalagi terealisasi? hari ini aku beruntung karena anak-anak mau di ajak kompromi." Alex menyampaikan keluh kesahnya. Semua yang ada di dadanya terasa sesak, dia mulai mengeluarkan uneg-unegnya yang selama ini dia tahan.
__ADS_1
"Haha, kau ini nakal ya? kalau sudah ada anak, kita akan lebih memprioritaskan mereka. Namun sebisa mungkin kita harus meluangkan waktu bersama meskipun hanya beberapa menit. Itu penting karena keharmonisan keluarga adalah kunci kebahagiaan sejati." Laras memahami apa yang dirasakan oleh sang suami, tetapi dirinya juga tidak bisa melakukan apapun. Dia ingin sekali membahagiakan suami, tapi kesibukan merawat dan menjaga kelima anak kembarnya, juga kesibukan sang suami, hal semacam ini harus direndam terlebih dahulu. Toh pada waktunya semua juga akan terealisasi dengan sempurna. Seperti hari ini, mereka berdua tidak akan pernah menyangka jika bisa bermesraan dengan waktu yang lama tanpa apa adanya pengganggu.
"Sayang, kau masih mau melahirkan satu baby lagi untukku?" pinta sang mafia yang ternyata masih merasa kurang dengan kelima baby A nya.
"Mau saja, kapan kita akan memulai programnya?" tanya sang isteri sangat antusias.
"Kita konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Oh iya. Kau belum memberiku penjelasan tentang apa yang kau bicarakan dengan Tuan Carlo di Taman Hiburan itu." Laras mengingatkan kepada sang mafia tentang apa yang di janjikan olehnya.
"Tuan Carlo mendapati ada penyusup yang akan merusak kebahagiaan kita. Namun dia mampu menghalaunya, kini dia sedang membantuku mencari keberadaan sang penyusup." Alex memberikan penjelasan kepada sang isteri tentang apa yang dibicarakannya dengan Tuan Carlo. Alex melihat raut wajah sang istri mulai khawatir. Sang mafia kemudian menenangkannya.
"Tidak perlu khawatir sayang, semuanya akan baik-baik saja, kau hanya perlu menjaga anak kita, mereka menjadi urusanku." Alex menatap wajah sang isteri, dia membelai kulit wajah yang mulus itu.
"Pertahankan rasa percayamu kepadaku, aku tidak akan membahayakan kalian berenam. Aku akan segera mengurus para penjahat yang mengusik kebahagiaan kita," jelas sang mafia yang berharap sang isteri tak meragukannya.
Laras menatap mata sang suami yang penuh rasa kasih dan percaya diri. Ia selalu yakin dengan apa yang di sampaikan sang suami, tidak ada ragu sedikitpun.
"Tapi kau harus menjaga dirimu baik-baik, jangan sampai terluka. Kau adalah daddy dari kelima anakku, aku tidak ingin kau terluka dan tersakiti," jelas sang isteri yang sangat mencintai sang suami tanpa alasan.
"Sayang? apa kau mau belajar bela diri? menembak atau bermain katana?" tanya sang mafia, dia merasa jika sang isteri juga harus memiliki keahlian seperti dirinya.
"Jika kau mau bersabar mengajariku tidak masalah, tapi anak-anakku bagaimana?" Sang isteri ingin sekali belajar semua hal yang di sebutkan sang suami, namun kembali lagi ke statusnya sebagai seorang ibu dari lima baby kembar.
__ADS_1
"Anak-anak biar menjadi urusanku sayang, kau hanya perlu berlatih saja. Menurutku, kau juga harus memiliki kemampuan yang sama denganku, selama ini aku melihat jika kau memiliki bakat mengalahkanku?" Alex memuji sang isteri yang selalu membuatnya bertekuk lutut di hadapannya.
"Haha, beda urusannya sayang. Itu masalah di medan perang, yang kau maksud itu masalah ranjang! ada-ada saja." Laras mencubit mesra pipi sang mafia, dia gemas dengan sang suami yang hobi menggoda dirinya.