
Si gadis terlihat menangis di pojokan, dia meratapi nasibnya yang sangat malang. Yovan yang merasa iba mencoba untuk mendekatinya, dengan susah payah iya bangkit, tetapi tenaganya terlalu lemah untuk kegiatan sesederhana itu.
"Kau mau kemana?" tanya si gadis sembari menyeka air matanya.
"Aku, aku ingin berbicara denganmu, tetapi, kakiku sangat sakit untuk berjalan. Bahkan, untuk bangkit pun susah," jawab Yovan dengan posisi terduduk.
"Aku akan menghampirimu, kau tetaplah di tempatmu semula." Si gadis mengalah, dia yang bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Yovan.
Langkah kaki mungilnya tiba-tiba terjerat oleh tali yang berserakan, alhasil dia terjatuh tepat di dada bidang Yovan.
"Aw!" pekik si gadis.
Keduanya saling bertatapan dengan dada yang saling menempel.
"Astaga! apa yang kau lakukan? kau kira aku kasur?" ucap Yovan sembari meringis karena terasa sakit di sekujur tubuhnya apalagi ada beban di atas dada bidangnya.
"Maaf Tuan, aku tidak sengaja melakukannya. Ada tali yang berserakan di lantai, aku ingin segera menghampirimu dan menceritakan apa yang aku rasakan, tetapi justru kakiku terjerat," jelas si gadis.
Yovan menatap wajah sang gadis, dia sepertinya mulai terpesona. Detak jantungnya yang semula normal, gini berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Dia tidak bisa mengelak kecantikan gadis yang ada di depan matanya, dia juga tidak bisa menghindar bahwa perasaan lain telah menggelayuti hati dan pikirannya.
Tapi, dia segera menghapus semua yang ada di pikiran dan hatinya.
Dia tidak mau sang gadis mengatakan bahwa dirinya adalah seorang badjingan yang hanya ingin tubuh sang gadis, setelah memberikan pertolongan.
Padahal, dia sangat tulus membantu gadis Malang itu karena merasa iba dan tertantang untuk membuat MK hancur hanya dengan gadis yang ada di depannya.
"Kau turunlah dari dadaku, tubuhmu itu sangat kecil, tetapi berat sekali!" ledek Yovan sembari memalingkan pandangan karena takut ketahuan kita dia kagum pada gadis itu.
__ADS_1
"Oh, baiklah Tuan. Maafkan aku yang lancang karena telah jatuh di dadamu," jawab sang gadis, dia segera bangkit dan dan duduk di samping Yovan, dia memapah Yovan agar bisa duduk sejajar dengannya.
Kini keduanya telah duduk berdampingan, Yovan sangat penasaran dengan apa yang dirasakan oleh sang gadis, dia mencoba menanyakannya.
"Mengapa kau menangis?" tanya Yovan.
"Aku sangat merindukan Han Bin, meskipun dia tidak menerima aku lagi menjadi kekasihnya karena aku tidak suci lagi, setidaknya aku ingin bertemu dengannya. Dia adalah cinta pertamaku, aku sangat mencintainya." Terlihat jelas kebahagiaan itu, kebahagiaan yang bercampur dengan kesedihan yang mendalam.
"Memangnya, Han Bin itu siapa? sepertinya dia pria yang hebat," terka Yovan, mulai memahami akar dari permasalahan yang membuat sang gadis menangis.
"Dia adalah pria muda yang dijuluki seorang dewa judi, dia selalu memenangkan perjudian di bar milik MK. Tapi, saat dia tahu MK menyandera ku, Han Bin Sudah beberapa kali membuat kerusuhan di bar milik MK dari yang terbesar hingga yang terkecil, tetapi tidak akan pernah membuat MK gentar dan melepaskanku. Aku mengetahui jika ayah ku bersalah atas hal ini, tapi bodohnya aku karena tidak bisa kabur dengan cepat sehingga aku seperti kelinci kecil yang dimangsa oleh seekor harimau besar. Hiks ...." Si gadis kembali menangis sembari menunduk dengan kedua tangan memeluk kakinya, dia menangis tersedu-sedu hingga Yovan tak kuasa melihatnya.
Yovan menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya, dia melakukannya sebagai seorang kakak dan adik.
Awalnya, Si Gadis enggan mendapatkan pelukan hangat dari Yovan, tetapi karena Yovan memaksa, akhirnya dia menangis diperlukan sang mafia.
Dia merasakan perasaan lain saat Yovan memeluknya dengan erat. Seketika itu juga, jantungnya mulai berdebar dengan kencang.
"Kau terlalu menikmati pelukanku ya?" goda Yovan.
"Mana ada?" Si gadis langsung melepaskan diri dari pelukan itu dan dan menghindari tubuh Yovan.
Dia duduk membelakangi Yovan, dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bahwa dia tadi tadi merasakan kenyamanan saat berada di pelukan Yovan, tetapi dia takut untuk mengakuinya.
Diam, seketika hening.
Si gadis berusaha untuk bangkit dan keluar dari jeruji besi itu, karena sudah tidak terkunci lagi.
Dia mengambil kotak berisi gaun yang disiapkan oleh anak buah MK.
__ADS_1
"Kau akan seperti ini terus?" tanya Yovan tiba-tiba.
"Maksudmu?" jawab si gadis dengan wajah keheranan.
"Kau akan menjadi budak napsu MK, tapi aku bisa memberikan solusi agar MK tidak melakukan hal tersebut, jika kau ingin dengar apa yang akan aku sampaikan, maka dengarkanlah dengan baik," pinta Yovan yang menawarkan sebuah bantuan untuk gadis tersebut agar bisa lari dari MK.
"Kau berpura-puralah mengikuti apapun yang ia inginkan, kalau bisa, kau campuran obat yang aku berikan kepadamu ini ke dalam minumannya. Kau harus berusaha menggodanya sampai dia mau meminum air yang sudah tercampur dengan obat yang kuberi. Setelah MK pingsan untuk beberapa waktu, kau bawa dia ke mari dengan sebuah kursi roda yang berada di kamar tersebut. Aku pernah mendengar bahwa MK merasakan sakit di kedua dan Ia menggunakan kursi roda tersebut saat berpergian. Semoga berhasil!" Yovan sudah menyampaikan ide cemerlangnya, ini tergantung sang gadis mau atau tidak untuk melaksanakan rencana tersebut.
"Ya nanti aku bisa memikirkannya lagi, pada intinya aku sudah ingin pergi dari tempat ini, tetapi harus membunuh MK terlebih dahulu." Dendam si gadis begitu membara sampai urat nadinya.
Dia tidak rela hidupnya dihancurkan begitu saja oleh MK, bahkan kabarnya sang kekasih juga telah mati, dia merasakan gejolak didalam dirinya yang sangat ingin MK tewas.
"Kau bawa obat ini jangan lupa," ucap Yovan sembari meletakkan satu botol kecil berisi pil obat tidur di atas lantai jeruji besi itu. Dia tidak bisa memberikannya langsung karena keterbatasannya dalam menggerakkan tubuhnya.
Si gadis sepertinya tidak begitu tertarik dengan apa yang di sarankan oleh Yovan, dia pergi begitu saja dengan kotak berisi gaun di dalamnya.
Dia memeluk kotak itu erat.
"Nanti, aku akan kembali jika setuju dengan rencanamu Tuan," jawab sang gadis.
Dia berjalan perlahan meninggalkan Yovan yang terduduk lemas di dalam jeruji besi tersebut.
"Cih, gadis itu ternyata memiliki harga diri yang cukup tinggi. Aku telah salah menilainya," tukas Yovan sembari meringis kesakitan kala ia menggerakkan tubuhnya.
idenya sangat cemerlang, aku sepertinya tertarik. Ah sudahlah, aku harus segera memakai gaun ini daripada ku kena cambuk oleh anak buah MK.
Sang gadis telah berada di depan kamar tempatnya harus segera berganti baju dan merias diri.
"Aku pasti bisa menjalani cobaan ini."
__ADS_1
Sang gadis membuka pintu kamar tersebut dengan keyakinan penuh.
....