
Perjalanan yang lumayan melelahkan membuat anak-anaknya merasa mengantuk, rumah Guru Fu ternyata berada di pinggiran kota. Dia harus mencari jalan lain agar menghindari kemacetan. Alhasil jalan yang ia lalui ternyata lebih jauh dari jalan yang seharusnya.
Namun, tidak membuat semua yang ada di mobil itu merasa bosan, karena sepanjang perjalanan ke rumah Guru Fu pemandangan indah. Banyak bunga bermekaran di sisi kanan jalan, angin sepoi-sepoi berhembus. Tempatnya cocok sekali untuk menenangkan diri.
"Aku baru tahu ada tempat ini di New York," celetuk mafia yang sehari-harinya memang bekerja di kantor dan markas utamanya.
"Cih! sebenarnya apa pekerjaanmu Lex? kau kerja keras bagai kuda, kau tidak membagikan kebahagiaan anak dan isterimu? harusnya kamu lah mereka jalan-jalan, paling tidak ke taman kota." Tuan mana kur sama via agar membuat keluarga kecilnya semakin harmonis dengan mengajak mereka berwisata.
"Haha, kerjaanku hanya tidur tapi menghasilkan banyak uang. Apa kau tertarik menjadi karyawanku Tuan Hans?" Keduanya kembali saling mengejek, pertanda keakraban sudah mulai terjalin.
"Sial! kau pikir aku hanya tidur saja? aku hanya terdiri dari beberapa kali saja, apa kau pikir menjadi seorang polisi itu mudah?" Tuan Hans berkeluh kesah kepada sang mafia agar dia memahami pekerjaannya yang sehari-harinya menangkap para penjahat, mengadilinya bahkan ada juga yang kabur. Tanpa lelah dia dan para anggota kepolisian bekerja siang malam untuk mengabdi kepada negara.
__ADS_1
Alex hanya tersenyum sinis, sebenarnya tahu pekerjaan sang ayah mertua tetapi dia hanya ingin meledeknya saja.
Setelah melewati jalan yang panjang, serta waktu yang cukup lama, akhirnya dia menemukan satu rumah yang berada ada tak jauh dari kebun bunga itu.
"Kita sudah sampai anak-anak! ayo kita turun!" pekik mafia yang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan jauh dari rumah Guru Fu karena jalan menuju rumah tersebut dipenuhi dengan bunga dan hanya ada jalan setapak.
"Apa tidak masalah meninggalkan mobilmu di sini?" tanya sang isteri yang menyadari jika tempat itu sangat asing dan sepi, khawatir tiba-tiba akan ada pencuri yang akan mengambil mobilnya.
"Siapa mencuri mobilku? di bemper mobil ada tulisan Alex Fernando sang Bos Farmasi, jika pencuri itu berani mengambil mobilku berarti dia sudah siap untuk berurusan denganku," ucap sang mafia dengan kesombongan yang luar biasa.
Kelima baby sang mafia tempat terbuka membela sang daddy.
__ADS_1
"Daddy memasang ini karena kami yang meminta, waktu itu teman-teman kami bertanya siapa nama daddy kami, dimana ia bekerja. Jadilah tulisan itu menempel di sana," ujar Lexis, mewakili ke empat saudaranya.
"Astaga! apa ini Lex? anak-anakmu membelamu, sungguh pemandangan yang menakjubkan." Sang kepala polisi menyadari jika kelima cucunya terlalu cemburu dengan Alex yang selalu dekat dengan Laras. Tetapi tidak ya duga saat ini kelima cucunya berpihak kepada sang mafia.
"Mereka itu anakku ayah! tentu saja membelaku," jawab Alex yang bangga menjadi daddy super tampan yang dibela kelima anaknya.
"Sudah-sudah, tidak perlu berdebat! kita segera masuk ke dalam, sepertinya Guru Fu yang disebutkan oleh Alex sudah melambaikan tangan kearah kita." Nyonya Fira menatap seorang pria yang melambaikan tangannya ke arah mereka, Alex membalas lambaian tangan itu dan segera menuju rumah Guru Fu bersama keluarga besarnya.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka telah tiba tepat di depan rumah Guru Fu yang sangat asri terbuat dari kayu yang berkualitas.
"Lex!" Guru Fu langsung memeluk sang mafia, Dia terlihat sangat merindukan Alex.
__ADS_1
"Guru, bagaimana kabarmu? lama sekali kita tak bersua." Sang mafia melebihkan kata-kata, baru saja mereka bertemu.
"Haish! terlalu berlebihan Lex, kita kan baru saja bertemu, dasar pria tengil!" Guru Fu melepaskan pelukannya dan mempersilahkan keluarga besar anak untuk masuk kedalam rumahnya yang sangat asri itu.