
"Sayang, kita lakukan saja di kamar, aku tidak ingin ada yang menggangu!" Alex sudah tidak sabar untuk melampiaskan hasrat yang menggelora di dalam dirinya.
Sang istri setuju, Alex segera mengendong tubuh Laras sembari saling bertatapan.
KLEK!
Pintu kamar utama telah terbuka, Alex menurunkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Dia meminta Laras untuk menunggunya di ranjang karena sang mafia ingin menutup pintu dan menguncinya..
"Semua beres!" Alex segera mendekat ke arah sang istri yang sedang duduk di atas ranjang. Alex duduk di sampingnya.
"Sudah lama kita bersama, tetapi saat aku berada di dekatmu, masih saja jantungku berdegup kencang." Alex tidak dapat memungkiri jika setiap kali berdekatan dengan Laras, dia tidak bisa menahan diri, ingin rasanya langsung menerkam sang istri.
"Cih, kau selalu seperti itu. Kau selalu pandai merayu, tapi jika aku yang merayu dirimu? apakah kau setuju?" Laras memberikan ide yang lain daripada yang lain. Biasanya Alex yang akan mengambil peran, tetapi kali ini sang istri sendiri yang ingin mendominasi.
"Ehm, ide yang bagus. Coba praktekan!" Sang mafia menantang sang istri.
Laras tanpa aba-aba langsung mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh sang suami.
"Lex, kau tahu? apa yang membuatku begitu mencintaimu?" Laras mulai melancarkan aksinya.
"Apa?" Sang mafia sangat penasaran dengan jawaban Laras.
"Bibirmu seksi, sangat tipis dan membuat candu," ucap Laras sembari menyentuh bibir sang mafia dengan jari-jari mungilnya.
"Rayuanmu boleh juga, aku sudah tidak sabar sayang, aku saja yang memulainya!" Alex benar-benar tidak bisa menahannya tetapi Laras masih saja menggoda sang suami.
"Sabarlah sayang, kau pasti akan menyukai caraku menyenangkanmu!"
Dengan rakus sang istri melahap habis bibir Alex, dengan kedua tangannya bergerilya menuju satu titik yang sudah menegang sejak tadi. Dia mencoba menenangkan si adik agar tetap pada tempatnya sebelum dia sendiri yang akan mengeluarkannya.
Kini Laras berganti tempat, sang istri mulai membuka kancing baju Alex satu persatu. Mata sang mafia terpejam saat helai kain di tubuhnya mulai terlepas. Kini dada bidangnya yang penuh luka terlihat, Laras tanpa sungkan menciumi leher hingga perut sixpack Alex. Beberapa kali dia meninggalkan bekas kepemilikan yang dalam, berwarna merah pekat. Sangat liar singa betina itu.
"Kau bisa tahan kan?! aku akan bermain di sana." Satu titik yang menegang itu mulai terjamah tangan sang istri. Laras tanpa malu membuka pengunci keperkasaan sang suami, setelah terlepas, Laras mulai memainkannya dengan kolaborasi antara mulut dan tangannya.
"Sayang! kau membuatku gila!"
__ADS_1
Laras tak menghiraukan er*angan sang suami, dia masih bertahan di sana, bersimpuh di depan sang suami.
"Bagaimana rasanya? kau senang?" Laras menghentikan sejenak aksinya, kemudian menatap mata sang suami yang mulai sayu, menandakan jika dirinya sudah masuk ke dalam permainan sang istri.
Sang suami tidak merespon ucapan Laras karena dia sedang berada di khayalan indahnya akibat kebrutalan Laras.
Laras mempercepat tempo permainannya, hingga sang suami mengatakan jika sang istri harus berhenti, karena kini gilirannya membuat sang istri melayang.
"Kau sudah menyerah?" Laras masih bersimpuh sambari mendongak ke arah sang suami.
"Kau manis sekali saat melakukannya, aku sangat menyukainya. Tetap lebih nyaman jika aku yang membuatmu bahagia. Kau tidak perlu berkerja terlalu keras, kau cukup diam dan rasakan setiap sentuhan yang aku berikan kepadamu!" Alex mengusap rambut sang istri lembut, Laras bangkit dari posisinya dan memeluk tubuh sang suami.
"Maaf sayang, aku hanya ingin..." Belum selesai Laras mengatakan hal itu, Alex langsung mencium bibirnya, meskipun rasanya sedikit aneh tetapi dia menikmatinya.
Masih dengan pertautan bibir, Alex merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Laras merasa menjadi wanita paling bahagia di seluruh dunia karena sang suami bukan pria yang egois. Alex selalu mementingkan dirinya lebih dari segalanya.
"Aku akan menunjukkan kepadamu jika aku memang sangat mencintaimu, baby!"
Alex dengan sigap membuka kancing baju sang istri, setelah semua terbuka, sang mafia segera menjelajah leher sang istri hingga dua aset yang sudah menantang itu, dia bermain di satu sisinya menggunakan mulutnya, sedangkan di sisi lainnya menggunakan tangannya.
"Apakah nyaman?" ucap Alex menghentikan aksinya sembari menatap wajah sang istri yang sudah masuk ke dalam permainannya.
"Lex, lakukan lagi!"
Sang istri meminta Alex melakukan hal yang lebih lagi, Laras makin candu dengan sentuhan lembut yang di berikan oleh Alex di kedua asetnya.
Setelah mendapatkan izin, tangan sang mafia mulai meringsek masuk ke dalam area sensitif Laras, tanpa ampun, dia memainkan jarinya di sana. Tangan dan mulutnya sudah menguasai dua area paling sensitif Laras, sang istri hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan lembut dan penuh perasaan yang di berikan sang suami.
"Lex!" pekik Laras, dia membenamkan kepala sang mafia di dadanya saat rasa nyaman itu kembali hadir. Berulang kali sang mafia membuat sang istri menuju titik kenyamanannya, tanpa lelah Alex terus memprovokasi agar sang istri mengeluarkan suara merdunya tanpa henti.
"Lex! giliranmu!" Suara Laras mulai melemah. Dia terlihat kelelahan dengan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya.
Setelah helai kain keduanya telah terlepas sempurna, Alex mulai melakukan penyatuan dengan sang istri dengan gerakan yang teratur. Semakin lama semakin panas, kedua mata itu saling bertatap, Alex kembali melahap bibir mungil Laras tanpa ampun, hingga nafas sang istri tersenggal-senggal.
Sang mafia melepaskan pertautan bibir itu dan masih melakukan gerakan yang teratur tanpa henti.
__ADS_1
"Posisi lain?"
Alex meminta izin kepada sang istri untuk melakukan hal yang lebih menantang.
Laras mengangguk, Alex membalikkan tubuh istrinya dengan penyatuan yang lebih panas.
"Lex!"
Laras terus saja memanggil nama sang suami dengan suara yang lirih dan menggoda. Alex mempercepat tempo gerakannya, namun belum ada tanda-tanda dirinya akan menghentikan aksinya. Semua gerakan telah di lakukan, sang istri juga sudah lelah.
"Sayang! sekarang!"
Aba-aba dari sang suami menandakan jika waktu pelepasan itu semakin dekat.
Hingga dua jam permainan mereka, Alex segera menuntaskan apa yang sedari tadi tertahan.
Sepersekian detik kemudian, Laras merasakan rahimnya begitu hangat. Alex telah melepaskan segalanya, tubuhnya roboh di samping sang istri.
"Lex, kau lebih hebat dari sebelumnya!" Laras memeluk tubuh kekar sang mafia.
"Ini bukan yang terhebat karena aku belum pulih, tenagaku masih terbatas. Maaf!" Alex merasa jika dirinya belum mampu menyenangkan sang istri seperti biasanya karena kondisi tubuhnya yang belum memungkinkan.
"Kau selalu menjadi yang terbaik dan terhebat di hatiku sayang, satu jam lagi kita ulangi!" ucap sang istri dengan senyum yang mengembang.
"Haha, kau benar-benar ingin lagi? baiklah! setelah satu jam, kita berusaha lebih giat untuk menghadirkan baby B!"
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1