
"Tenangkan dirimu, aku akan mengurus bocah itu," pinta sang mafia.
"Aku ikut bersamamu tuan," Dengan semangat untuk melepaskan penderitaan Kyara, Jiho bangkit.
"Bagus! harusnya kau seperti itu, kau tahu? hatiku juga hancur sepertimu saat harus jauh dari Laras. Tetapi aku akan menyelesaikan misi ini dengan cepat, aku tidak mau Laras melahirkan anak-anakku tanpa aku di sisinya. Lima baby A adalah keinginanku, mana bisa lahir tanpa aku?" Alex mengungkapkan kegelisahannya kepada Jiho.
"Kita selesaikan misi ini dengan segera agar bos bisa menemani nyonya Laras melahirkan," jawab Jiho yang melihat raut pria bertanggung jawab dari wajah mafia Alex Fernando.
"Kau juga Jiho! lebih baik kau segera ikut aku," ajak sang mafia yang kini telah beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ingin mandi bos dulu bos, agar terlihat tampan dan gagah sepertimu," goda sang bocah, Jiho.
"Haha! sialan, kau meledekku? aku sudah tua, ketampananku hanya Laras yang boleh melihatnya," jawab sang mafia yang selalu mengingat sang isteri dalam semua hal.
"Kau memang pria sejati bos!" ucap Jiho sembari menepuk pundak sang mafia.
"Aku juga tahu," jawab sang mafia percaya diri.
Jiho melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan sang mafia keluar dari kamarnya.
Saat Alex ingin mencari Richi, tiba-tiba saja orang tersebut sudah ada di depannya.
"Lex!" Nafas Richi tersengal-sengal.
"Tarik nafas dulu Richi, baru bicara," pinta sang mafia.
Richi menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Setelah tenang, ia kemudian mulai berbicara.
"Gawat Lex, pembunuh ibunya Jiho adalah Chen Gao!" ucap Richi merasa khawatir.
"Chen Gao? cari mati dia! sudah lama tidak bersua, ternyata dia bermain-main dengan isteri dari tuan Zhev," Sang mafia geleng-geleng kepala saat mengetahui Chen adalah pelaku pembunuhan itu.
"Jadi? Jiho dan Hang Zhi, anak Chen?" sambung sang mafia.
"Bukan Lex, tes DNA itu palsu, Chen dan nyonya Zhev memang pernah berselingkuh dari tuan Zhev tetapi anak hasil perselingkuhan itu meninggal dunia, Chen mengira jika Jiho dan Hang Zhi adalah anaknya. Aku baru menyadari jika pembunuhan itu terjadi karena nyonya Zhev mengatakan jika anak hasil hubungannya dengan Chen telah meninggal dunia. Chen Gao meminta nyonya Zhev menyerahkan kedua anaknya sebagai pengganti. Dan pada saat nyonya Zhev telah tewas, Chen mengadu domba Hang Zhi dan Jiho dengan tes DNA palsu itu, sial! masalah keluarga tuan Zhev rumit sekali Lex," jelas Richi yang baru saja mendapatkan kabar dari hasil penyelidikan siang ini dari tim Willy.
__ADS_1
"Haha, bukan tuan Fudo namanya jika tidak memberikan tugas dan rumit kepada kita," jawab sang mafia yang sangat memahami tetua Death Angel itu.
"Selanjutnya bahagia Lex? apa kita memberikan informasi ini kepada Jiho?" tanya Richi.
"Jangan dulu, Kyara adalah bagian dari keluarga Chen Gao, Jiho akan semakin terluka karena ibunya tewas di tangan anggota keluarga dari kekasih yang sangat ia cintai," Sang mafia menjaga perasaan Jiho.
"Baiklah!" jawab Richi.
"Richi, kita lanjutkan pembicaraan ini di ruang rapat, aku ingin mengatakan hal penting kepadamu, Willy serta tim penyelidik," pinta sang mafia.
"Siap bos!" jawab Richi yang segera pergi dari hadapan sang mafia untuk meminta Willy dan tim menuju ruang rapat.
Ruang rapat...
Bos mafia telah berada di mimbar untuk menyampaikan berita penting kepada para anak buahnya.
"Aku memberikan tugas kepada kalian, selidiki alasan Hang Zhi memintaku untuk datang ke bar di kota barat. Satu lagi, cari tahu rencana Chen Gao. Aku yakin jika dia adalah aktor di balik rencana Hang Zhi. Dia ingin memancingku keluar dari markas dan menjebakku? naif sekali bocah itu, Hang Zhi sudah tersesat terlalu jauh. Kita harus segera menyadarkannya, apalagi ada seorang gadis tidak berdosa yang menjadi korban dalam masalah ini. Tidak bisa di biarkan!" Sang mafia geram saat mengetahui fakta sebenarnya dari kasus yang sedang Death Angel hadapi.
"Baik bos!" jawab Richi, Willy serta tim penyelidik serentak.
Di tempat berlatih bela diri...
Jiho kembali berlatih, kali ini dia di temani oleh Erland.
"Kak, ajari aku menggunakan katana," pinta Jiho.
"Kau hanya ingin di sebut hebat setelah ahli menggunakannya atau benar-benar ingin belajar?" tanya Erland memastikan.
"Aku benar-benar ingin belajar kak Erland! tolong ajari aku!" Jiho membungkukkan badannya.
Erland melihat keseriusan dari Jiho, akhirnya dia mau mengajarkannya, tetapi Erland memberikan syarat.
"Kalahkan aku, setelah itu, aku akan mengajarimu belajar menggunakan katana dengan benar,"
Kedua pria dengan jarak usia yang cukup jauh, terlihat sedang melakukan pemanasan. Beberapa menit kemudian, pertarungan keduanya pun terjadi.
__ADS_1
Erland meminta Jiho untuk melewannya terlebih dahulu.
Gerakan tangan Jiho mulai terlatih, dia mampu membalas setiap pukulan Erland.
"Lumayan juga kau bocah!" Erland kembali mengarahkan kakinya ke arah wajah Jiho dengan posisi memutar tubuhnya.
Jiho mampu menahan serangan kaki Erland menggunakan kedua tangannya, tetapi karena Jiho masih amatir dan cengkraman kedua tangannya masih lemah, alhasil satu tendangan mendarat mulus di dada Jiho, pemuda itu roboh.
"Uhuk..uhuk...," Jiho batuk, dia merasakan sesak di dadanya.
Erland dengan sigap mengambilkan segelas air putih untuk Jiho.
"Minumlah Jiho," Erland membantu Jiho meminum segelas air tadi.
"Terimakasih kak, kita mulai lagi," pinta Jiho, ia mulai bangkit dan memposisikan tubuhnya untuk kembali bertarung.
Tetapi Erland menolaknya, ia merasa jika Jiho sedang memikirkan sesuatu, sehingga pemuda itu tidak fokus berlatih.
"Kau tenangkan dirimu dulu, fokus dengan apa yang ingin kau capai!" saran Erland sembari menepuk pundak Jiho.
"Tapi kak..." Jiho seperti tidak ingin berhenti berlatih, tetapi karena ia patuh kepada Erland, Jiho menuruti saran gurunya.
"Fokus Jiho," ucap Erland.
Setelah memberikan beberapa teknik menyerang kepada Jiho, Erland kembali ke melanjutkan tugasnya.
Jiho duduk bersila dengan kedua tangan ada di atas pahanya, kedua matanya terpejam.
Di dalam alam bawah sadar Jiho, dia melihat ibu, ayah dan pria bertopeng yang telah merenggut kebahagiaan keluarganya. Setelahnya, dia melihat Hang Zhi tengah memeluk Kyara dengan belenggu yang ia pasang di kaki dan tangannya.
'Fokus Jiho, saat ini bukan masalah bagaimana kamu caramu menjadi hebat, tetapi bagaimana cara membuat dirimu sendiri mampu mengendalikan emosimu saat melihat gadis yang kau cintai ada di genggaman adikmu sendiri, melihat gadis itu hidup dalam keterpaksaan dan penderitaan, kau pasti bisa Jiho mengalahkan emosimu itu! ingat tujuan awalmu! mendapatkan keadilan untuk ibumu dan Kyara serta membuat ayahmu bahagia,' batin Jiho berkecamuk. Dia benar-benar merasa sulit berkonsentrasi.
'Jiho, kau pasti bisa! kau dalam pihak yang benar! lakukan yang terbaik!' Dalam alam bawah sadarnya, ia mendengar suara sang ibu yang menenangkan.
'Pasti ibu,' batin Jiho.
__ADS_1