Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 72


__ADS_3

Sesampainya di rumah Morgan yang sederhana, Alex di sambut hangat oleh istri dan dua anak Morgan yang masih kecil.


"Istriku, ini adalah bos Alex, pemimpin Death Angel yang akan menolong kita keluar dari belenggu Lucifer." ucap Morgan.


"Silahkan masuk Tuan." jawab istri Morgan.


Alex di persilahkan duduk, saat Alex hendak duduk, dua anak laki-laki Morgan menghampiri bos Alex dan memintanya untuk bermain bersama. Morgan menyuruh kedua anaknya untuk bersikap sopan karena bos Alex adalah tamu istimewa.


Namun, hal yang tidak terduga terjadi, Alex justru tidak mempermasalahkannya, dia menuruti permintaan kedua anak laki-laki Morgan yang masing-masing berusia empat dan lima tahun itu.


"Tuan, aku suka dengan pesawat. Kalau sudah besar, aku ingin jadi pilot," ucap anak laki-laki Morgan yang berusia empat tahun.


"Kalau aku ingin menjadi seperti ayah, pandai bela diri. Aku akan melindungi ayah,ibu dan adikku agar mereka tidak mendapatkan ancaman lagi dari orang-orang yang jahat." timpal anak pertama Morgan yang berusia lim tahun.


Alex tersenyum mendengar kedua anak laki-laki itu membicarakan tentang cita-cita mereka kelak jika dewasa. Di dalam pangkuan bos Death Angel, kedua anak Morgan sangat lepas dalam mengatakan apapun. Bahkan menceritakan kehidupan mereka yang penuh ancaman.


"Kalian terlalu bersemangat dalam bercerita, sampai lupa menyebutkan nama kalian. Panggil saja aku paman A, oke? kalian paham?" ucap Alex tersenyum sambil melakukan kontak mata kepada kedua bocah itu saat berbicara.


"Namaku Felix." jawab anak pertama Morgan.


"Namaku Dante." jawab anak kedua Morgan.


"Wow, bagus sekali nama kalian, apa ayah dan ibumu sudah mengantarmu ke sekolah?" tanya Alex.


"Kami tidak pergi ke sekolah karena ibu dan ayah tidak ada biaya." jawab Felix.


"Iya paman, bolahkah aku meminjam uang paman? aku akan membayar dengan dua ekor ayam kesayanganku untuk membayarnya." celetuk Dante.


"Kau anak yang pintar Dante. Jaga saja ayammu itu, ayah kalian akan membawa kalian berdua pergi ke sekolah besok pagi, apa kalian senang?" tanya Alex


Kedua anak Morgan sangat senang dengan apa yang Alex ucapkan, mereka memeluk dan mencium Alex dengan hangat. Ada hal aneh yang Ia rasakan saat ini, dia belum pernah merasakan hal ini. Bercengkrama dengan anak kecil, baru pertama kali baginya, namun Ia terlihat sangat lihai dalam berbicara dengan anak kecil.


"Benarkah?" Mata Dante dan kakaknya terbelalak, senyum manis tersungging di bibir mungil keduanya.


Mereka turun dari pangkuan Alex dan berlari memeluk Morgan. Felix dan Dante sangat bahagia saat Alex mengatakan jika mereka akan pergi ke sekolah besok.

__ADS_1


"Tuan, apa tidak terlalu berlebihan?" tanya Morgan.


"Tidak, aku yang akan mengurusnya." jawab Alex.


"Terima kasih bos Alex, terima kasih." ucap Morgan.


Anak kedua Morgan tidak terima jika bos mafia itu di panggil bos Alex, dia mengatakan jika bos Alex adalah paman A.


"Ayah, namanya bukan Alex, tetapi paman A." jawab Dante.


"Iya, ayah yang salah. Ayah minta maaf, oh ya, apa Dante dan Felix lupa jika hari ini harus memberi makan Qiu dan Yiu?" tanya Morgan.


"Aku sedang malas, aku ingin bersama ayah dan paman A saja." rengek Dante.


Alex menghampiri kedua anak Morgan, bos mafia itu memberikan pengertian jika dia dan sang ayah ingin mengurus segala urusan sekolah mereka, agar besok sudah bisa berangkat ke sekolah.


"Kakak, ayo kita beri makan Qiu dan Yiu. Kita biarkan saja ayah dan paman di sini." pinta Felix.


"Baik, Kak. Paman A dan ayah, kami pergi dulu." pamit Dante.


"Anak-anakmu lucu sekali." ucap Alex.


"Terima kasih Tuan, kau terlalu memuji." jawab Morgan.


"Dimana baju yang kau janjikan itu?" tanya Alex.


"Kau duduklah Tuan, biar aku yang mengambilnya, istriku tolong buatkan teh untuk Tuan Alex." perintah Morgan.


Morgan beranjak dari tempat duduknya dan segera masuk ke kamarnya untuk mengambil baju yang di maksud. Sedangkan sang istri sibuk di dapur membuatkan dua cangkir teh untuk sang suami dan bos Alex.


Beberapa menit kemudian...


Morgan keluar dari kamarnya dan membawa baju yang akan di berikan kepada bos Alex untuk misi penyamaran.


"Bos, kau bawa baju ini. Kapanpun kau ingin masuk kesana, jangan lupa memakainya." jelas Morgan.

__ADS_1


"Setelah ini, aku akan masuk ke dalam dan menyerang mereka." jawab Alex.


"Minum dulu tehnya Tuan." pinta istri Morgan.


"Iya, minumlah dulu bos. Tunggu sebentar, kita tidak usah terburu-buru karena Tuan Xiauling akan datang dalam waktu dua jam lagi. Sebelum Ia datang, kau pindahkan mobilmu ke halaman belakang rumahku. Jika masih terparkir terlalu lama di depan rumahku, kau bisa ketahuan olehnya." jawab Morgan.


Setelah menghabiskan secangkir teh, Alex menemani bos Alex memarkir mobil sport warna hitam di halaman belakang.


"Setelah ini apa lagi?" tanya Alex setelah memarkirkan mobilnya.


"Kau ikut aku ke pos pemantauan yang aku buat sendiri, letaknya diatas pohon." jawab Morgan sambil menunjuk ke arah pohon yang di maksud.


"Kau cukup hebat memiliki ide secemerlang ini." tukas bos Alex.


"Terima kasih Tuan atas pujiannya, mari Tuan, aku akan mengajak kau naik ke atas." jawab Morgan.


Alex setuju, kemudian Morgan dan Alex naik ke atas pohon yang memiliki tinggi tujuh meter itu. Setelah sampai di atas, Morgan lalu memantau keadaan di luar rumahnya dari atas pos pemantauan. Dia harus waspada karena sewaktu-waktu bisa saja musuh datang. Morgan mengatakan akan pindah lagi jika tempat Ia berteduh hari ini di ketahui oleh anggota Lucifer.


"Semuanya terlihat jelas dari sini." ucap Alex


"Tentu saja, Tuan." jawab Morgan.


Beberapa menit kemudian, Alex menemukan sosok yang paling di cari olehnya, yaitu Tuan Xiauling. Bos Toxic itu berjalan beriringan bersama beberapa anggota Toxic di belakangnya.


"Morgan, Tuan Xiauling sudah muncul. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan ini." ucap Alex.


"Apa rencana bos Alex?" tanya Morgan.


"Aku akan mengurus pendaftaran sekolah anakmu terlebih dahulu. Aku memiliki banyak kenalan yang mana mereka mendirikan sebuah sekolah swasta. Aku akan memasukkan Felix dan Dante di sana, tinggallah di apartemen dekat sekolah itu." jelas Alex.


"Apa tidak terlalu berlebihan Tuan? aku tidak memiliki cukup uang untuk tinggal di apartemen," jawab Morgan cemas.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, semuanya biar aku yang mengurusnya. Kau tinggal bantu aku masuk ke dalam tempat persembunyian Tuan Xiauling, aku sudah tidak sabar berduel dengannya." ucap Alex.


"Baik Tuan, mari kira susun rencananya," ucap Morgan bersemangat.

__ADS_1


Alex dan Morgan akhirnya sepakat untuk bekerja sama. Mereka menyiapkan taktik jitu untuk menggulung keangkuhan dan kesombongan Tuan Xiauling.


__ADS_2