Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 66


__ADS_3

Alex menjauhi jasad pria licik yang baru saja di habisinya, peluh dan percikan darah terlihat menempel di seluruh tubuhnya. Rasa lega kini mulai menjalari batin Alex. Selama kurang lebih tiga puluh tahun ini, Alex telah menunggu momen penghabisan Tuan Zhen Ming yang telah menghancurkan keluarganya itu. Dendam telah terbayarkan, tapi Ia masih memiliki tugas lain yang harus di tuntaskannya. Setelah tewasnya Tuan Zhen dan Juna Albram, Ia masih memiliki tugas untuk melenyapkan orang-orang yang ingin menghancurkan Laras dan keluarganya.


"Tuan Xiauling, Tuan Albram Zein, kalian berikutnya," batin Alex sembari memasukkan senjata api di saku celananya.


Ia melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruang peradilan. Ia terkejut dengan penampakan Juan dan Willy yang berdiri di depan pintu.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Alex heran.


"Kami mengkhawatirkanmu bos." jawab Willy.


"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, aku baik-baik saja. Lebih baik kalian berdua urus pria tua yang telah menjadi mayat itu dan masukkan segera kedalam kandang binatang buas peliharaanku. Aku ingin beristirahat sebentar." perintah Alex.


"Baik bos," ucap kedua anak buah Alex serentak.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruang peradilan untuk melaksanakan perintah bos Alex. Sedangkan bos Alex segera pergi menuju ruangan miliknya untuk beristirahat.


Setelah sampai di ruangannya, Alex merebahkan tubuh kekarnya di atas ranjang. Tiba-tiba dia merasakan nyeri yang teramat di dadanya akibat ulah Tuan Zhen.


"Sial, pria tua itu membuat lukaku kembali terbuka," ucap Alex sembari meringis menahan rasa nyerinya.


Drrtt... drrt..drrt..


Telepon genggam miliknya bergetar, Ia kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan melihat siapa yang menelpon dirinya. Di layar ponsel tertera nama gadis yang sangat Ia rindukan. Tanpa basa-basi, Alex langsung menjawab panggilan telepon itu.


"Aku merindukanmu." ucap Alex.


"Ada apa Tuan? apa sesuatu telah terjadi padamu?" tanya Laras heran.


"Tidak ada apapun yang terjadi, aku hanya rindu padamu," jawab Alex penuh teka-teki.


"Tidak mungkin, pasti sesuatu sedang terjadi padamu," ucap Laras mulai mengkhawatirkan keadaan kekasih hatinya itu.


"Aku ingin memelukmu sayang." ucap Alex.


"Hey? jawab dulu, apa yang sudah terjadi padamu, baru kau boleh memelukku." jawab Laras.


"Kau memang gadis dengan sejuta pesona, aku tak mampu untuk tidak menuruti kemauanmu." ucap Alex

__ADS_1


"Jangan banyak basa-basi, katakan!!!" pinta Laras.


"Aku baru saja membuat sejarah, aku berhasil melenyapkan pria yang sudah tiga puluh tahun ku incar nyawanya." jawab Alex.


"Siapa itu Tuan?" tanya Laras penasaran.


"Tuan Zhen Ming. Dia adalah pria yang bergabung bersama Tuan Xiauling untuk menghancurkan keluargamu." jawab Alex.


"Syukurlah jika kau berhasil melenyapkan satu persatu musuhmu," ucap Laras lega.


"Sayang, apa kau tidak takut padaku?" tanya Alex.


"Mengapa harus takut?" tanya Laras heran.


"Aku bukan pria baik, hidupku penuh dengan pertumpahan darah dan balas dendam." jelas Alex.


"Di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, Tuan. Dan kau salah satunya, tidak masalah serumit apapun jalan hidupmu, sesulit apapun untukku bertahan dengan hubungan ini, aku akan tetap di sisimu, menemanimu hingga akhir." jawab Laras.


"Terima kasih sayang, kau telah memberikan cinta dan ketulusanmu kepadaku." ucap Alex.


"Tidak perlu berterimakasih Tuan, aku yang harusnya mengucapkan terima kasih itu padamu. Dengan segala hal yang terjadi di hidupku, hanya kau yang tetap tinggal, di saat situasi tersulitpun, kau tetap berdiri di depanku, tidak hanya melindungiku, bahkan kedua orang tuaku. Terima kasih, Tuan. " jawab Laras.


"Apa itu Tuan?" tanya Laras.


"Temani aku malam ini, kita habiskan malam indah berdua." jawab Alex.


Laras sudah menduga jika kekasih tampannya itu akan meminta haknya, dia salah langkah karena terbawa perasaan. Dia seharusnya tidak mengatakan hal yang akan membuat Alex merasa di atas angin, namun semua telah terlambat. Laras harus menanggung konsekuensinya.


"Cih, insting binatangmu memang luar biasa, di saat mangsa lemah, kau langsung menerkamnya." gerutu Laras.


"Kau yang memulainya, jadi kau juga yang harus mengakhirinya." goda Alex.


"Kita lihat saja nanti," ucap Laras sambil menutup panggilan teleponnya.


Hasrat Alex yang begitu menggebu tiba-tiba sirna, yang tertinggal hanya rasa kesal yang tertahan.


"Sial!!! gadis itu, membuatku ingin sekali menerkamnya." batin Alex.

__ADS_1


Alex meletakan ponsel miliknya di atas nakas, Ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah sesi pembersihan diri selesai, Alex membuka almari bajunya dan memilih celana jeans, kaos oblong warna hitam dan jaket hoodie warna senada.


"Sebelum aku urus semua musuhku, aku harus pergi menjemput nyonya Fira," batin Alex sambil meraih ponsel yang di letakkannya di atas nakas.


Alex keluar dari ruangannya, saat berada di depan pintu markas utama, Ia berpesan kepada semua anggotanya untuk tetap berhati-hati dan waspada saat dirinya sedang tidak ada di tempat, dia menyerahkan tanggung jawab penuh kepada Leon untuk menjaga markas utama Death Angel.


"Kau berhati-hatilah bos!!" pinta Leon.


"Baiklah, kalian juga." jawab Alex.


Alex berjalan menuju garasi dan memilih mobil sport yang berwarna hitam, segera saja Ia meluncur ke rumah nyonya Fira menggunakan mobil sport hitam miliknya itu.


Butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke rumah nyonya Fira. Meskipun begitu, waktu yang lama itu tidak terasa sedikitpun karena saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.


Tidak terasa mobil sport hitam miliknya telah terparkir di depan rumah nyonya Fira. Calon ibu mertuanya yang sedari tadi duduk di teras, kini berjalan menghampirinya, raut wajahnya terlihat kesal.


"Kau lama sekali, apa kau baru saja bertarung?" tanya nyonya Fira kesal.


"Ternyata kau calon ibu mertua yang sangat memahami calon menantunya." canda Alex.


"Cih, selain hal itu memang apa yang kau lakukan?" gerutu nyonya Fira.


"Mencintai anakmu dengan sepenuh hatiku." canda Alex.


"Tutup mulutmu itu, sok berkata manis saat melakukan kesalahan, kau mirip dengan anak dan suamiku," jawab nyonya Fira masih kesal.


"Iya, aku minta maaf ibu mertua, maaf karena aku terlambat menjemputmu." rayu Alex.


"Nah, ini baru benar. Ayo kita berangkat," jawab nyonya Fira dengan senyum sumringah.


"Legenda yang mengatakan jika semua gadis itu menyukai kata-kata maaf, bahkan saat si pria tidak melakukan kesalahan sekalipun ternyata itu benar." gumam Alex.


"Hey, apa kau akan berdiri saja di situ? cepat kau naik ke mobil dan bawa aku pergi dari sini." perintah nyonya Fira.


"Baik calon ibu mertuaku." jawab Alex lembut.

__ADS_1


Entah apa yang merasuki bos mafia itu hingga kebuasannya seketika sirna saat berhadapan dengan ibu dari sang kekasih, dia menjadi sangat penurut dan manis.


Akhirnya keduanya pergi dari rumah nyonya Fira dengan mengendarai mobil sport hitam milik bos Alex, bos mafia itu akan membawa nyonya Fira ke tempat yang lebih aman.


__ADS_2