Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 108


__ADS_3

Perbatasan kota selatan sudah terlihat dari udara, tuan pilot sedang mencari tempat untuk mendaratkan helikopternya.


"Tuan pilot, kau bisa mendarat di padang rumput sebelah sana," pinta Richi sambil menunjuk ke sebuah padang rumput yang luas.


"Baik tuan Richi," jawab sang pilot yang langsung mengarahkan helikopternya menuju pendaratan darurat di padang rumput tersebut.


Setelah helikopter itu mendarat, Richi mengucapkan terimakasih kepada sang pilot dan segera turun dari helikopter tersebut. Tak lupa dia mengatakan jika sang pilot tidak perlu kembali menjemputnya karena dia akan melaksanakan tugas di kota selatan.


"Jika tuan Richi membutuhkan aku, telepon saja, aku akan siap untuk membantu," ucap tuan pilot.


"Baiklah!" jawab Richi.


Perlahan tapi pasti, sang pilot mulai menerbangkan kembali helikopternya ke atas langit sore yang mulai gelap itu.


"Willy, kau sudah ada di perbatasan?" tanya Richi lewat sambungan telepon.


"Sudah Richard, kau dimana?" tanya Willy.


"Aku ada di padang rumput kota selatan, kau kemarilah jemput aku dan Angela," jelas Richi.


"Baik! sepuluh menit lagi aku datang," ucap Willy.


Richi menutup panggilan teleponnya, terlihat wajah Angela begitu gelisah.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Richi.


"Tien Lie, dia masih satu komplotan dengan bos scorpion bernama Liu Earl, dia bahaya sekali kak, selain bos mafia, dia juga bekerja sebagai pembunuh bayaran paling di takuti, dia juga hampir mencelakai tuan Fudo, apa kau ingat? peristiwa saat bos Alex menahan serangan panah dan hujaman pisau dari Liu Earl? tubuhnya penuh luka, tetapi karena dia terlalu tangguh, Liu Earl mampu di pukul mundur, setelah itu, dia menggila, dia membunuh seluruh anak buahnya yang tidak becus menangkap bos Alex," jawab Angela mengungkapkan kekhawatirannya.


"Iya aku tahu, tapi ini tidak ada urusannya dengan Liu Earl, salah jika dia ikut campur!" ucap Richi.


"Tapi kak..., dia bisa saja ikut campur jika Tien Lie mengatakan masalahnya pada pembunuh bayaran itu kan?" jawab Angela.


"Kita hadapi saja Tien Lie sesuai dengan rencana bos, sisanya kita akan pikirkan nanti, oke?" pinta Richi.


"Baiklah," jawab Angela.


Saat Richi dan Angela terlibat obrolan serius, muncul sosok yang menghampiri mereka, sosok itu adalah Willy.


"Masuk ke dalam mobil, aku dan yang lain sudah menunggu di perbatasan," pinta Willy.


"Oke," jawab Richi.


Richi dan Angela berjalan menuju mobil Willy yang ada di pinggir jalan raya yang tidak jauh dari padang rumput yang teramat elok itu.


"Bos dimana?" tanya Willy sesaat setelah Richi dan Angela masuk ke dalam mobil.


"Dia ada di suatu tempat," jawab Angela.


"Apa bos sedang bersembunyi dari musuh?" tanya Willy.


"Kau hidupkan mesin mobilmu dan segera menuju perbatasan, kalau kau banyak bertanya, target akan kabur Willy," sindir Richi.


"Hahaha, Sorry! aku terlalu penasaran, oke akan segera ku kemudikan mobilnya," ucap Willy sembari menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas pergi.


Di sepanjang perjalanan, mereka bertiga hanya diam saja, tampak aura ketegangan dia wajah masing-masing.


"Richi, yang kita hadapi adalah Tien Lie, kau tahu kan? dia seperti apa?" ucap Willy.


"Khawatir boleh, tetapi jangan berlebihan," jelas Richi.

__ADS_1


"Kau ikuti saja apa yang ku katakan, kita akan berhasil membidik target," tukas Richi.


"Baik Richi!" jawab Willy.


Setelah sepuluh menit lebih mengendarai mobil, akhirnya ketiga anggota Death Angel itu segera turun dari mobil, kemudian menghampiri empat puluh sembilan anggota yang sudah berkumpul.


"Tiga puluh orang ikut denganku, termasuk Willy, dua puluh sisanya berjaga di perbatasan, Angela akan menjadi ketua tim kalian," perintah Richi.


"Siap kak Richi!" jawab semua anggota serentak.


...* * *...


Bar terbesar kota selatan...


Seorang gadis sedang di goda oleh seorang pria tampan, pria itu ingin mencium sang gadis di depan para pengunjung bar, gadis itu mencoba pergi dari sergapan pria tersebut, karena sang pria menarik tubuh jenjangnya ke pelukan pria itu, sang gadis tidak bisa melakukan perlawanan, selain masih dalam kondisi mabuk, gadis itu terlihat sangat lemah.


"Jeni, ada apa denganmu?" tanya sang pria.


"Aku sedang tidak ingin, kau pergilah," jawab sang gadis.


"Jangan bilang kau masih memikirkan si brengsek Alex Fernando!" ucap sang pria.


"Mike, aku tidak sekalipun memikirkan Alex, aku hanya lelah, selama satu minggu ini, bar selalu ramai pengunjung, aku tidak punya waktu istirahat," jawab Jeni.


"Aku antar ke kamarmu!" pinta Mike.


"Tidak perlu Mike, aku masih bisa berjalan menuju kamarku," jawab Jeni.


"Terserah kau saja, gadis keras kepala! jika kau butuh bantuanku segera hubungi aku," ucap Mike.


"Ya baiklah, terima kasih karena kau masih perdulikan aku," jawab Jeni.


Gadis bernama Jeni itu berjalan perlahan menuju kamarnya, sedangkan sang kekasih masih duduk di atas kursi dengan botol minuman di tangannya. Dia terlihat menelpon seseorang.


"Apa yang bisa ku lakukan untukmu?" jawab sang kakak.


"Bunuh Alex Fernando!" ucap Mike.


"Ada apa dengannya? apa dia mengganggumu?" tanya sang kakak.


"Dia tidak secara langsung mengganggu, tetapi gadisku terlalu cinta padanya, dia selalu menolak untuk bermesraan, dia selalu menghindar saat aku ingin berdua dengannya," jelas Mike.


"Alex adalah pria berbahaya, aku sudah tidak ingin berurusan dengannya, kau urusi saja kisah cintamu itu," pinta sang kakak.


"Tapi kak Liu?" rengek Mike.


"Jangan sebut namaku di sembarang tempat, atau setelah kau pulang, kau akan ku habisi!" ucap sang kakak.


"Ba...i...k, ka...k...ak," ucap Mike dengan suara gemetar, panggilannya langsung di matikan oleh kakaknya.


Tiba-tiba saja datang sekelompok pria berjas hitam yang memenuhi bar itu, Mike menoleh kearah sekumpulan pria itu, ada salah satu sosok yang ia kenal.


"Kak Lie!" pekik Mike.


Mike menghampiri pria bernama Lie itu dan segera memeluknya, Lie menyambut hangat pelukan itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Lie.


"Kurang baik kak," jawab Mike.

__ADS_1


"Kau putus lagi dengan Jeni?" tanya Lie.


"Bukan masalah itu, ini tentang Alex Fernando," ucap Mike.


"Kau juga bermasalah dengannya?" tanya Lie.


"Iya, aku meminta bantuan kakakku tapi dia tidak mau berurusan dengan Alex," jawab Mike.


"Kau tenang saja, setelah ini, Alex akan datang padaku menyerahkan diri," jelas Lie.


"Bagus!" ucap Mike dengan senyum sumringah.


Suasana di luar bar terbesar di kota selatan...


"Willy, sepertinya mereka sudah berada di dalam bar, kau lihat pria yang sedang berbincang itu, dia adalah Tien Lie target kita," ucap Richi sembari menunjuk pria berjas hitam di dalam bar.


"Baik Richi, kapan kita mengepung bar itu?" tanya Willy.


"Sepuluh menit lagi karena bar ini akan sepi setelah pukul enam sore," jawab Richi.


Sepuluh menit kemudian, pasukan Death Angel mulai bergerak, semua anggota segera mengepung bar dari segala arah. Setelah bar itu benar-benar sudah di kuasai anggota Death Angel, Richi mengatakan kepada Willy untuk segera melakukan penyerangan saat dirinya memberi aba-aba, setelah itu Richi perlahan masuk ke dalam bar terbesar di kota selatan tersebut.


"Selamat sore... Tien Lie," sapa Richi.


Sekumpulan orang berjas hitam itu menoleh ke arah Richi yang hanya seorang diri masuk ke dalam bar.


"Wow! sahabat bos Death Angel muncul di sini secara tiba-tiba, lama tidak bertemu! apa kau sehat, Richi?" tanya Tien Lie sembari mendekati Richi.


"Tidak sehat karena harus bertemu denganmu," ucap Richi.


"Hah! beraninya kau!" ucap Mike yang tidak terima Lie di hina.


"Mike, biarkan mulutnya bernyanyi, aku hanya berurusan dengan Alex bukan dengannya," jawab Tien Lie.


DOR...


Terdengar suara tembakan yang di lepaskan oleh salah satu anggota Tien Lie, Richi sudah merasa saatnya untuk menyerang.


"DEATH ANGEL, SERANG MEREKA!!!" teriak Richi.


Seketika semua anggota Death Angel muncul dari segala arah, kedua kelompok terlibat baku hantam dan baku tembak, membuat bar itu porak-poranda.


DOR...


DOR...


Berulang kali terdengar suara tembakan yang berulang. Dalam hitungan menit, kelompok Tien Lie berhasil di lumpuhkan, sisanya banyak yang kabur, namun berhasil di tangkap oleh anggota Death Angel.


Saat Tien Lie berusaha kabur, Richi menarik jasnya, keduanya terlibat baku hantam yang sengit. Tien Lie tidak berdaya, dia berpura-pura pingsan.


"Buka matamu, katakan siapa yang menyuruhmu!" tanya Richi.


Tien Lie masih tidak bergeming, tetapi saat perutnya di injak cukup kuat oleh Richi, dia mulai berbicara.


"Beri aku dua ratus milyard, akan ku beritahu siapa yang menyuruhku," ucap Tien Lie dengan menahan sakit.


"Cuh! apa hanya uang yang kau tahu?" tanya Richi sembari meludah di wajah Tien Lie.


"Sialan! kau meludahiku!" jawab Tien Lie.

__ADS_1


Saat Tien Lie akan bangkit dan memberikan perlawanan, Richi memberikan bogem mentahnya ke wajah Tien Lie, membuat pria itu pingsan seketika.


"Akhirnya si gila uang ini diam juga," ucap Richi sembari menyeret tubuh Tien Lie keluar dari bar.


__ADS_2