Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Ancaman Asley!


__ADS_3

Laras masuk ke dalam ruangan yang di penuhi kegembiraan itu. Saat sang mommy berada di antara lima anaknya, mereka langsung memeluknya.


"Mom! dimana daddy?" tanya Aarav yang heran, mommy mereka hanya sendirian.


"Oh, dad sedang ada urusan pekerjaan, nanti juga kembali. Kau tunggu saja. Ehm, sedang bermain apa? sepertinya game yang kalian mainkan seru sekali." Laras mendekat ke arah sang ayah yang masih fokus dengan game Football Goal.


"Ayah, kau seperti anak kecil. Semua makanan dan game hanya milikmu, anak-anakku apa kabar?" sindir Laras, sang ayah hanya tersenyum dan tetap melanjutkan bermain game.


"Haha, ya aku memang jahat, tetapi mereka senang. Iya kan cucu kakek yang baik dan imut?" Tuan Hans membela diri di balik kebaikan cucu-cucunya.


"Iya mom! biarkan saja," ucap Lexis yang selalu membela Tuan Hans.


"Kau dengar kan? anak-anakmu itu seperti kawan baik denganku, jadi semua bisa di atur." Tuan Hans selalu menang karena kelima cucunya memang sangat lengket dengannya.


Tanpa sengaja, Tuan Hans melihat raut wajah sang putri yang seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Dia pasti kembali," celetuk Tuan Hans.


Laras langsung mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak terlalu bertanya hal yang macam-macam tentang sang mafia.


"Mommy? daddy mana?" Biarpun perhatian mereka di alihkan, tetap saja mereka semua bertanya dimana sang daddy tercinta.


"Sedang ada di kantor nak, banyak pekerjaan daddy yang terbengkalai, jadi daddy menyelesaikannya hari ini," jelas Laras, mommy Laras mencoba menghibur dengan kata-kata yang biasa mereka dengar.


"Ah! malas, mengapa harus bekerja saja? daddy bilang akan mengajak kami ke tempat yang indah! mengapa sekarang justru kabur dan kembali bekerja? ini tidak adil!" Adya protes, dia tidak terima jika sang daddy pergi untuk bekerja karena yang mereka inginkan adalah kebersamaan dengan sang mafia.


Laras memutar otak, akhirnya dia berinisiatif untuk menelepon sang mafia.


...* * *...


Markas Asley Xie...


Drrt...drrrtt...Drrrtt...


Terdengar suara dering ponsel terdengar dari balik celana sang mafia. Meskipun sedikit basah karena air, ponsel Alex masih bisa berfungsi.

__ADS_1


"Pria sialan! ponselmu berdering! apa kau tidak ingin menjawabnya?" tanya Asley Xie yang menungggu respon sang mafia.


Alex masih tetap diam, rasanya sakit sekali sekujur tubuhnya.


Asley Xie mendongakkan kepala sang mafia menggunakan tangannya. Dia merasa tidak berdaya, meskipun rasanya ingin sekali menampar Asley Xie yang menyebalkan itu.


"Ayo bicaralah! apa perlu aku ambilkan ponselnya dan mengucap selamat tinggal kepada anak dan isterimu yang sangat cantik itu?"


Mata sang mafia langsung menyala saat Asley Xie melibatkan anak dan isterinya dalam permasalahan ini.


"Haha... ternyata kelemahanmu adalah mereka? baiklah! setelah ini aku akan membawa mereka menemuimu!"


Asley Xie segera mengambil tindakan, dia mengambil ponsel siang mafia yang terus saja berdering. Saat Asley menjawab panggilan telepon tersebut, dia terpesona dengan suara Laras yang sangat lembut itu.


"Sayang? kau dimana? anak-anak ingin bicara denganmu, sayang? halo?" Laras mencoba memanggil sang suami yang tetap diam meskipun sudah berulang kali ia memanggilnya.


"Lex? suara isterimu sungguh memikat, bagaimana dengan tubuhnya?" bisik Asley sembari menutup ponsel sang mafia dengan tangannya.


Sorot mata sang mafia kembali menatap dengan tatapan membunuh.


"Sayang? apa telingamu sudah berpindah tempat? mengapa kau hanya diam saja?" Dari ucapannya, sang isteri terdengar sangat kesal.


"Nyonya, suamimu sedang di bawah kuasaku, tanpa izin dariku, dia tidak akan pernah bisa mengatakan apapun kepadamu," ucap Asley dengan penuh semangat, karena dia sangat bahagia, mampu mengalahkan sang mafia, menyiksa bahkan membuatnya marah.


"Dimana suamiku? dan siapa kau?" Laras terdengar kebingungan dengan ucapan Asley Xie.


"Datanglah ke markasku, bawa anakmu!" Asley benar-benar nekat, dia tak ingin kehilangan kesempatan.


"Hey? pria kurang ajar! dimana suamiku? awas saja jika kau menyakitinya!" ucap Laras penuh ketegasan, cintanya untuk sang mafia sangat dalam, hingga apapun akan dia berikan.


"Jika ingin bertemu, temui saja aku! jangan kau bawa anak-anak, akan ku pastikan kau menyesal telah membuat suamiku terluka! oh, aku tahu kau pasti pria licik yang menggunakan cara kotor untuk menipu suamiku!" Laras menduga jika sang penelepon adalah musuh yang licik, karena Alex tak semudah itu di lumpuhkan.


"Kau lumayan juga, cantik? datang ke alamat xxx dengan segera, aku penasaran dengan tubuhmu sayang? wajahmu pasti sangat cantik! aku tunggu kedatanganmu!"


Tutt... tutt...tutt...

__ADS_1


Asley mematikan ponsel sang mafia dan membantingnya ke lantai, alhasil satu-satunya petunjuk tentang keberadaan sang mafia kini telah musnah.


...* * *...


Di tempat lain, Laras yang merasa shock atas kejadian yang menimpa sang suami, hanya bisa pasrah. Dia tidak akan mengatakan apapun kepada anak-anaknya tentang keadaan Alex yang sesungguhnya.


Sudah lebih dari sepuluh menit berada di dalam kamar mandi, membuat Tuan Hans khawatir.


Tok...Tok...tok..


Terdengar suara ketukan dari balik pintu, Laras segera membuka pintu tersebut dengan hati-hati.


KLEK!


Setelah pintu terbuka, Laras sebisa mungkin menyunggingkan senyum di bibirnya agar sang ayah tidak curiga tentang apa yang dia bicarakan sedari tadi.


"Sayang? kau baik-baik saja kan?" tanya Tuan Hans yang sangat mengkhawatirkan sang mafia.


Meskipun Laras enggan menunjukkan kekhawatirannya, namun dia ingin sekali bercerita kepada ayahnya. Dia ingin sang ayah membantunya membasmi musuh sang mafia.


"Ayah, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu. Apa anak-anak tidak keberatan jika kau keluar sebentar?" jawab Laras, perkataan puterinya membuat Tuan Hans mengeryit dahinya.


"Kau keluar dulu dari kamar mandi, kau kira aku penjaga toilet?" Di saat seperti ini, Tuan Hans masih saja membuat lelucon.


"Haha, iya ayah maaf." Laras menyadari jika dirinya sedari tadi hanya berada di depan pintu kamar mandi.


Laras mempersiapkan diri untuk turun ke lantai bawah. Namun sebelumnya dia menunggu sang ayah merayu ke lima puteranya terlebih dahulu.


Tuan Hans perlahan mendekati si kembar lima, dengan berjongkok, dia mengatakan," Jagoan kakek, sedang bermain apa?"


"Sekarang bermaian Super Hero kakek, ini permainan yang bagus, kami bisa bermain bersama." Lexis menjawab pertanyaan sang kakek dengan fokus ke layar LCD dengan tangan menggerakkan jarinya kesana kemari di atas stick PS.


"Oh, kalau begitu, kakek mau turun ke bawah dulu ya? kakek ingin berbicara dengan mommymu," pinta kakek Hans dengan berhati-hati.


"Oke kakek, tapi jangan lupa, kakek harus memberitahu dimana daddy berada, jangan seperti mommy yang menyembunyikan keberadaan daddy," celetuk Adya, dia merasa di bohongi. Harusnya saat sang mommy menelepon nomor daddy mafia, Adya dan ke empat saudaranya harus berbicara juga. Tetapi karena Laras menemukan ada yang ganjil dengan penerima telepon tersebut, alhasil dia harus berpura-pura ingin ke kamar mandi untuk mencuci muka agar tidak ketahuan jika sedang berbicara dengan penjahat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2