Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 147


__ADS_3

Sang mafia dan isteri masih berada di bibir pantai saat pasangan pengantin itu memadu kasih dengan gairah luar biasa dan sangat membara.


"Sayang, apa kira-kira yang akan Richi lakukan saat ia terpengaruh obat itu?" tanya Laras sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Entahlah, daripada bertanya tentang apa yang Richi lakukan, lebih baik melakukan apa yang seharusnya segera dilakukan," sindir sang mafia.


Wajah Laras mendongak, dia menatap wajah tampan sang suami,"Kau memang tidak sabaran ya sayang?" Laras mencubit hidung mancung sang suami dengan lembut, Alex membalas dengan ciuman di kening isterinya.


"Aku tidak sabar karena anak kita juga tidak sabar bertemu daddynya yang lama tidak menengoknya," Alex benar-benar memancing sang isteri untuk segera menuntaskan keinginan hati yang menggebu dari seorang Alex Fernando, otaknya terasa mendidih. Ia tidak mampu menahan lagi, tetapi karena rasa sayangnya terhadap Laras, ia rela berkorban.


"Kau ini, selalu pandai dalam berbicara," Laras gemas dengan sang suami yang selalu banyak alasan itu.


Baby A terasa menendang-nendang di dalam perut ibunya, Laras dan Alex sangat excited. Alex bersimpuh, ia mendekatkan telinganya tepat di perut sang isteri.


"Dia menendang telingaku! hey jagoanku! ini daddy, kau semakin pandai berkelahi di dalam sana. Kau akan ku ajari banyak hal, tenang saja," Sekali lagi, tendangan kaki sang baby A membuat Alex dan Laras terkejut dan tertawa bersama.


Alex memeluk dan mencium perut sang isteri, dia mendoakan sang baby agar tetap sehat dan menjadi anak yang patuh kepada kedua orangtuanya.


"Ayo kita lakukan sekarang saja, baby A ingin segera di tengok," ucap sang mafia sembari mendongak ke atas, ia menatap wajah sang isteri lekat. Perlahan dia bangkit, menggenggam tangan Laras dan mengajaknya masuk ke dalam gedung megah itu.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Laras menuruti langkah kaki sang suami yang akan membawanya menuju surga dunia yang sangat di rindukan sang suami. Perlahan tapi pasti, kedua kaki Laras dan suami telah sampai di pintu utama, Alex membuka pintu itu, Ia menggendong tubuh sang isteri yang mulai terlihat kelelahan. "Apa ini sayang? turunkan aku," pinta Laras yang terkejut saat tubuhnya di gendong oleh Alex.


"Aku merasa dirimu kelelahan sayang, makanya aku berinisiatif untuk mengendongmu, kau diam sajalah sayang," ucap sang mafia sembari mengecup pipi Laras.


"Tapi aku tidak suka, turunkan aku," pinta sang isteri lembut.


Alex tak mendengarkan permintaan sang isteri, ia tetap mengendong tubuh Laras yang semakin berat itu menuju kamar utama. Namun saat dia melewati pintu kamar tamu yang ada di sebelah kamar utama, dia kembali jahil.

__ADS_1


"Richi! lakukanlah dengan benar, Angela! menurutlah dengan suamimu, jangan menyiksa suamimu seperti Laras yang sangat tega membuatku menunggu," pekik sang mafia di depan pintu kamar tamu, tetapi tidak ada respon dari pasangan pengantin baru itu.


"Ssstt! mengapa kau suka sekali mengganggu mereka? biarkan saja sayang, kau tega sekali dengan kedua adikmu," ucap Laras yang merasa sang suami sudah keterlaluan.


"Jika kau ingin aku diam, turuti kemauanku," gerutu sang mafia, wajahnya sok imut dan memelas.


"Masuk ke kamar jika ingin segera terpenuhi keinginan itu," Lampu hijau lagi, Alex semakin bersemangat. Ia membuka pintu kamar utama, tak lupa dia menutup dan mengunci kamar itu.


Langkah kakinya telah sampai di ranjang, ia merebahkan tubuh Laras di sana. Alex melepas jasnya, melonggarkan kemejanya yang terikat kuat oleh ikat pinggangnya.


"Kau sedang apa?" tanya sang isteri.


"Bersiap untuk mempraktekan saran dokter," jawab Alex sangatlah jujur.


Alex meminta sang isteri duduk di atasnya, awalnya Laras ragu karena perutnya yang membuncit itu takut terhimpit.


"Kau dan anak kita akan aman, aku yang akan beraksi," ucap sang mafia.


"Kau sexy sekali sayang? anak kita pasti akan senang saat daddynya rajin menengok," ucap sang mafia merasa menang.


"Iya aku tahu, kau yang terbaik dalam mencari alasan," jawab sang isteri.


Alex memulai aksinya, dia melakukannya dengan berhati-hati, ia mencium leher sang isteri yang ada di depannya, tangan kanannya juga sudah standby di tempat favoritnya yang sangat berisi itu. Gerakan tangan yang lincah, sentuhan lembut bibirnya di leher sang isteri, membuat Laras terbuai.


"Sayang kau semakin sensitif," bisik sang mafia. Ia menatap wajah sang isteri yang mulai terpancing oleh aksinya.


"Setelah ini, kau akan merasa nyaman sayang," tambah Alex, dia memulai pertautan bibir yang panas. Namun Laras melepaskan kecupan itu, ia merasa kelelahan.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku lelah," ucap Laras membuat Alex menghentikan aksinya.


Ia membantu Laras berbaring, ia menyangga kepala dengan satu tangannya dan Laras berada di sampingnya. Alex memandang wajah cantik sang isteri, "Maaf sayang, aku terlalu menginginkanmu," Sang mafia membeli wajah Laras dengan satu tangan yang lain.


"Kau istirahat dulu, nanti bisa di lanjutkan," sambung Alex menutup tubuh sang isteri dengan selimut.


Tapi sungguh sial untuk sang mafia, Laras justru tertidur. Mau tidak mau, dia memang harus bersabar sampai nanti malam.


Ia membantu sang isteri mengenakan baju yang Alex ambil dari lemarinya, sebuah baju tidur yang nyaman untuk ibu hamil, ia mengenakannya dengan hati-hati karena Laras tengah terlelap.


"Huft! nasib badan," Alex beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar utama, sebelum melanjutkan langkahnya, dia menoleh ke arah pintu kamar tamu, "Pengantin baru ini, membuatku iri," gerutu sang mafia yang tidak berdaya karena harus bersabar lagi.


Alex memilih berbaring di sofa ruang tamu, "Aku mau apa lagi? isteriku tidur, Richi dan Angela sedang bersenang-senang, lengkaplah sudah penderitaanku, apa ini yang dinamakan karma pria jahil, apa hukuman itu juga berlaku padaku?" Sang mafia menutup wajahnya dengan bantal yang ada di sofa itu.


Saat dia meratapi nasib, sebuah panggilan dari telepon rumah mengejutkannya, ia meletakan bantal di meja dan mengubah posisinya. Kini ia tengah duduk di atas sofa dengan ganggang telepon di tangannya.


Alex menempelkan ganggang telepon di telinganya, "Halo? siapa ini?" tanya sang mafia penasaran.


"Aku adalah sahabat lamamu, apakah kau melupakanku?" jawab sang penelepon.


"Sahabat? lamaku?" Alex merasa tidak mengenali suara itu.


"Apa kau benar-benar lupa?" ucap sang penelepon.


"Kau jangan mengaku-ngaku, aku tidak mengenalmu!" Saat sang mafia ingin menutup panggilan itu, sang penelepon masih mengatakan hal yang tidak penting.


"Paman Fernando, apa dia masih hidup? aku dengar Blue Sea telah luluh lantak waktu itu," Sang penelepon belum mengetahui tentang apa yang terjadi, Alex malas menanggapi percakapan tidak penting itu, "Aku tidak ada waktu meladenimu," Sang mafia menutup panggilan itu.

__ADS_1


Di saat dia merana karena banyak hal, justru ada penelepon misterius yang menghubunginya, sok kenal dan sok akrab. Hari yang kurang beruntung untuknya.


"Bad day," ucap sang mafia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa, ia meraih bantal yang ada di meja dan menutup wajahnya dengan bantal tersebut.


__ADS_2