Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
hasrat Tuan Mafia


__ADS_3

Sang gadis merasa risih dengan perlakuan pria yang baru saja membelinya dari sang ayah. Entah mengapa Tuan Hars tega melakukan hal demikian padanya, padahal Naraya adalah anak pertama keluarga itu.


"Kau tidak bisa lari, setelah malam ini, bukankah kau akan menjadi kekasihku untuk selamanya?" ujar seorang pria tampan tapi berperilaku bengis, dia adalah James Holand, pria mafia dengan segala kekayaan dan bisnisnya mencoba untuk merayu sang gadis sedemikian rupa agar malam keduanya menjadi lebih syahdu.


Namun, semua harapan James hanyalah tinggal kenangan, sang gadis sama sekali tidak mengizinkan tubuhnya disentuh oleh tangan yang telah menghabisi banyak orang itu.


Nara terus menolak, hingga kakinya harus mendapatkan tusukan dari bekas gelas kaca yang baru saja ia pecahkan.


"Mundur atau aku akan menghabisi kau!" jawab sang gadis sambil menodongkan ujung gelas kaca yang masih tersisa. Ujungnya cukup runcing, bukan tidak mungkin bisa melukai James.


Sang mafia tidak kehilangan akal, dia sudah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman yang sudah disiapkan oleh pelayan rumah itu.


James tidak perlu susah payah untuk menaklukkan sang gadis sebab saat sang gadis sudah meminum obat itu tanpa Nara sadari.


Hingga tubuh sang gadis tiba-tiba terhuyung, dia masih ingin mempertahankan kesadarannya, tetapi tidak semudah itu.


Rasanya sangat pening dan berat, apalagi kaki kanannya yang terluka karena pecahan kaca, sungguh rasanya sangat menyiksa.


"Menyerah'lah! kenapa bersusah payah untuk melawan," ungkap James dengan wajah cukup sumringah, sebab setelah ini dia akan mendapatkan bunganya.


"T-tidak akan, kau adalah pria jahat! sampai matipun aku tidak akan membiarkan kau menyentuh tubuhku!"


Namun semua kata-kata itu hanya sebatas itu saja, karena pada akhirnya Nara harus menyerah.


Efek obat sudah menjalar keseluruh tubuh.


Sekarang James hanya tinggal mengeksekusinya.


"Kau adalah gadis yang menarik, tapi aku ingin melihat perlawanan sekali lagi," batin sang pria sambil merebahkan sang gadis di atas ranjang.


.


.


.


Dua jam berlalu ...


Sang pria terlihat sangat tampan dengan wajah yang berkeringat serta celana pendeknya, dia sedang berdiri di samping jendela sambil menghisap asap dari benda bernikotin yang ada di sela jari telunjuk dan tengahnya.


Tak di sangka sang gadis sangat cepat sadar, meski dua jam lalu, dia tidak menyadari apapun yang terjadi.


"Kenapa kau melakukan semua ini?" ucap sang gadis penuh kemarahan.


"Aku suka padamu, sederhana."


"Gadis lain banyak, kenapa kau menyukai aku? kau hanya akan merusak kehidupanku, ayah dan kau sama saja! sama-sama pecundang!"


"Haha, kau cukup berbeda dengan dua jam lalu, apakah kau lupa jika dirimu seperti seorang penari?"


Sang mafia mencoba mengingatkan tingkah sang gadis saat bersamanya.


"Kau hanya mengada-ada. Bagaimana bisa menjadi orang yang sangat tidak waras dalam keadaan kaki terluka, kau berbohong!"


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya, oh ya soal luka itu, hanya luka kecil. Aku sudah memasang perban di sana. Tidak kah kau ingin berterima kasih padaku?"


James, terus saja menggoda sang gadis, meskipun sebenarnya dia belum berselera dengan gadis yang diam saja saat bersamanya, dia ingin sensasi lain.


Semua gadisnya sangat berhasrat saat bersamanya, kenapa Nara hanya diam?


Ini adalah hal yang tidak mungkin baginya.

__ADS_1


Perdebatan masih saja berlanjut, sang pria mendapatkan beberapa panggilan telepon, salah satunya dari ayah Nara.


"Ada apa tuan?" tanya James.


"Berikan uang lebih, aku ingin berinvestasi dengan perusahaan Zovan," jawab tuan Hars tanpa rasa malu.


Sang ayah tega sekali meminta uang tambahan, padahal anaknya sangat terhina di sana.


Sang gadis yang melihat semua ini, segera bangkit dari ranjang, tapi semua pakaiannya telah hilang, dia menarik selimut, dengan perlahan kakinya telah berpijak di lantai kamar sang pria.


Meski terasa perih, dia berjalan tanpa rasa takut ke hadapan sang mafia.


James hanya melihat wajah sang gadis dengan sangat senang, dia tahu Nara sangat tangguh, oleh karena itu, James sangat ingin bersama dengan Nara.


"Apa?"


Sang mafia berkata pada sang gadis, mencoba mempermainkan ponsel yang ingin direbut oleh sang gadis.


"Kau ingin berbicara dengan ayahmu?"


"Dia bukan ayah, tapi siluman, bagaimana bisa seorang ayah menjadi pria yang kejam seperti ini? berikan padaku, aku harus bicara dengannya."


"Tidak semudah itu."


Sang pria langsung memeluk Nara dan mematikan ponselnya, dia semakin dekat dengan wajah Nara, dia hampir menyentuh bibir sang gadis, tetapi tertunda karena ada suara ketukan pintu.


James harus menahan diri.


"Sialan!' umpatnya kesal.


Dia memberikan izin orang di balik pintu untuk masuk ke dalam kamarnya.


Orang yang mengetuk pintu terlihat membuka pintu itu dengan hati-hati dan melihat sang bos sedang bermesraan.


"Maaf tuan, ada adik tuan ingin bertemu."


"Urusan apa?"


"Tentang wilayah barat tuan, tuan Jimmy tidak mendapat akses ke wilayah itu karena ada musuh yang menghadang, mereka membersihkan sebagian anak buah tuan Jimmy. Dia datang untuk meminta bantuan pasukan."


"Katakan padanya untuk menunggu, kau pergilah!"


"Baik tuan."


Sang anak buah begitu takut hingga langsung pergi, dia merasa aman sebab sang bos tidak melakukan apapun terhadapnya.


.


.


.


Ruang tamu ...


Seorang pria tampan lain ada di sana, dia adalah Jimmy, adik kandung James.


Dia duduk di atas sofa dengan gelisah, dia harus membawa pergi kekasihnya yang terjebak di wilayah barat.


Sang anak buah yang baru saja menemui sang bos, langsung memberikan informasi kepada Jimmy.


"Tuan? bos belum bisa di ganggu, tunggu beberapa saat lagi."

__ADS_1


"Apakah tidak bisa? Sungguh tidak bisa?"


"Iya, tuan sedang bersama gadis yang baru saja dia beli."


"Apakah aku tidak penting? kakak selalu memberikan aku segalanya, tapi saat ini dia sedang bersama seorang gadis dan melupakan aku. Apakah ini adil?"


Jimmy sangat kesal, masa bodoh dengan apapun, pada intinya dia bisa menemui sang kakak dan meminta bantuan.


Dia ingin menemui sang kakak.


"Tuan, jangan."


"Aku akan menanggung resikonya."


.


.


.


Kamar sang bos ...


"Kenapa kau sangat naif? kau cantik, aku juga tampan, kita bisa bersama kan?"


Sang pria terus memprovokasi, Nara makin benci dan meludah ke arah sang mafia.


"Cuh, pria tidak tahu diri, sialan! pecundang!"


Sang gadis mengumpat, dia meluapkan semua kekesalannya, saat sang mafia ingin mengeksekusi gadis itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu dengan paksa.


"Kak! Kenapa kau begitu ...."


Belum sempat sang adik meneruskan kata-katanya, dia melihat pemandangan sangat langka, ada mantan kekasih yang dua tahun lalu pergi tanpa kabar.


"Naraya?"


"Jimmy?"


James merasa aneh dengan semua ini, sang gadis memberikan kode agar tutup mulut.


Saat ini, Jimmy juga sudah move on, dia mencoba masa bodoh.


"Kalian saling mengenal? kau kenal gadisku, Jim?"


"Tidak, kakak tolong aku. Sandra dalam bahaya, aku baru saja kalah dalam pertarungan dan Sandra menjadi tawanan."


Sang adik berusaha keras untuk menghempaskan bayangan Naraya dan fokus pada kekasihnya, tapi kecantikan Nara tidak bisa dihempaskan begitu saja.


Dia masih menatap Nara.


"Kau berani menatap mata gadisku? mau bantuan atau nyawamu hilang?"


"Maaf kak, aku ingin bantuan."


Sang kakak segera memberikan bantuan, dia meminta Jimmy membawa beberapa orang pilihan untuk bersama dengannya menyelamatkan Sandra.


Perlahan Jimmy pergi, sang gadis merasa aneh dengan situasi ini.


"Jimmy dan James? kakak beradik?"


*****

__ADS_1


__ADS_2