Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 188


__ADS_3

Nama kelima anak sang mafia :


1. Aarav (bijaksana)


2. Arsenio (gagah berani)


3. Alexi (pejuang)


4. Adya (tiada bandingan)


5. Adelio (pangeran yang mulia)


...* * *...


Lima tahun kemudian...


New York, pukul 06.30 waktu setempat...


Kelima putera sang mafia kini telah berusia lima tahun. Mereka tidak mendapatkan pendidikan formal, tetapi Alex menyediakan fasilitas home schooling. Bukan tanpa alasan, kelima anaknya yang baru berusia lima tahun, lebih sering berkelahi daripada belajar. Meskipun usianya masih kecil, kemampuan otak dan kekuatan tubuhnya melebihi usia mereka. Banyak orang tua yang mengeluhkan hal ini.


Alex yang kini menjadi pria biasa dengan pekerjaannya sebagai pemimpin Dounghun Farmasi milik sang ibu mertua yang berhasil di kembangkan olehnya. Kini pusat perusahaan farmasi itu ada di negeri Paman Sam.


Pagi ini, seperti biasa, sebelum sang daddy pergi bekerja, kelima baby A sudah berebut ingin mencium daddynya. Laras sampai kewalahan mengatasi mereka.


"Adelio dan Adya lebih dulu, setelah itu baru ketiga kakakmu." Laras begitu lembut merawat kelima babynya, meskipun rata-rata sifat dan sikap ke lima baby A sama persis dengan daddynya, tetapi selalu takhluk di hadapan sang mommy yang cantik dan penuh perhatian itu.


"Kami sudah, sekarang kakakku silahkan." Duo adik segera berdiri di samping dady mereka.


Setelah usai melakukan ritual pagi mereka, Aarav segera meminta Laras membuat Spaghetti kesukaannya, dia menyingkir bersama sang mommy dari ke empat adiknya dan beranjak ke dapur.


Alex ingin mencium kening Laras, tetapi karena ulah si sulung meminta sang mommy membuatkan spaghetti, dia hanya bisa berpamitan saja.


Aarav, anak kembar pertama Laras dan Alex yang memiliki wajah tampan dan menawan. Hanya Aarav yang memiliki sifat sesuai namanya, yaitu bijaksana. Gen sang daddy 80% ada padanya. Sedangkan kelima adiknya campuran antara Laras dan Alex.

__ADS_1


"Anak daddy memang cerdas ya? oke, sekarang daddy ingin pergi bekerja. Jangan menyusahkan mommy, oke?" Sang mafia memang mengajari kelima anak kembarnya agar menjadi pribadi yang mandiri sejak kecil.


"Siap daddy." Ke empat baby kembar sang mafia melepas kepergiannya dengan melambaikan tangan ke arah sang daddy, mereka berjejer di depan pintu masuk.


Alex juga melambaikan tangannya ke arah kelima baby kembarnya.


Setelah ia masuk mobil, keempat anak kembarnya masih setia melambaikan tangan ke arah sang daddy. Saat mobil sang daddy perlahan menghilang, empat baby A masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintu utama.


"Kak Arsen, daddy bekerja dimana?" Alexi bertanya kepada kakak keduanya. Dia sangat penasaran dengan tempat sang daddy bekerja.


"Entahlah, Arsen ingin bersama kak Aarav saja. Adya, Adelio, mau ikut main Lexis tidak?" ajak sang kakak kedua.


"Kami ingin membaca buku, guru Franda bilang akan ada ujian besok." Duo adik yang paling rajin dari ketiga kakaknya. Adya dan Adelio lebih mirip sang ibu yang lebih senang belajar.


Duo adik masuk ke dalam kamar mereka dan mengunci pintu, mereka melakukannya agar si tengil Lexis tak mengganggunya. Alexis, mewarisi darah usil, tengil dan humor dari sang daddy, berbeda dengan kedua kakak dan kedua adiknya yang meski usil bin tengil, tidak akan separah Lexis.


Lexis berdiri di ruang tengah, dia bosan jika harus bermain sendiri, segera saja dia menghampiri Arsen yang memilih mencicipi spaghetti lezat yang selalu kakak sulungnya katakan.


Baru saja sampai, Lexis sudah membuat ulah. Dia tiba-tiba menggeser tempat duduk sang kakak kedua. Tetapi Arsen tidak mau berpindah tempat duduk. Karena tidak terima, Lexis membuang spaghetti yang sedang di santap oleh Arsen. Pertengkaran keduanya tidak terelakkan. Mommy Laras dan Aarav segera melerai keduanya.


"Minta maaf dengan kak Arsen, Lexis." Laras mendamaikan kedua anak cerdasnya itu. Awalnya Arsen enggan menerima uluran tangan Lexis, tetapi saat Lexis meminta maaf, Arsen mau memaafkannya. Mereka berdua berjabat tangan saling berpelukan.


"Jangan berebut lagi, oke?" Laras mengelus rambut Arsen dan Lexis dengan lembut, sang mommy mencium kening keduanya.


"Kalau akur kan mommy tidak pusing." Laras sedang belajar arti sabar dalam merawat ke lima baby A nya. Meskipun mereka kembar, selera makan mereka berbeda-beda.


Kakak pertama-ketiga suka makan sayur wortel dan bayam. Sedangkan duo adik lebih suka makan brokoli. Tapi khusus untuk Aarav, dia gemar sekali menyantap spaghetti, apalagi sang mommy yang membuatnya.


"Mommy, ini spaghetti, Lexis tidak suka." Lexis, si penyuka wortel dan bayam, tak terima jika satu piring penuh di depannya hanya ada spaghetti saja.


"Untukmu dan Arsen, mommy sudah memasaknya. Kalian duduk manis di sini, jangan membuat ulah lagi. Terutama Lexis." Pandangan mata mommy Laras tertuju kepada Lexis si pembuat onar.


"Hehe, baik mom. Lexis anteng mom." Senyum manis si tengil mampu membuat sang mommy tenang.

__ADS_1


Laras beranjak dari tempat duduknya, ia segera mengambil dua mangkuk sup dengan daging sapi, wortel kesukaan Arsen dan Lexis. Laras sengaja memasak bayamnya dadakan agar lebih fresh. Usai mempersiapkan sarapan kedua untuk Arsen dan Lexis, tak lupa mommy Laras membawa tiga gelas air putih untuk ketiga baby A nya.


Laras membawa nampan berisi, dua sup daging sayur, dan tiga gelas air putih. Dia berjalan perlahan menuju meja makan, setelah sampai, Laras meletakkan menu sarapan keduanya di meja makan.


"Untuk Arsen dan Lexis." Laras meletakkan di hadapan si kembar Arsen dan Lexis semangkuk sup daging dan segelas air putih.


"Segelas air putih untuk kakak pertama." Laras meletakan satu gelas berisi air putih di depan meja Aarav.


"Terimakasih mommy!" Arsen, Lexis dan Aarav mengucapkan terimakasih kepada sang mommy secara bersamaan.


"Iya, sama-sama sayang." Laras merasa bahagia saat melihat ketiga anaknya akur.


Sebelum makan, Arsen dan Lexis berdoa terlebih dahulu. Laras kagum dengan kecerdasan ketiga anaknya ini, mereka hanya perlu di ajari sekali dan langsung paham. Tetapi ya itu, saat jiwa kanak-kanaknya kambuh, mereka akan berebut sesuatu jika merasa hal itu milik salah satu baby A nya. Si raja tengil, dia yang selalu mendapatkan hukuman dari Laras. Kadang Alex juga memberikan Lexis hukuman, hukuman paling menyiksa Lexis adalah belajar bersama duo adik. Kedua adiknya, akan memberikan banyak soal dan hafalan kepada Lexis, alhasil si kecil Lexis selalu berpura-pura menangis saat merasa bosan.


Laras menatap ketiga baby A nya yang sedang asyik menyantap makanan kesukaan masing-masing. Selain makan, yang membuat si kembar lima anteng adalah tidur.


Laras tidak menyangka si kembar lima-nya sudah berusia lima tahun, waktu berjalan sangat cepat.


"Setelah makan, kalian belajar ya? guru Franda hari ini tidak datang. Dia akan datang lima hari lagi karena nenek guru Franda sedang sakit." Kabar bahagia dari sang mommy membuat Arsen dan Lexis berjingkrak-jingkrak.


"Yey! libur lama! yey!" Lexis berlari dan naik ke atas sofa ruang tamu, bak bermain trampolin, dia senang sekali saat tubuhnya bisa memantul.


"Hati-hati Lexis, Arsen." Rasa was-was selalu menyelimuti benak Laras saat kedua anaknya sudah berulah.


Sedangkan Aarav masih sibuk dengan spaghetti lezat buatan sang mommy yang ia santap dengan lahap.


NB :


Sementara author akan up satu bab dulu ya tiap harinya, karena ada pekerjaan yang harus author kerjakan di Real Life.


Semoga kalian suka dan terhibur!


Salam hangat author Halu...

__ADS_1


Love you All


♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2