
Di markas utama Death Angel...
Semua anggota Death Angel telah kembali ke markas. Para anggota yang terluka, segera mendapatkan pengobatan.
Alex yang merasa pegal, memilih untuk masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Beberapa menit kemudian, sampailah sang mafia di depan kamarnya, perlahan dia membuka pintu kamarnya, langkah kakinya seperti tidak sabar untuk segera sampai ke tempat peraduannya.
"Sial! semut itu lumayan juga," Rasa nyeri kembali datang saat sang mafia akan merebahkan tubuhnya. Alhasil sang mafia hanya bisa duduk bersandar di tempat tidur.
"Ini lumayan juga, tidak terlalu nyeri," ucap sang mafia.
Ponselnya kembali berdering, Alex kembali mengambil ponsel di saku celananya.
Ia menatap layar ponsel itu, senyum manis mengembang di bibirnya kala melihat my wife menghubunginya.
"Miss you," ucap sang mafia.
"Hey Lex, ini aku ibu mertuamu," Nyonya Fira menelepon Alex dengan nomor sang puteri.
"Astaga! haha...aku terlihat konyol di depan ibu mertuaku sendiri," ucap sang mafia yang menertawakan dirinya sendiri.
"Kau merindukan isterimu tetapi tak juga kembali, suami macam apa kau ini Lex?" Nyonya Fira kecewa dengan sikap Alex yang tak memberikan kepastian kapan akan kembali ke Paradise Land.
"Besok aku pulang," jawab sang mafia santai.
"Aku memintamu sekarang! kalau tidak, aku pecat kau jadi menantuku," ucap sang ibu mertua, meskipun terdengar seperti candaan, tetapi horor juga saat Alex mendengarkan ancaman nyonya Fira.
"Kau harus tahu ibu, punggungku tergigit semut, nanti anakmu heboh," bisik sang mafia.
"Hanya semut kan? cepat pulang! jangan banyak alasan!" pinta sang ibu mertua.
"Semut dengan mata pisau yang tajam, punggungku terluka ibu. Sebelumnya, Laras pernah bermimpi aku terluka, oleh karena itu, aku lebih memilih untuk menunda rencanaku untuk kembali ke Paradise Land," jelas sang mafia.
"Baiklah, jika menurutmu itu baik, aku mendukungmu Lex. Apalagi isterimu sedang hamil, aku rasa kau lebih tahu apa yang harus kau lakukan," bisik sang ibu mertua.
"Apa Laras ada di belakangmu? mengapa kau berbisik?" tanya Alex yang merasa ibu mertuanya takut ketahuan meneleponnya menggunakan ponsel Laras.
"Iya ini aku, apa yang kalian bicarakan?" Suara sang ibu berganti dengan suara merdu sang isteri.
__ADS_1
"Ibu hanya rindu padaku itu saja, kau tahu kan aku adalah pria dengan sejuta pesona, para wanita pasti terpesona denganku," Alex menyombongkan dirinya sendiri karena di gilai oleh para wanita.
"Iya aku tahu, tetapi dari sekian banyak wanita, hanya aku yang mampu membuatmu jatuh cinta, bukannya aku lebih hebat dari suamiku?" ucap Laras yang mampu mematahkan kesombongan Alex.
"Haha, ya aku mengaku kalah," jawab sang mafia yang harus mengakui kehebatan isterinya.
"Lex, kau baik-baik saja kan? saat aku makan tadi, rasanya sesak sekali dadaku, aku takut kau terluka," tukas Laras yang mengungkapkan kekhawatirannya.
"Aku baik sayang, jangan memikirkan hal yang buruk, aku sehat tanpa luka sedikitpun," jawab Alex yang terpaksa harus berbohong untuk kebaikan sang isteri.
"Oke, Lex, aku rindu!" ucap Laras yang mengungkapkan rasa gundahnya.
"Sayang, aku pun sama. Sangatlah rindu padamu, kita akan bertemu besok pagi, love love love you sayang, muach! aku ingin sekali mencium bibirmu, lehermu, tubuhmu, semuanya," jawab Alex semakin memperjelas rasa rindunya yang menggebu.
"Haha...ya semuanya memang untukmu! kau akan mendapatkannya nanti," tukas sang isteri memberikan angin segar kepada sang mafia.
Tok...tok..tok..
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Alex, ia segera berpamitan kepada sang isteri karena ada orang yang datang menemuinya.
"Iya sayang, tidak masalah, jaga kesehatanmu ya? bye...," Laras mengucapkan salam perpisahan kepada sang suami.
Saat Alex membuka pintu kamarnya, dia melihat dua sosok serupa berdiri di depan matanya.
"Apa?" yang sang mafia.
"Bos, aku ingin menemui ayah dan Kyara, terimakasih atas semua bantuanmu," ucap Hang Zhi.
"Iya bos, kami akan kembali setelah membereskan urusan dengan ayah," jelas Jiho.
"Oke, kau bawa saja mobilku. Selesaikan urusan kalian, setelah ini, jaga adikmu Jiho! buat dia menjadi pria yang bertanggung jawab sepertimu," ucap Alex yang sangat senang melihat kedua pria dengan wajah serupa itu tersenyum bahagia. Ia memeluk keduanya dengan erat, bukan sebagai bos, tetapi sebagai kakak si kembar. Keduanya merasa terharu dengan segala kebaikan yang Alex lakukan.
Alex melepaskan pelukannya, Hang Zhi dan Jiho segera pergi dari markas Death, mereka pergi mengendarai mobil sang mafia untuk bertemu ayahnya serta Kyara.
Setelah si kembar pergi, Alex tersenyum-senyum mengingat ucapan sang isteri yang akan memberikannya hadiah, dia sudah tidak sabar bertemu dengan Laras. Saat sang mafia berada di dalam halusinasinya, Richi datang mengagetkannya.
"Woy!"
Suara Richi menggema di telinga sang mafia.
__ADS_1
"Sial kau Richi, kalau kau orang lain, sudah ku habisi!"
Alex terlihat kesal dengan gaya bercanda Richi yang menurutnya menyebalkan.
"Kenapa kau marah Lex? apa kau memikirkan Gao yang akan hidup lagi?" ucap Richi yang membuat Alex mengingat Chen Gao yang tidak tahu sudah benar-benar mati atau belum.
"Aku sudah memastikan Chen Gao dan semua anggota tewas, kita sudah menembak para anggota yang tersisa, aku sedang memikirkan anak dan isteriku. Mereka akan tetap di sana atau aku ajak ke luar negeri saja?" ucap sang mafia yang ingin suasana baru.
"Kau tetap di sini saja Lex, kita bisa bicarakan lagi nanti rencanamu itu," ucap sang mafia.
"Apa rencanamu setelah ini Lex?" tanya Richi penasaran.
"Menemani Laras melahirkan dan merawat anak-anak kami bersama, kalau kau?" tanya Alex yang juga penasaran dengan rencana Richi.
"Aku dan Angela akan memikirkan tentang momongan, aku juga ingin memiliki anak," jelas Richi.
"Kau pasti bisa, lebih rajin ya!? haha," goda Alex.
Kedua pria yang bersahabat itu merasa lega karena salah satu musuh bebuyutan telah di singkirkan.
Alex dan Richi berjalan bersama menuju depan markas Death Angel untuk membantu para anggota yang sedang terluka karena pertarungan yang sengit itu.
"Lex, anggota kita banyak yang terluka, semoga mereka baik-baik saja," harap sang sahabat.
"Pasti, mereka masih bisa hidup! hanya butuh beberapa hari istirahat," jelas sang mafia meyakinkan.
Richi mengingatkan kepada Alex agar menjaga kesehatan, meskipun Alex tidak merasa sakit, punggungnya harus mendapatkan perawatan intensif agar tidak infeksi.
"Iya cerewet! aku akan menjaga diriku sendiri, eh coba kau lihat! di sana ada Jeni sedang menangis karena Willy tertembak lengannya, kau bisa membayangkan tidak? jika itu aku? Laras akan panik dan sikap Laras itu akan membahayakan bayi dan sang ibu sendiri," ucap Alex yang menunjuk ke arah dua sejoli yang sedang saling mengkhawatirkan kondisi masing-masing. Mereka adalah Willy dan Jeni, pasangan kekasih yang selalu romantis.
NB :
Selamat siang pembaca setia cinta satu malam bos mafia...🔥🔥🔥🤗🤗🤗
Dua bab hari ini keren gak?
Maaf ini author lagi gak enak badan, maaf jika kehaluan author kurang maksimal tapi author tetap usahakan update tiap hari!
Love you All!
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗😍😍😍